Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant

Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant
34. Merawat Tuan Muda


__ADS_3

"Pelan-pelan, Tuan Muda."


Via memapah Rayhan untuk duduk di atas brankar. Bahkan wajahnya tidak terlihat kesakitan sedikitpun. Coba kalau Via yang ditusuk seperti itu, pasti akan pingsan berhari-hari karena shock dan trauma.


"Mobil sudah saya siapkan, Tuan Muda."


Rayhan dan Via keluar dari ruang inap. Mereka melewati lorong rumah sakit dengan banyak pasang mata memperhatikan dari kejauhan,tidak ada yang berani bersuara hingga Via dan Rayhan masuk ke dalam mobil.


"Tuan Muda, sudah benar-benar sehat, kan?" tanya Via.


Rayhan mengangguk. "Kenapa?"


Via segera menggelengkan kepalanya. "Tidak ada, takut Tuan Muda belum sehat dan nanti sakit lagi."


"Kau khawatir padaku?"


Deg


Jantung Via berdebar kencang. Kalau dia jawab iya, nanti tuan muda kegeeran, kalau dia jawab tidak. Maka dia terlihat sangat jahat.


"Khawatir, kan, suami."


"Hem."


Via menghela nafas.Dia memalingkan wajahnya,memperhatikan jalanan yang terlihat ramai di luar sana.


"Apa yang sedang kau pikirkan? Ingin kabur?"


"Tidak! Saya hanya memperhatikan orang ramai saja. Tidak berniat kabur sedikitpun. Memangnya, Tuan Muda mau saya kabur?"


"Jangan coba-coba!"


"Iya, Tuan Muda. Tapi sebenarnya saya mau bertanya sesuatu. Boleh, kan?"


"Langsung ke intinya."


Via mendengus. "Tuan Muda banyak musuh, ya?"


"Apa urusannya denganmu?"


"Soalnya pas di rumah sakit Tuan Muda bilang saya harus hati-hati, sekarang lain lagi."


"Glen! Jelaskan padanya!"


Glen yang berada di depan mereka sembari menyetir mengambil nafas pelan.


"Nyonya sebaiknya jangan terlalu bebas untuk pergi kemanapun. Situasinya tidak memungkinkan, karena Tuan Muda sekarang tengah bersaing dalam proyek besar. Pasti akan dimenangkan oleh Tuan Muda."


"Terus? Kalau mereka sudah tahu Tuan Muda yang akan menang. Kenapa memberontak hingga melukai seseorang."


"Maaf, Nyonya. Anda sudah melewati batas."


"Lapor polisi saja." Via memberikan solusi. Kan, polisi bisa berjaga-jaga, apalagi tuan muda bukan orang sembarang.


"Diamlah!" tegas Rayhan.


Via mengatupkan mulutnya dan memilih diam.


Aneh! Hanya itu yang Via sebutkan. Diserang penjahat tidak mau melapor polisi. Sama saja, kan, bunuh diri.


'Sudahlah, bukan urusan gue. Terserah!'


****


"Via!"

__ADS_1


Via segera melepaskan ponselnya dan langsung berdiri di hadapan Rayhan.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan Muda?" tanya Via.


"Kau kemana saja?"


"Bermain ponsel sebentar, Tuan Muda."


"Duduklah! Dan suapi aku makanan itu." Rayhan menunjuk makanan di atas nakas.


Via mengangguk dan segera duduk di dekat pria itu.


Dengan hati-hati, Via menyendokkan satu suap makanan ke mulut Rayhan.Pria itu memakannya dengan sangat lahap sehingga Via menelan salivanya karena, jujur dia terpesona. Wajah dengan pahatan hampir sempurna, berada di depannya dengan jarak yang sangat dekat. Jantung Via berdetak sangat kencang, membuat Rayhan menyadari itu semua.


"Ada apa denganmu?" tanya Rayhan mengangkat sebelah alisnya.


Via gelagapan dan segera menggelengkan kepalanya. "Maaf,Tuan Muda.Sa-saya masih memikirkan kejadian yang menimpa Tuan Muda."


"Kenapa?"


"Mereka sangat kejam dan tidak memiliki hati."Sebenarnya itu seperti terdengar sindiran untuk pria ini,agar sadar diri dan bertaubat.


"Kau menyindirku?" tanya Rayhan tajam, membuat Via melongo dan segera menolak tuduhan itu.


"Maaf kalau Tuan Muda tersinggung. Saya tidak bermaksud berkata seperti itu."


"Siapa pria yang kamu taksir?"


Kok, tiba-tiba membahas orang lain? Mana bertanya hal memalukan itu lagi.


"Tidak ada, Tuan Muda. Memangnya kenapa, ya?"


"Jangan mencoba dekat dengan Siapapun."


****


"Eksekusi habis semuanya!"


Via dapat mendengar, samar-samar Rayhan berkata seperti itu. Mereka akan mengeksekusi siapa? Eksekusi itu bukannya arti dari kekejaman dan kematian?


Via mendadak bergetar dan merinding mendengarnya.Dia kembali menajamkan


pendengarannya, untuk menangkap informasi.


"Apa yang Anda lakukan, Nyonya?" tanya salah satu di antara mereka yang berjaga di pintu.


Via tersentak, dan mengatur ekspresi wajahnya agar tidak dicurigai.


"Tidak ada, saya tidak sengaja melewati ruangan ini. Saya permisi!" Via segera mengambil langkah lebar, dan pergi dari sana.


Mereka memastikan Via perlahan jauh dari pandangan, dan benar-benar pergi dari sana.


Setelah melewati ruangan itu, Via bernafas lega. Kenapa mendadak rumah ini sangat menyeramkan?


Ternyata ruangan tempat Rayhan sering memerintah anak buah nya, itu terlihat sangat sunyi dan gelap.


Dia tidak sengaja meneliti ruangan itu, katanya tidak boleh didatangi oleh semua anggota keluarga.


Via bergegas menuju dapur untuk mengambil air dingin. Lantas meneguknya hingga tidak tersisa.


"Nyonya! Ada yang bisa saya bantu ?" tanya pembantu di sana.


Via memandang wanita tua itu dan menggelengkan kepalanya. "Tidak, terimakasih. Hem, hanya mengambil air dingin saja."


Pembantu itu permisi, untuk melanjutkan pekerjaan mereka.

__ADS_1


Tidak berselang lama. Semua anak buah Rayhan keluar dari ruangan itu, dan menuruni anak tangga.


Mereka melewati Via yang sekarang menatapnya penasaran.


Wajah datar dan tegas membuat Via sebenarnya ketakutan melihatnya. Namun dia harus mengambil kesimpulan, apa yang sebenarnya akan dilakukan mereka.


"Apa yang kau lihat?"


Via berbalik dan menemukan suaminya. Bukannya pria itu tadi di dalam? Sekarang sudah berada


di hadapannya.


"Tidak, ada. Hanya melihat mereka lewat."


Rayhan tiba-tiba meninggalnya membuat Via mendengus kesal. Sudah wajah tembok dan sekarang fakta baru lagi, dia sangat-sangat kejam.


****


Tampak semua anak buah Rayhan menghabisi orang-orang yang terlibat dalam penyerangan.


Mereka tidak bisa berkutik, ketika semua anak buah Rayhan menghajarnya dan memporak-porandakan markas itu.


"Kalian telah berani melawan tuan muda hingga membuatnya terluka."


"Ampuni kami!" Mereka bersujud meminta belas kasih. Melawan tuan muda sama saja membuat


kehidupan damai mereka akan berganti dengan mimpi tragis.


Mereka semuanya tersenyum licik dan tidak memperdulikan permohonan ampun dari para musuh yang berani dengan tuan muda.


"Di mana atasan kalian?!"


"Dia kabur!"


"Dasar lemah!" Anak buah Rayhan langsung mundur, dan kembali masuk ke dalam mobil untuk mengejar pria itu.


"Sekarang kita akan melakukan pengejaran. Tuan muda akan marah apabila pria itu tidak kita dapatkan malam ini."


"Kita berpencar. Hubungi mereka yang berada dua puluh kilometer dari kita."


"Baik, Bos."


Ternyata mereka tidak bisa dimanipulasi bahkan tertipu. Sebagian anak buah Rayhan menyerang markas dan berada dengan jarak lebih jauh dari


anggota lainnya.


"Mereka menelpon."


"Kami telah berhasil menangkap nya. Laporan selesai."


Mereka tersenyum licik dan kembali mengabari Rayhan, bahwa pekerjaan malam ini tuntas.


****


"Kalian tahu, apa yang akan dilakukan?"


"Baik, tuan muda."


Jantung Via berdetak sangat kencang, ketika Rayhan mendapatinya mendengar telepon mereka.


"Apa yang kau perhatikan, Via?"


Suara dingin dan tegas itu seketika menyergapnya, ke dalam pusaran ketakutan yang tidak tertandingi.


"Ti-tidak ada, Tuan Muda."

__ADS_1


__ADS_2