
Seorang wanita kini tersenyum, ketika memperhatikan foto seorang laki-laki memakai seragam SMA, terlihat sangat tampan.
"Nyonya, hari ini kita akan bertemu dengan penguasa di daerah ini. Saya telah memastikannya, bahwa kontrak kerja sama kita akan diterima."
Wanita itu mengangguk, dan menerima laporan dari asistennya itu. Sudah dua tahun, dirinya dipercaya oleh sang papa untuk memegang kendali perusahaan tersebut dan dia berhasil menjadi direktur utama perusahaan ketiga terbesar di daerah itu,dengan mengungkap banyak bawahaannya yang melakukan manipulasi dan memanfaatkan dana perusahaan.
"Terima Kasih," ucapannya kembali tersenyum.
"Sama-sama, Nyonya. Saya ingin bertanya mengenai hubungan Anda dengan pria penguasa itu? Bolehkah?"
"Dia hanya bagian dari masa lalu saya. Teman biasa."
Wanita itu menyembunyikan foto tersebut, dan kembali bekerja seperti biasanya. Sebenarnya,ia tidak sabar untuk bertemu dengannya. Namun, juga takut bahwa senmuanya telah berubah seperti dulu.
Hati dan perasaannya, tidak akan pernah ia bisa jangkau sampai kapanpun. Namun ia bertekad untuk saat ini, ingin berusaha karena telah lebih percaya diri.
Bukannya,setiap orang berhak untuk jatuh hati kepada siapapun dan berusaha untuk mendapatkan orang yang diinginkannya,berbagai macam cara yang akan dilakukannnya.
"Kembali dengan kisah yang baru."
Karena melihat nyonya yang melamun, asisten wanita itu mencoba untuk bersuara karena ingin menyampaikan informasi pribadi yang sangat penting.
"Nyonya, menurut berita yang beredar. Pria penguasa tersebut telah menikah dan sekarang,istrinya sedang mengandung."
***
"Ingin ikut ke kantor, hmm?" tanya Rayhan mengusap bahu sang istri dengan lembut.
Hari ini,istrinya tidak masuk kuliah, karena tidak ada mata kuliahnya. Via sejenak berpikir dan akhirnya menganggukkan kepalanya, namun tiba-tiba perubahaan ekspresinya begitu cepat, membuat
Rayhan menarik napas panjang. Pasti, istrinya ingin mengidam sesuatu.
"Ray! Kamu kan kaya. Hmm, kamu punya motor tidak?"
"Tidak ada! hanya mobil yang sedari dulu disediakan."
Via menekuk wajahnya, di atas meja makan. Kan, dirinya hanya ingin bertanya saja, kenapa suaminya begitu galak. Mungkin tidak sayang kepadanya. Atau
telah berpaling darinya, karena sebentar lagi kan dirinya akan besar dan gendut karena berisi.
Sebelum Via meminta sesuatu yang aneh, Rayhan segera menarik tangannya dengan lembut, namun
seperti dugaannya wanita itu merajuk dan tak ingin
memandangnya.
"Apalagi, Sayang? Mau apa, hmm? Aku cinta sama kamu dan akan selalu seperti itu."
"Buktikan dong, kalau sayang. Baru ngidam aja, kamu sudah ngeluh seperti ini. Apalagi besok,
disuruh ganti popok anak. Mungkin kamu akan mengamuk dan mencari pelarian,"
"Pelarian?" gumam Rayhan tidak mengerti. Selalu saja, istrinya dapat merangkai kata yang sulit dipahaminya seperti itu.
"Selingkuh sama yang muda."
"Apa sebenarnya maumu, Via? Sebutkan sekarang!"
__ADS_1
"Pokoknya, kalau sudah aku sebutkan. Kamu harus
mengabulkannya."
"Iya."
Semoga saja Via tidak ingin hal yang aneh-aneh dan dapat membuatnya pusing tujuh keliling, dengan permintaannya itu. "Aku ingin digonceng naik motor
matic. Jadi, kamu harus beli detik ini juga."
Ketika melihat raut wajah suaminya yang hendak menolak, Via memasang wajah yang hendak menangis dan menyiapkan ancang-ancang untuk kabur.
Namun, akhirnya Rayhan mengangguk dan mengambil ponselnya, entah untuk apa.
"Glen! Siapkan motor matic."
Via tersenyum lebar dan langsung memeluk suaminya dengan erat. Bahkan, Rayhan terkejut dengan aksi istrinya tersebut.
"Nunduk, Ray. Ada sesuatu di rambut kamu." Sambil mendongak, Via memaksanya. Membuat pria itu langsung menunduk.
Cup!
Via memberikan kecupan singkat, dan ini untuk pertama kalinya wanita itu melakukannya, tanpa
dipaksa dan Rayhan yang menyuruhnya. Sebenarnya, jantung Rayhan berdetak sangat kencang dan salah tingkah, namun ia langsung meredamnya dengan menahan diri agar wajahnya tidak memerah.
Dirinya hanya malu. Walaupun Via istrinya, namun ia juga seorang manusia yang juga memiliki perasaan begitu besar kepada pasangannya.
"Hadiah untuk suamiku, yang selalu sabar dengan istri dan calon anaknya."
***
Wanita hamil itu memeluk pinggang Rayhan dengan erat, sembari menikmati udara sejuk, dikarenakan angin kencang disebabkan naik motor.
"Kita tidak ditilang?" tanya Via ketika melihat polisi berada di depan mereka.
"Tidak. Pegangan dengan erat, nanti kamu jatuh."
Dikira dirinya anak kecil, Via mendegus dan semakin erat memeluk suaminya itu. Tubuh suaminya berotot dan kokoh.
Mungkin karena itu, polisi tidak menangkapnya. Tapi, tidak adil kalau seperti itu.
"Ray!" Wanita itu kembali memanggil dengan suara keras.
"Kenapa, Sayang? Sebentar lagi sampai."
Via menggelengkan kepalanya. Hari ini ia sangat bahagia karena apapun keinginanannya selalu dikabulkan oleh suaminya. Wanita itu menghela napas pelan. Perlahan hidupnya berubah,
kebahagiaan selalu menghampirinya. Apakah inilah
jawaban doanya yang dulu sejak kecil, ingin bahagia.
Via mendongak dan menatap langit yang disinari matahari pagi.
"Ma! Sekarang Via bahagia. Mama, jangan khawatir ya? Di atas sana. Putri mama, telah menemukan
pangerannya."
__ADS_1
"Besok kita ziarah ke makam mama, ya, Ray?" ujar Via menengok ke arah suaminya.
Rayhan mengusap tangan Via yang berada di perutnya, dan menganggukan kepalanya. la juga
ingin, bertemu dengan almarhumah mama dari istri
kecilnya ini.
***
"Silahkan, duduk Bu Salsa."
Glen mempersilahkan wanita itu untuk duduk di sofa, bersama dengan asistennya. Salsa tersenyum ramah, dan memperhatikan ruangan tersebut.
Tertata rapi dan Juga aroma pengharum ruangan yang khas. Salsa tahu, pria bernama Glen tersebut jarang sekali berbicara, hingga ia tidak terlalu banyak bertanya dan lebih baik menunggu dengan sabar. Waktunya juga banyak untuk hari ini.
Ceklek!
"Tuan muda Rayhan telah datang," ucap Glen datar dan mereka semua berdiri, lantas memberikan sebuah penghormatan.
"Selamat pagi, Tuan Muda."
Mereka berdua menyapa, yang hanya dibalas tatapan datar oleh Rayhan. Pria itu merapikan jasnya, dan segera mengambil langkah panjang menuju ke kursi kebesarannya.
Salsa menarik napas panjang dan segera mendekat, namun ketika dirinya hendak duduk. Suara seorang wanita, membuat atensi mereka semua beralih menatap ke arah belakang.
"Ray! Aku sudah selesai," ucap Via tersenyum manis dan masuk ke dalam ruangan suaminya. Tadi, dirinya mengobrol dengan para karyawan baik dan jujur di bawah, dan menyuruh suaminya untuk sendirian ke atas.
Via menunduk, ketika melihat dua wanita dengan pakaian sopan sedang bertamu. Via akan menghormati seseorang, kalau niat mereka baik dan pakainnya rapi. "Maaf kalau saya menganggu.
Tidak apa-apa, kan?"
"Tidak apa-apa, Nyonya. Perkenalkan, Nyonya Muda Via, istri dari Tuan Muda Rayhan."
Tatapan Salsa berubah, ketika mendegar hal tersebut. Diabmengatur napasnya dan menjabat tangan Via, yang dibalas ramah oleh wanita hamil itu.
"Perkenalkan nama saya Salsa, rekan kerja Tuan Muda. Saya menggantikan papa saya, untuk tahun ini bekerja sama dengan Tuan Muda."
Via meneliti penampilan Salsa, body nya bagus, apalagi wangi dan juga kulitnya lembut. Wanita
berpendidikan dan juga hebat. Seperti itulah, contoh impian Via sebenarnya. Ingin menjadi wanita karir. Namun, akan sangat mustahil terjadi karena suaminya sudah kaya sejak lahir. Jadi, uangnya banyak.
"Anda sangat cantik, Ibu Salsa."
"Terima kasih, Nyonya Muda. Anda, juga sangat cantik."
Rayhan menghela napas pelan mendegar hal tersebut, "Kamu lebih cantik, Sayang. Kemarilah!"
Via memandang suaminya dan segera berjalan ke arah Rayhan.
Wanita itu duduk di dekat sang suami, hingga tidak sadar tatapan Salsa kini tertuju kepadanya.
Rayhan menatap Salsa sekilas dan kini mulai membuka suaranya.
"Jelaskan!" perintah pria itu dengan tegas, membuat Salsa mengangguk dan juga gugup.
'Kamu tidak pernah berubah, Rayhan,' batin wanita itu tersenyum dan menjelaskan proyeknya dengan sangat lancar dan cerdas di hadapan pria itu.
__ADS_1