
Pagi menjelang. Sepasang suami istri itu telah mempersiapkan diri, untuk berangkat ke desa.
"Loh, kalian mau kemana ini?" tanya Paula mengernyitkan dahinya bingung, ketika melihat
mereka menuruni anak tangga, dengan dibantu oleh supir untuk mengangkat koper.
"Kami ingin ke desa tempat Via waktu itu, Ma. Boleh, kan?"
"Ingin kembali memanipulasi kami?" tanya Alfred dengan intonasi rendah namun mengintimidasi, membuat Via menunduk tak berani bersuara.
"Tidak, Pa. Kami akan sekalian berlibur ke sana. Rayhan akan mengabarkan kabar baik setelah ini."
"Baiklah, Papa tunggu kabar baik dari kamu, Rayhan."
Rayhan mengangguk, dia menggenggam erat tangan Via dan segera keluar dari rumah itu,setelah berpamitan dengan Paula dan Alfred.
"Kamu sudah siap, Sayang?" tanya Rayhan mengusap kepala Via dengan begitu lembut. Wanita itu mengulas senyum dan mengangguk. "Siap, dong. Oh ya, siapa yang akan menyetir?" tanya Via penasaran, karena jarak ke desa itu memakan waktu sehari.
"Glen! Dia sudah biasa tak tidur untuk semalaman."
"Baiklah."
Mereka masuk ke dalam mobil. Koper telah siap di dalam bagasi, begitupun dengan Glen yang sekarang menjadi sopir lantas menghidupkan mesin mobil.
"Kau sudah memerintahkan mereka semuanya, Glen?"
Glen sembari menjalankan mobil keluar dari gerbang menjawab pertanyaan atasan nya itu. "Sekitar sepuluh anak buah Tuan Muda, akan berjaga di belakang mobil kita."
Via tampak linglung mendengarnya.
Yang benar saja, suaminya mengerahkan sepuluh anak buah untuk berjaga dan ikut ke desa.
"Besok, mereka tidur di mana, Ray? Pasti gak mungkin satu rumah sama kita."
"Mereka tidak akan tidur, dan akan tetap berjaga di luar, Sayang."
"Jahat banget. Di luar rumah nenek kandang sapi, mana betah mereka di sana."
"Jangan pikirkan semua itu, Sayang."
"Baiklah." Via menyerahkan semuanya ke Rayhan, pasti akan sangat mudah dia handle karena itu masalah kecil baginya.
"Aku sudah menyiapkan semuanya untuk mu, Sayang."
"Apa itu?" tanya Via penasaran.
Rayhan mengambil kresek putih lumayan besar dari sofa mobil depan, dengan bantuan Glen yang perlahan merendahkan laju kendaraan.
"Isinya apa aja ini? Banyak banget, Ray. Kamu suruh Glen membelinya?"
"Iya, Sayang. Semuanya makanan untuk kamu. Beberapa cemilan dan minuman. "
"Baik dan pengertian banget kamu,Sayan
"Apapun itu untuk kamu, Sayang."
Dan Glen yang berada di situasi tersebut, hanya sebagai obat nyamuk dan terlihat sangat menyedihkan.
Via mengembangkan senyum lebar, lantas mengambil beberapa cemilan dan susu kotak dalam
kresek.
Drtt! Drtt!
Merasakan tas nya bergetar berada di sampingnya. Via melepaskan makanannya, dan mengambil
ponselnya secepat mungkin.
"Gimana? Lo sudah sampai?" tanya Mira. Gadis itu menelpon karena dia telah berada di sana.
"Lagi dalam perjalanan ini. Cepet banget lo sampai. Oh ya, gue ada kabar gembira."
"Apa itu?"
Via menghela nafas pelan dan mengambil gambar Glen yang sedang menyetir, lantas mengirimkan nya ke Mira. Rayhan tak melarang Via melakukannya. Karena dia mulai sibuk dengan ponselnya juga.
"Siapa itu? Lo aneh banget kirimin gue gambar pria asing."
"Itu supir, Mira. Gak peka banget jadi sahabat."
"Lah, kok lo kirimin gue gambar sopir, sih? Gak ada facdah nya."
"Astaga! Itu punggung Glen,Mira."
Sontak terdengar ponsel Mira di seberang sana mendadak ribut. Mungkin gadis itu menjatuhkannya di kasur karena terkejut.
"Kok, lo ajak dia, Vi."
"Suami gue yang memerintahkan dia untuk ikut. Jadi, lo harus siap-siap untuk ketemu."
"Via!" Mira berteriak nyaring, setelah itu Via memutuskan panggilan sepihak dan terkekeh geli membayangkan sahabatnya bertemu dengan Glen.
"Hem."
Via segera merubah raut wajahnya dan berhadapan dengan suaminya.
"Maaf! Aku kelepasan!"
"Terakhir!"
"Baiklah." Via menghela nafas pelan. Dalam buku tata krama. Seorang nyonya, harus bersikap elegant, tidak cekikikan seperti tadi.
"Maaf, Ray."
"Jangan mengulang kesalahan yang sama, apabila bersikap seperti itu di depan mama dan papa."
Via menghela nafas pelan lantas mengangguk. Dia juga tak berani bersuara dan tertawa keras di
hadapan mertuanya. Apalagi papa Alfred.
Dor!
Via tersentak dan menutup kedua pendengaran nya. Rayhan mengeram dan memeluk istrinya dengan sangat erat.
"Sepertinya ada hama yang ingin bermain-main dengan kita, Tuan Muda."
"Lanjutkan mobil dengan kecepatan penuh, Glen. Siapkan sistem keamanan dan anti peluru."
Glen mengangguk dan telah menekan tombol keamanan mobil canggih itu. Mereka sudah memprediksi semua ini akan terjadi, apabila para hama itu mengetahui ada kesempatan untuk
menghancurkan tuan muda.
"Kenapa, Ray?" lirih Via ketakutan dan mengeratkan pelukan nya, kepada suaminya.
"Tenang, Sayang. Jangan mengkhawatirkan itu semua. Sekarang, kamu tidur dan pejamkan matamu."
Bagaimana bisa, Rayhan menyuruh nya tertidur, di saat mereka sekarang sedang dalam pengejaran para orang-orang asing di luar sana.
"Kamu mendengarku, Via?"
"Iya, Ray. Ak-aku akan memejamkan mata."
Rayhan mengusap kepala Via dengan sangat lembut. Di luar mobil, semua anak buah nya menghajar para hama yang hendak menghambat jalan mereka.
__ADS_1
"Bagaimana, Glen?"
"Sepertinya, keadaan belum aman,
Tuan Muda."
Rayhan menghembuskan nafas kasar. Dia menunduk rendah dan menemukan istrinya sudah
terlelap di pelukannya.
Titt!!
Rem mendadak dilakukan oleh Glen, karena mobil mewah berada di depan mobil mereka.
"Mereka mengepung, Tuan Muda."
"Kita lawan mereka sekarang!" tegas Rayhan dengan tatapan menggelap, dan ingin memusnahkan mereka.
"Bagaimana dengan, Nyonya Muda?" tanya Glen tampak was-was. Bisa saja mereka mengincar nyonya muda, untuk mengancam tuan muda.
"Dia akan baik-baik di sini."
Rayhan perlahan memindahkan Via dari pelukannya dan menyandarkan punggung sang istri dengan nyaman.
"Aku keluar dulu, Sayang."
Rayhan mengecup kening Via sekilas, lantas menyusul Glen keluar dari mobil itu.
Di luar mobil, para musuh langsung menyerang dengan seringai yang mereka yakin, ada sesuatu yang telah direncanakan.
Rayhan dan Glen dengan mudah menahan segala serangan mereka. Bahkan pria yang dikatakan tuan
muda itu, telah membuat lima orang dari mereka lumpuh total tak bisa berkutik.
Ketika yang lainnya hendak menghampiri mobil Rayhan. Pria itu langsung berbalik dan menyerang mereka. Dengan kesempatan itu, salah satu dari
mereka hampir menusuk Rayhan, kalau saja Glen tidak segera menendang tubuh hama itu.
"Hati-hati, Tuan Muda. Mereka memakai senjata."
Rayhan berdecak dan langsung menghabisi mereka semuanya, dengan sangat mudah.
Dor!!
Hampir saja peluru itu, mengenai punggung Rayhan. Namun tuan muda langsung menunduk dan berbalik. Menghunus tatapan tajam nya seperti elang mendeteksi keberadaan mereka.
"Kita pergi, Glen!"
"Baik, Tuan Muda."
Mereka kembali masuk ke dalam mobil dan melajukannya dengan kecepatan sangat penuh.
Meninggalkan hama-hama itu tergeletak di tengah jalan. Dan di ambil oleh pesuruhnya.
"Bagaimana dengan keadaan mereka?"
"Anak buah semuanya selamat, Tuan Muda. Mereka berhasil melawan mereka. Namun sebenarnya, siapa yang melakukan ini, Tuan Muda?"
"Mafia!"
Tubuh Glen menegang mendengarnya. Berurusan dengan mereka akan sangat bahaya.
***
"Sayang, hei!" Hembusan nafas terdengar dari Rayhan. Membangunkan sang istri.
"Eugh!" Via menggerakkan kelopak mata nya berulang kali dan menatap suaminya yang kini
"Sudah sampai?" tanya Via.
"Belum. Kita istirahat sejenak."
"Orang-orang itu dimana, Ray?" tanya Via berbalik dan memperhatikan sekelilingnya, menelisik ke luar mobil lewat kaca yang perlahan diturunkan.
"Mereka telah pergi." Nada rendah nan datar itu membuat Via tersadar dan memutuskan pandangan nya ke arah luar, lantas kembali memandangi suaminya.
"Tapi, kamu gak apa-apa, kan?" tanyanya khawatir.
"Tidak, Sayang."
Via dapat menghirup nafas lega dan perlahan menangkup wajah tampan suaminya, dengan kedua
tangan mungil nya. Rayhan dapat merasakan sentuhan itu, hingga dia memejamkan matanya karena mendapatkan ketenangan.
"Kenapa mereka mengejar kita,Ray? Apa kamu ada masalah dengan mereka?" Via melepaskan tangannya dan kembali bertanya.
"Hanya hama. Tidak penting untuk dipikirkan."
Mungkin saja, itu adalah salah satu musuh suaminya dalam dunia bisnis. Via menghela nafas pelan, ada-ada saja yang sekarang membuat mood wanita itu berubah.
Dia tampak tak bersemangat lagi menghabiskan cemilan dalam kresek besar itu, karena tidak bernafsu kembali.
"Kenapa, Sayang? Apa yang kamu pikirkan?"
"Hanya takut saja kalau mereka kembali dan menyerang kita. Apalagi membawa senjata tajam
atau bisa jadi senjata api."
"Kita akan segera sampai ke desa. Jangan menampilkan ekspresi seperti itu, Via. Atau kita akan putar balik."
"Baiklah."
Mesin mobil kembali dinyalakan. Mereka melanjutkan perjalanan menuju ke desa itu.
***
Tok! Tok!
Via mengetuk pintu dengan senyum sumringah karena dia melihat sapi-sapi nya dalan keadaan sehat, dan juga motornya berada samping rumah, sepertinya baru selesai dipakai. Namun, wanita itu tidak mempermasalahkan nya karena itu bisa berguna untuk nenek.
"Bentar!" sahutan terdengar dari dalam. Ketika nenek Imah membuka pintu, berapa terkejutnya dia
melihat keberadaan Via telah berada di sana dengan seorang pria Mereka berpelukan melepaskan rindu yang telah beberapa hari tertahan, sejak Via kembali ke kota.
"Masuk! Masuk!" Mereka mengangguk. Rayhan dan
Glen melangkah masuk ke dalam rumah yang mereka bilang kecil itu, tidak sebanding dengan rumah di kota. Terlihat sederhana, namun juga bersih dan nyaman.
"Perkenalkan, ini suami saya, Nek. Rayhan!"
"Salam kenal Tuan Rayhan."
Rayhan hanya membalas dengan anggukan tanpa tersenyum, membuat Via menghela nafas kasar. Tetap saja dingin dan datar, kalau berhadapan dengan orang lain walaupun orang tua.
"Kalau yang di dekat suami Via, namanya Glen, sekertaris suami Via."
"Nenek Imah."
Mereka sama saja, hanya menggerakkan kepala sedikit rendah dengan wajah yang datar.
Namun sebenarnya mereka terlihat berwibawa.
"Astaga, Via! Lo sudah sampai?" tanya Mira langsung mendekati mereka, dan memeluk sahabatnya dengan sangat erat. Rayhan menggeser dirinya, dengan menatap tajam Mira yang berani
__ADS_1
sekali mengganggu mereka.
"Gue baru sampai. Lihat! Di Belakang lo."
Mira mengernyitkan dahinya bingung dan berbalik. Dia kembali tersentak dan memutar kepalanya menghadap Via, karena menemukan Glen di sana sedang menatapnya tanpa beban.
"Tuan Muda, pinjam istrinya sebentar."
Mira menarik Via menuju kamar yang ditempati Mira untuk beberapa hari. Lantas mengunci pintu dengan sangat rapat.
"Kok, lo beneran ajak dia, sih?"
"Perintah dari suami gue."
"Gimana dong? Gue mau menjauh dari dia. Tapi kenapa takdir seolah-olah menginginkan kita ketemu di tempat ini lagi."
"Bukannya lo suka sama Glen?"
"Sebenarnya gue berencana untuk menjauh dari dia. Gue ingin memiliki pasangan yang sederhana saja. Gak wow seperti Glen."
"Kenapa?" tanya Via penasaran. Sahabatnya ini sangat aneh.
"Gue takut sama dia. Serem tau. Gak kebayang kalau gue menjadi istrinya nanti. Pasti dia gak akan peka sama kemauan gue dan lainnya."
"Buang segala pikiran buruk lo itu. Contohnya suami gue romantis banget. Gak seperti yang lo bayangkan."
"Tapi.."
"Sudah! Jangan menilai seseorang dengan sangat pendck, Mir. Ayo kita keluar."
Akhirnya Mira mengangguk, dan ikut keluar dari kamar itu bersama dengan Via. Dia luar sana, kedua pria itu tampak berbincang dengan nenek untuk pembangunan peternakan di desa itu.
Dapat juga membuka lapangan pekerjaan yang memadai nantinya.
"Nenek setuju dengan tawaran kami?" tanya Glen mengambil alih.
"Menurut Nenek, itu adalah ide yang bagus. Jadi, Nenek setuju saja. Nanti akan Nenek kasih tahu Andi, untuk mengurusnya."
"Baiklah, terima kasih karena telah menyetujui rencana kami."
"Sama-sama."
Via yang mendengar itu semuanya, merasa tersentuh dengan suaminya. Ternyata percakapan
mereka kemarin tidak hanya candaan namun sungguhan.
"Gue sama Nenek udah siapin lo kamar Via. Di sebelah sana!"
Mereka akhirnya beranjak ke kamar itu, karena harus istirahat untuk acara besok pagi. Begitupun
nenek yang juga kembali ke dapur untuk memasak.
Ketika mereka telah tiada, Mira bernafas lega dan ingin masuk ke kamarnya, namun Glen memanggilnya membuat tubuhnya meremang.
"Mira! Kita harus bicara. Saya mohon! Jangan lari dari semua ini."
"Apa yang harus kita bicarakan?"tanya Mira menatap Glen dengan wajah datar dan tak bersahabat.
"Jangan di sini."
Mira sebenarnya ingin menolak. Namun dia mengingat perkataan Via barusan, agar tak menilai
seseorang dengan mudah.
"Ayo!"
Gadis itu mengangguk dan mengikuti langkah Glen keluar dari rumah itu.
"Ada apa sebenarnya denganmu, Mira? Kamu menjauh dariku?"
"Kita tidak cocok. Jadi, jangan banyak berharap dengan semua lni."
Glen menatap Mira dengan lekat. Pria itu tahu, tidak akan mudah menaklukan hati seorang gadis.
Jadi, dia tidak akan pernah menyerah.
"Aku akan berusaha, Mira."
"Usaha apa? Dengan berkeliling setiap hari di depan gerbang rumahku? Itu maksudnya usaha?" Terus, kamu ingin aku langsung menikahimu? Agar kita hidup bersama? Kamu setuju, kan?"
Mira mendengus kesal. Benar dugaannya, pria ini tidak akan pernah peka keinginan seorang gadis sepertinya.
"Terserah."
"Mira! Tolong jelaskan kepadaku. Apa keinginanmu, aku tak bisa membaca pikiranmu itu."
"Tidak ada. Aku ingin kembali ke dalam."
"Baiklah. Aku akan berusaha sendiri untuk memahami keinginan mu, Mira."
***
Plak!
Plak!
Berulang kali Via menepuk lengan berotot suaminya, yang kini digigit nyamuk.
"Sakit gak?" tanya Via melihat ekspresi wajah suaminya, yang bahkan tak bereaksi apapun Tidak! Cuci tanganmu setelah ini,
"Sayang."
"Iya, iya, tapi kok dari tadi nyamuk suka banget nempel di lengan kamu, Sayang. Yang ada otot nya
itu."
"Coba tanyakan ke nyamuk nya.
"Kan, sudah mati tadi aku tampar. Kasihan, ya? Padahal bisa saja dia seorang ibu yang mencari
nafkah untuk anak-anaknya."
"Sumbangkan darahmu untuknya. Kalau kamu kasihan."
"Tidak mau, gatal kalau di gigit."
"Sudah! Sekarang kita tidur."
Rayhan meraih sesuatu di samping mereka, botol kecil yang berisi cairan untuk di oles ke tubuh.
Pria itu mengusap tangan dan kaki Via dengan lembut, bergantian dengan nya setelah itu.
Tidak hanya itu, Rayhan menyemprotkan cairan pembunuh hama membuat Via terperangah dengan suaminya itu. Rayhan telah menyiapkan itu semuanya? Kapan?
"Wangi banget!" Via bergumam pelan dan menghirup aroma bunga Lily.
Mereka akhirnya berbaring bersama dengan selimut yang berada di tubuh pasangan suami istri itu. Via memejamkan matanya dan perlahan terlelap, karena merasa nyaman berada di pelukan
suaminya.
Rayhan menghela nafas pelan ketika menengok istrinya telah tertidur, dengan sangat pulas.
"Aku sayang kamu, Peri Kecil."
__ADS_1