Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant

Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant
16. Misteri Peri Kecil


__ADS_3

Akhirnya! Via telah menyelesaikan transaksi dan sekarang semua tabungan yang diwarisi untuk nya


telah dipindahkan ke rekeningnya.


"Sekarang tinggal membantu tuan muda mencari peri kecil itu. Setelah nya, gue bisa bebas." Via berjalan keluar dari area Bank. Dia segera menyetop taksi untuk menyusul keberadaan suaminya.


"Gue cek GPS, aja." Via memainkan ponselnya dan


menyuruh supir taksi untuk mengikuti arah instruksi nya.


Beberapa menit telah berlalu. Via telah sampai di tempat tujuannya. Namun ia memilih tidak turun dan memperhatikan area sekitarnya.


Via menunduk kala dua pria itu memperhatikan taksi yang ditumpangi. Syukur mereka tidak curiga dan memergokinya. Via bernafas lega dan kembali


menegakkan tubuhnya.


Di luar taksi. Rayhan dan Glen tengah mengobrol dengan seseorang yang berdiri sekarang di depan pintu rumahnya.


"Apakah Anda mengenal gadis kecil di foto ini?" tanya Glen menunjukkan gambar seorang gadis kecil yang tengah berpose bebas.


"Gadis kecil ini, namanya Anna, ya?" tanya wanita paruh baya itu.


"Anna," balas Rayhan. Glen terdiam.


"Saya tidak mengetahui kabar Anna hingga saat ini. Karena rumah ini adalah peninggalan almarhumah mamanya dulu. Anna pasti tidak mengenali saya, karena umurnya masih terlalu kecil."


"Jadi, Anda bukan ibunya?" tanya Glen. Wanita itu menganggukkan kepalanya.


"Saya hanya seseorang yang ditolong oleh mereka."


"Apa Anda mengetahui Anna sekarang berada di mana?"


Wanita paruh baya itu mengangguk ragu. "Saya tidak tahu persis alamatnya. Namun mereka masih menetap di Jakarta."


Tangan Rayhan terkepal kuat. Lagi dan lagi dia tidak bisa menemukan Anna.


"Anna? Jadi nama gadis itu Anna?" gumam Via masih mengintip di belakang pohon tidak jauh dari mereka mengobrol.


Bolehkah sekarang Via tertawa keras? Ternyata kekuasaan tuan muda tidak ada artinya. Menemukan seorang gadis kecil saja belum bisa. Via terkekeh dan membekap mulutnya.


"Gue pulang aja, gak penting banget."


Via perlahan mundur. Nanti dia sendiri yang akan menemukan peri kecil itu lebih dahulu.


***


Via mencium aroma sabun dan shampo yang ia kenakan, sepertinya ia salah mengambil. Via segera menyelesaikan acara mandinya, sebelum Rayhan pulang dan marah besar kepadanya, karena memakai dengan lancang milik pria itu.


"Baunya gak enak, huh."


Via menutup pintu kamar mandi kembali, setelah keluar dari sana. Via melihat pantulan dirinya di cermin dan mengeringkan rambutnya dengan cara


menggosokkan nya dengan handuk.


Ceklek!


Pasti tuan muda. Via tidak bersuara ketika pria itu masuk.


"Via!"


Via segera menghampiri nya dan melaksanakan tugasnya. Via membuka jas Rayhan dan menaruhnya dengan sangat rapi di dalam lemari. Begitupun dengan dasi yang dia gunakan. Terakhir


melepaskan sepatu suaminya dan menaruhnya di bawah.


"Lancang!"


Via menundukkan kepalanya ketika mendengar perkataan Rayhan. Pasti dirinya telah ketahuan.


"Kau menggunakan milikku?"


Via mengangguk sangat polos. "Iya, Tuan Muda. Soalnya semua milik saya tiba-tiba hilang."


"Sudah aku buang!"


"Apa?!" Via menganga lebar mendengarnya. Jangan bilang... miliknya telah berada di bak sampah?


"Kau keberatan'?"


Via segera menggelengkan kepalanya. Tenang Via! Uang gadis itu kan banyak. Jadi Via tidak memperdulikannya. Tapi tetap saja Via kesal. Semua perlengkapan mandi nya ia baru beli malam kemarin.


"Siapkan air hangat."


"Sudah, Tuan Muda."


Rayhan berlalu dari hadapannya. Membuat Via bernafas lega. Namun tidak lama, ketika Rayhan kembali memanggilnya.


"Via!" teriaknya.


"Iya, Tuan Muda."


"Masuk!"

__ADS_1


"Masuk kemana?" tanya Via di ujung pintu.


"Ke dalam bak. Aku akan membuatmu kehilangan nafas. Seru bukan?"


Via merinding mendengarnya. Karena melihat Via yang lambat. Rayhan menariknya kasar dan segera mengunci kamar mandi agar Via tidak kabur.


"Saya mohon, Tuan Muda. Jangan apa-apakan, saya!"


Rayhan membuka kaosnya. Membuat Via memejamkan matanya karena takut Rayhan akan macam-macam kepadanya.


"Gosok tubuhku!"


"Tapi, saya .."


"Via!"


Via segera melakukannya. Ia menggosok tubuh bagian belakang suaminya. Rayhan berendam dengan aroma mint khusus untuk pria seperti biasanya.


"Tuan Muda, sudah!"


Rayhan mengangguk dan menunjuk ke arah pintu keluar. Via dengan senang hati melangkah. Namun baru ia ingin protes, Rayhan tiba-tiba melemparkan kunci untuk nya.


"Jangan menaruh apapun milikmu di sini, Via. Atau itu akan terulang kembali."


"Baik, Tuan Muda."


Via segera menutup pintu kembali dengan sangat rapat. Menyisakan Rayhan yang kini mulai


membersihkan dirinya. Sudah berlangsung lama. Rayhan berdiri dengan tubuh atletisnya menggosok gigi di depan cermin kamar mandi. Namun dia tidak


sengaja menunduk dan menemukan sesuatu yang


berendam dalam bak kecil. Karena penasaran. Rayhan menenggelamkan ujung sikat giginya dan mengecek sesuatu yang berada di sana.


"VIA!" teriak Rayhan menggelegar.


Via menutup kuping nya karena telah mempersiapkan ini akan terjadi. Dasar Via ceroboh. Kenapa dia lupa mengangkat cucian nya. Kan sekarang dirinya malu karena Rayhan melihatnya. Bahkan marah besar kepadanya.


"Iya!"


Rayhan melempar sikat giginya dan langsung keluar dari kamar mandi.


"Kau...." tandas Rayhan menggantung ucapannya,


membuat Via langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi.


Mengamankan aset berharganya.


Rayhan tidak bisa berkata apapun lagi. Dengan nafas memburu, Rayhan mengambil pakaiannya. Sebenarnya Via terpesona melihat tubuh Rayhan yang bertelanjang dada seperti sekarang ini. Seperti ingin menggigit bahu Rayhan yang sangat putih itu.


"Apa yang kau pikirkan? Kau sengaja memperlihatkannya kepadaku?"


"Tidak!" Via segera menggelengkan kepalanya dengan sangat cepat.


Walaupun Rayhan adalah suaminya, kalau masalah pakaian dalam, Via malu lah.


"Ini salah Tuan Muda juga. Kan, harus menghargai privasi sendiri-sendiri. Saya juga tidak pernah menyentuh kepunyaan Tuan Muda."


Tapi tunggu dulu! Kan, Via yang menaruhnya di keranjang kotor dan setelah dicuci oleh bibi tua, Via juga yang merapikannya di lemari.


"Apa yang kau pikirkan? Ternyata kau tidak benar-benar polos."


"Polos, kok. Mana ada saya macam-macam."


"Hem!" Rayhan kembali memojokkannya di tembok.


Hingga pandangan mereka begitu dekat. Percayalah! Jantung Via memompa jauh lebih cepat, ketika seperti ini. Kenapa ya?


"Tuan Muda! Saya ingin bertanya."


"Hem."


Masih dalam posisi sangat intim seperti sekarang ini. Via merasakan tubuhnya lemas dan hampir ambruk. Untung Rayhan memegang pinggangnya, membuat Via kembali berdiri dengan tegak.


"Kenapa Tuan Muda memberikan saya minuman itu?" tanya Via dengan lembut.


"Kenapa?" tanya Rayhan tanpa ekspresi.


"Saya tidak ingin hamil."


"Kau sangat jujur, Via. Namun kalau ..." Rayhan semakin mendekatkan wajahnya. Pria itu mengendus lehernya yang sekarang tidak dilapisi apapun, karena Via mengikat rambutnya.


"Tuan Muda!" Via memberontak. Sehingga berhasil menghentikan Rayhan.


Tolong jangan seperti ini!' Via. bukan takut melakukannya.


Namun takut, dirinya terjebak selamanya dengan tuan muda. Via menatap sendu mata hitam kelam


itu. Via sadar diri. Dia bukan siapapun di hidup Rayhan.


Rayhan tidakakan pernah menganggapnya ada.

__ADS_1


"Kenapa kau menatapku begitu dalam?"


"Tidak ada." Via tersentak getir dan perlahan melepaskan tangan Rayhan yang berada di pinggangnya.


"Aku telah mengetahui semuanya, Via."


Via yang sekarang telah berhasil lepas darinya, kembali mendongakkan wajahnya.


"Kau mengambil semuanya."


"Itu hakku, untuk itu saya mengambilnya."


"Kau berhasil memecahkan kodenya? Sebenarnya apa yang tengah kau rencanakan?"


"Tidak ada! Bukannya Tuan Muda ingin saya secepatnya pergi dari rumah ini? Saya akan secepatnya pergi dan tenang saja."


"Apa yang kau katakan?!" geram Rayhan. Rayhan tidak akan pernah membiarkan Via pergi dari sisi nya. Karena Rayhan belum bosan.


"Saya hanya mainan."


"Kau sudah mengetahui posisimu, bukan?" Via pikir, Rayhan akan menyangkalnya. Namun sebaliknya, memperjelasnya. Via mendongak dan mengambil nafas panjang.


"Iya, Tuan Muda." Via kembali berbalik dan merapikan pakaian di dalam lemari Rayhan. Sedangkan Rayhan melangkah mendekati tempat


tidur, tidak lepas pandangannya memperhatikan punggung mungil Via.


"Tidurlah, Via!!"


Via mengangguk dan mendekati Rayhan yang kini mulai berbaring. Via menahan rasa sakit hati nya,


ketika melihat raut wajah Rayhan yang tampak tidak merasa bersalah menyakiti hatinya.


"Matikan lampu, sebelum tidur Via!"


Via kembali bangkit dan beranjak meninggalkan tempat tidur. Via mematikan lampu kamar dan segera kembali berbaring.


"Dia sudah tertidur!" Via menghela nafas dan mulai ikut memejamkan matanya Via tahu. Hidupnya selalu sendiri selama ini. Jadi, Via tidak terlalu merasakan sakit yang mendalam.


**


Setelah pulang kuliah. Via memutuskan untuk menghampiri rumah yang Rayhan dan Glen datangi kemarin untuk mengorek informasi. Sebaiknya Via


membantu suaminya mencari kekasih hatinya.


Tok! Tok!


"Permisi!" Via mengetuk pintu rumah itu dengan cukup pelan.


Ceklek!


Wanita itu berdiri dengan tubuh yang menegang melihat keberadaan Via di hadapannya.


"Mencari siapa, Nak?"


"Mencari..."


Wanita paruh baya itu mempersilakan Via masuk, dengan raut wajah yang tidak bisa Via jelaskan. Karena terlihat wanita paruh baya yang ada di depannya sekarang manatapnya sangat lama.


"Kenapa menatap saya begitu dalam??"


"Kam-kamu ... kembali?"


"Maksudnya bagaimana? Kembali kemana?" Jelas Via tidak mengenali wanita paruh baya ini.


Dia langsung menggelengkan kepalanya. Namun atensinya sedari tadi melirik Via tanpa henti, membuat gadis itu risih.


'Duh, kok gue takut ya?


"Mending gue kabur aja, deh." Walaupun Via gadis yang pemberani. Namun kalau masalah orang tua, yang seperti Via nonton di film-film dia jadi merinding, nanti Via dijadikan bubur lagi.


Huaaa.. gue takut!' Via sudah bergerak gelisah dan tidak nyaman.


"Kenapa, Nak?"


"Tidak ada. Hem, saya ada urusan mendadak. Saya permisi ya ..."


"Panggil Bibi saja."


"lya, Bibi."


"Hati-hati, jangan lupa mampir kembali."


Via menganggukkan kepalanya tanpa menyahut. Setelah berhasil keluar dari sana, dia bernafas lega.


"Gagal deh, dapat informasi nya. Tapi beneran gue merinding." Via segera berjalan dan bahkan berlari menjauhi rumah itu. Via akan mencari ke tempat lain saja. Soalnya berbicara dengan bibi itu sangat menyeramkan.


Sedangkan di sisi lain. Wanita paruh baya itu mengulas senyum menatap Via setelah gadis itu


menjauh.


"Dia tumbuh dengan baik."

__ADS_1


__ADS_2