Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant

Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant
23. Keanehan Tuan Muda


__ADS_3

Via menghela napas pelan ketika melihat kalung dengan bandul matahari, bulan dan bintang di tangannya.


Raja sudah benar-benar pergi meninggalkan mereka. Dan ini semuanya karena ulah pria kejam itu. Via meraba hidungnya yang masih terasa nyeri. Tidak hanya batin dia juga menyiksa fisik Via, sengaja maupun tidak disengaja.


Ceklek!


Via segera menyembunyikannya, ketika dia telah datang. Via bersikap seperti biasanya.


"Persiapkan dirimu, besok malam."


"Kenapa?" tanya Via bingung.


"Memangnya persiapan untuk apa?"


"Acara perusahaan. Mewakili kedua orang tuaku."


"Tapi.." Via hendak menolak, namun itu pasti akan sia-sia. Viaa mengangguk patuh.


"Keluarlah! Desainer Mom, akan memilihkan gaun untuk mu."


"Baik, Tuan Muda. Hem, boleh saya bertanya?"


Apa yang ingin kau tanyakan?"


"Kedua orang tua Tuan Muda, kenapa tidak pernah pulang?"


"Mereka menghabis masa tua bersama di luar negeri, hingga melupakan putranya."


Via tahu, dia telah melakukan sebuah kesalahan. Dengan melontarkan pertanyaan yang membuat tuan muda tertekan.


"Maafkan, saya. "


"Keluar sekarang!"


Rayhan keluar dengan diikuti oleh Via yang berada di belakangnya. "Jangan berada di belakangku."


Via terperangah dan tersentak, kala Rayhan menariknya sejajar dengan pria itu.


Mereka menuruni anak tangga bersama. Banyak orang yang memperhatikan mereka dengan wajah kagum, karena akhirnya mereka bisa bertemu langsung dengan istri dari tuan muda Rayhan Crowel.


"Ternyata istri tuan muda sangat cantik dan juga muda."


"Dia sepertinya gadis yang baik. Lihatlah! Penampilannya sangat sederhana."


"Sangat cocok dengan tuan muda."


"Silahkan! Melakukan tugas kalian!" perintah Rayhan. Mereka mengangguk gugup.


"Mari, Nyonya." Dua desainer kepercayaan mamanya, menarik tangan Via sangat lembut.


"Terakhir dari saya. Hati-hati ketika memasangkan gaun, istri saya masih lemas karena kemarin baru pulang dari rumah sakit."


Mereka berdua mengangguk.


Berbeda dengan Via yang merasa hatinya menghangat mendengarnya. Rayhan sangat perhatian kepadanya. Rayhan duduk di sofa bersama dengan Glen yang sekarang berdiri di hadapannya.


"Tuan Muda, saya sudah mengindentifikasi semuanya. Dan memang benar, dia gadis kecil


yang Tuan Muda cari selama ini."


Rayhan langsung mengambil berkas-berkas yang Glen sodorkan. Jantungnya berdetak sangat kencang, dengan keringat dingin di pelipisnya.


Dia telah bersalah selama ini. Rayhan mengusap kepalanya sangat kasar.


"Glen! Apakah aku keterlaluan Selama ini?"


Glen tidak bisa menjelaskan semuanya. Bagaimana sikap tuan muda kepada gadis itu.


"Tuan Muda!" panggil dua desainer yang sekarang


mengandeng Via dengan polesan tipis senada dengan gaun yang di gunakannya.


Rayhan berdiri dan memandangi wajah Via dengan tatapan sangat dalam dan juga sendu. Membuat Via merasa aneh dengan sikap Rayhan.


Mungkin gue ngak pantes, ya? batin Via bergumam.


Via menunduk karena malu.


Namun Rayhan melangkah ke arahnya, dan menyuruh dua wanita itu mundur. Rayhan menyentuh dagu Via dan menyentuhnya untuk menegakkan kepalanya.


"Nanti mahkotamu jatuh."


"Tuan Muda."


"Kau sangat cantik!"


Deg! Jantung Via berdebar sangat kencang. Dia tidak boleh terperangkap! Via mengulas senyumannya. Dia harus segera menutup hati, agar Rayhan tidak masuk ke dalamnya.


"Ter-terima kasih, Tuan Muda."


"Hem. Kau masih tidak enak badan?"


Via segera menggelengkan kepalanya. "Tidak! Saya sudah sembuh total."


Rayhan tiba-tiba menyentuh kening Via yang masih terasa hangat. Membuatnya menghela nafas kasar.


"Sudah menemukan pilihan?"


"Sudah. Yang sedang saya pakai."


Rayhan mundur perlahan dan melihat ujung high heels yang Via kenakan, naik hingga terlihat dress yang sangat indah terpasang di tubuh ideal Via yang mungil.

__ADS_1


"Saya akan membayar 10 kali lipat." Rayhan memandang dua desainer itu. Yang sekarang terperangah mendengarnya.


"Terima kasih, Tuan Muda."


***


"Via!" panggil Rayhan ketika gadis itu hendak memejamkan matanya. Via tidur di samping Rayhan


seperti biasanya. Namun dengan sedikit jarak.


"Sini!"


"Kemana?" tanya Via.


Dengan gerakan tidak terduga. Via tersentak ketika telah berada di dekapan pria itu. Via mendongak dan menatap Rayhan yang kini menghirup aroma sampo yang ia kenakan.


"Tuan Muda!"


"Kau sangat harum."


"Tuan Muda aneh."


"Kau sudah siap?"


"Ah? Siap kenapa?"


"Melakukannya. Memenuhi kewajiban sebagai seorang istri."


Via memberontak, namun dia masih lemas dan tidak memiliki tenaga untuk melepaskan diri.


"Jangan memberontak, Via. Kau membangkitkan sesuatu pada diriku."


"Tapi, saya takut Tuan Muda jahat ke saya."


"Kapan aku jahat kepadamu, Via?"


Contoh manusia tidak berkaca dengan masa lalu. Padahal selama menikah, Via banyak di sakiti oleh pria ini.


Rayhan dengan raut wajah yang selalu datar dan dingin. Tampak tidak merasa bersalah dan mengakuinya.


"Boleh aku menciummu?"


"Tidak!" Refleks Via berteriak dan menolak dengan menggeleng kepalanya ke kiri dan ke kanan.


"Dosa menolak suami."


Tanpa ada bantahan kembali. Rayhan benar-benar menempel kan benda kenyal itu di atas bibirnya. Jantung Via berdetak sangat kencang. Rayhan hanya mengecupnya dan kembali melepaskannya.


"Tidurlah!"


"Ya."


"Maaf!" gumam Rayhan tampak menyesal. Melihat wajah damai Via yang sudah tertidur pulas.


***


"Via!" Rayhan memanggilnya ketika hendak duduk di dapur seperti biasanya. Rayhan melarangnya makan di meja makan bersamanya.


Via yang lapar, mendegus kesal dan berbalik menatap Rayhan.


"Iya, Tuan Muda."


"Kemarilah!"


Via berjalan dan menghampiri Rayhan yang kini duduk sendirian di meja makan dengan banyak


hidangan yang telah disediakan.


Sebenarnya Via menelan saliva nya ketika melihat semua makanan kesukaannya berada di sana.


"Mulai hari ini. Kau akan makan bersamaku di meja makan."


Via terperangah mendengarnya. Via terkekeh dalam hati. Mungkin tuan muda tengah sakit.


"Saya sudah nyaman makan di dapur, Tuan Muda."


"Jangan menentang perkataanku, Via!"


Via mengangguk kaku dan tidak bisa bersuara untuk melontarkan penolakan.


"Duduklah!"


Via menganggukkan kepalanya. Dia menggeser kursi di samping Rayhan dan duduk dengan gugup.


Ketika Rayhan hendak diambilkan lauk oleh pembantu. Via segera bersuara.


"Biarkan saya yang melakukannya!"


Via tidak melupakan ajaran tata krama yang Glen jelaskan, selama dia sekolah tengah malam. Harus


melayani suami dengan baik.


Mereka mengangguk dan mundur. Membiarkan Via mengurus suaminya.


"Tuan Muda, sukanya apa?"


"Ayam panggang"


Via mengangguk dan mengerakkan pisau untuk memotong sebagian daging ayam dan menaruhnya di samping piring Rayhan.


Tidak hanya itu, Via memberikan sayur-sayuran sebagai pelengkapnya. Membuat Rayhan mengangkat sebelah alisnya.

__ADS_1


"Biar Tuan Muda sehat."


Rayhan mengangguk dan mulai memakannya. Entah mengapa, rasa itu kembali muncul tiba-tiba.


Perasaan terlarang, yang harus Via singkirkan.


'Sadar Via. Ini hanya untuk sementara waktu,' batin Via tersenyum getir.


Hanya bunyi dentingan sendok dan piring yang terdengar. Mereka memakan makanan dengan hikmat. Tidak ada yang bersuara kembali, seperti peraturan dalam keluarga Crowel.


"Via!" Rayhan memanggilnya dan bangkit. Dia sudah menyelesaikan sarapannya.


Via segera menyudahi sarapannya. Dan mengantarkan Rayhan menuju pintu utama. Dia


memperhatikan Glen yang sudah menyiapkan mobil yang akan digunakan hari ini. Glen berdiri di samping mobil siap membuka pintu untuk Rayhan.


"Jaga dirimu baik-baik. Nanti malam kita akan menghadiri pesta."


"Baik, Tuan Muda."


Cup!


Via merasakan benda kenyal itu mengecup keningnya. Membuat Via tersentak dan gugup. Hingga Rayhan melepaskannya.


"Aku pergi."


Rayhan masuk ke dalam mobil. Via memperhatikan nya lama, hingga Glen menutup pintu mobil.


Glen memandangnya dengan ekspresi hangat, tidak seperti biasanya. Membuat Via benar-benar merasa aneh dengan mereka.


Setelah kepergian Rayhan. Via menggigit telunjuknya, karena semua ini tidak sesuai dengan


rencananya sedari awal.


"Kenapa jadi seperti ini?" gumam Via mendongak dan merasa frustasi. "Gue gak bisa membohongi perasaan ini."


***


"Tuan Muda, Nyonya Nacita memaksa masuk dan mengancamn saya." Sang Manajer melapor kepada Rayhan dan Glen yang sekarang setia di sisi tuan muda nya.


"Ada apa dengan mereka? Saya adalah satu satu pemilik saham di perusahaan ini, walaupun hanya sekian persen."


Rayhan tidak mempedulikan ocehan dari Nacita. Dia kembali berkutat dengan pekerjaannya.


Memang Nacita sekarang telah memiliki saham, entah dia mendapatkannya dari mana. Glen tengah menyelidiki wanita itu.


"Tuan Muda, nanti malam akan ada pesta besar perusahaan tetangga. Apakah Anda bersedia bersanding dengan saya?"


Glen berdecih mendengarnya. Wanita murahan memang seperti wanita ini. Tidak memiliki urat malu.


"Saya telah memiliki seorang istri."


"Tapi, Tuan Muda. Anda tidak merasa malu degan penampilan istri Anda yang serba kurang."


"Kau belum melihat istri, Tuan Muda. Jadi jangan pandai menilai."


Nacita mendegus ketika mendengar penuturan dari Glen.


"Sebaiknya Anda jangan ikut berbicara."


"Pasti istri Tuan Muda tepos dan juga jelek."


Rayhan berhenti sejenak berkutat dengan laptop nya. Dia bangkit dan menggeser kursi mendekati Nacita.


Wanita itu tersenyum. Pasti tuan muda akan memilihnya. Tatapannya sangat dalam.


"Kau sangat percaya diri, bersanding dengan saya?"


"Iya, Tuan Muda." Nacita seorang model terkenal dan juga banyak prestasinya. Jadi sangat cocok dengan tuan muda.


Glen tersenyum miring. Ketika Rayhan telah mengeluarkan sisi iblisnya dan sekarang mencekik


Nacita hingga wanita itu meronta karena kesulitan bernafas.


"Jangan samakan wanita rendahan seperti mu dengan istriku!!"


Rayhan tidak suka orang lain menjelekkan Via di hadapannya. Orang itu pantas mendapatkan hukuman dari nya.


"Uhuk! Tuan Muda, lepaskan saya! Saya akan mati kalau seperti ini."


"Itu tujuanku!" Rayhan tersenyum miring, membuat jantung Nacita berdetak sangat kencang Sepertinya yang dikatakan semua orang benar. Dia iblis yang


menyamar, sebagai manusia yang diagungkan.


Tubuh Nacita terkapar tidak berdaya, ketika Rayhan


mendorongnya sangat kasar. Nacita menangis meminta ampunan karena sangat takut.


"Hiks, saya minta maaf, Tuan Muda. Say-saya mengaku salah. Jangan menghukum saya kembali." Nacita memelas dengan menangkup kedua tangannya menengadah di bawah kaki Rayhan.


"Glen! Kau tahu, tugasmu bagaimana?"


Glen segera mengangguk. Membuat Nacita menangis sejadi-jadinya. Dia telah masuk ke dalam kandang singa. Dan sebentar lagi karirnya akan porak-poranda.


"Sayang sekali, ternyata model yang mereka bangga-banggakan, adalah seorang ...." Rayhan


menggantung ucapannya karena ia tidak mau menyebut wanita rendahan itu, karena wanita itu


patut di injak-injak.


"Pelakor dan perusak rumah tangga orang lain. Telah berkencan dengan lebih dari sepuluh pejabat. Murahan!"

__ADS_1


__ADS_2