
Mira langsung berlari menjauh dari mereka, dan menendang rerumputan yang berada di depannya.
Glen beserta anak buahnya langsung mengejar Mira yang kini memasuki hutan untuk menghindari mereka.
"Jangan kesana! Hei!" teriak Glen karena mereka akan masuk ke wilayah hutan yang banyak hewan
buas. Mira tak peduli bahkan dia semakin mempercepat langkahnya.
Sehingga dia tak sengaja melihat akar pohon dan berakhir tersandung.
"Aduh! Sakit!"
"Sudah saya katakan. Kamu jangan berlari sekarang jatuh, kan?!"
"Ini juga kesalahan Anda mengejar saya. Tadi katanya Anda akan membuang saya, kan?"
Glen membuang nafas kasar dan langsung menggendong gadis itu menuju ke mobil membuat Mira tertegun namun dia mengeratkan pegangan di leher Glen, agar tak terjatuh.
Di dalam mobil. Glen menatapnya datar dan memberikan dia kotak obat.
"Obati lukamu."
"Ya, ya, takut pasti kalau sampai sahabat gue tau kelakuan lo."
"Jangan banyak bersuara!"
Mira mengatupkan mulutnya dan langsung mengambil alih kotak obat dari tangan Glen dengan kasar.
Wajah gadis itu meringis ketika dia menyentuh lukanya akibat tersandung tadi dengan akar tumbuhan yang menghalangi lari nya.
"Di mana sebenarnya kamu menyembunyikan nyonya muda?"
"Saya tidak tahu. Mungkin saja sahabat saya itu sudah tak betah di rumah besar tuan muda. Jadi, lebih baik introspeksi diri sendiri sebelum menyalahkan orang lain."
"Jangan sok tahu kamu!"
"Saya tidak sok tahu. Saya sangat mengenal sahabat saya dari dulu. Dan alasannya memang itu."
Mira telah selesai mengobati luka nya dan menatap Glen dengan wajah datar.
"Sahabat saya itu sudah hidupnya malang dari kecil
dan sekarang ditambah beban ketika menikah. Bagaimana dia tidak mau kabur."
***
Alfredo tak konsen ketika bekerja karena memikirkan Via yang hilang entah kemana.
Sekelebat bayangan masa lalunya bersama dengan Via waktu dulu. Bagaimana dia mencampakkan putrinya karena menyalahkan takdir yang tak berpihak kepadanya. Sehingga dia kehilangan sang istri karena kehadiran Via.
"Papa sudah pulang?Tidak membawakan Via oleh-oleh?"
Gadis kecil itu menyambut kepulangan papa nya dengan wajah ceria sembari memangku boneka beruang di pelukannya.
Alfredo tak menatap Via memperdulikan gadis kecil itu sedikitpun. Dia langsung bangkit dan meninggalkan putrinya yang sekarang mengejarnya dan menarik ujung jas nya.
"Kemarin Mira ketika papa nya pulang dapat oleh-oleh. Via mau juga." "
Bola mata indah itu mengerjap berulang kali, membuat Alfredo muak melihat nya.
"Menyingkirlah! Kamu menghalangi langkahku."
"Papa! Via mau seperti Mira."
Alfredo menghentak kasar tangan mungil itu dan meninggalkan Via begitu saja dengan bulir bening
menetes dari kedua netra nya.
__ADS_1
"Papa.., "gumam Via lirih dan menghapus air mata nya.
Gadis kecil itu menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamarnya.
Di dalam kamar. Via mengambil figura berisi foto mama nya yang sedang tersenyum. Membuat Via
tak lagi menangis dan ikut menarik sudut bibir mungilnya untuk kembali ceria.
"Kata Mira. Via gak boleh sedih."
Via menghela nafas pelan dan langsung memejamkan matanya tidur di dengan posisi yang
menyamping memeluk bonekanya.
Alfredo mengingat itu semuanya. Karena dia mengintip Via dengan wajah datar dan segera meninggalkan kamar putrinya lantas kembali ke ruang kerjanya.
Tok! Tok!
"Masuk
Lima anak buah Alfredo masuk dan langsung menghadap pria tua itu dengan membungkukkaan
punggungnya sedikit rendah.
"Siap menerima perintah dari Tuan Alfredo."
"Cari putri saya!"
Mereka saling memandang dan mengernyitkan dahinya bingung karena mendengar perintah dari
Alfredo.
"Kenapa kalian diam?!" bentaknya membuat mereka langsung mengangguk patuh.
"Baik, Tuan Alfredo. Kami akan segera mencari nona Via hingga ditemukan."
Ceklek!
"Mas menyuruh mereka mencari Via?" tanya sang istri masuk ke dalam ruangan itu tanpa permisi.
"Kenapa?"
"Biarkan saja dia pergi. Kalau sudah bosan, pasti pulang. Tidak penting menyuruh anak buah kita
menghabiskan waktu mereka."
"Aku tidak pernah menyuruhmu berpendapat. Pergilah sekarang dari ruangan ku."
Wanita itu mengeram dan menghentakkan kakinya, lantas keluar dari ruangan itu.
***
"Lo sudah pulang?" tanya Via ketika dia menelpon Mira.
"Sudah, sekarang gue ada di rumah."
Via menghembuskan nafas lega mendengarnya.
"Bagaimana ceritanya sih, Mir?" tanya Via kembali ingin Mira menjelaskan semuanya tanpa terkecuali.
"Ya, mereka setelah ninggalin gua langsung kembali lagi dalam satu jam."
"Baguslah kalau seperti itu. Tapi lo ngak apa-apa, kan?"
"Luka karena kaki gue tersandung.
"Tersandung apa?"
__ADS_1
"Akar pohon ketika gue main kejar-kejaran."
"Ya ampun! sudah diobati sekarang?"
"Sudah. Ya sudah. Gue mau istirahat dulu, capek tahu."
"Oke."
Sambungan terputus dan sekarang Via kembali tenang, dan bisa melanjutkan pekerjaan nya.
"Mira sudah pulang?"
Via berbalik dan terkejut mendengar Andi, yang telah berada di belakangnya.
"Su-sudah, tadi Mira mengabari ku."
"Hem." Andi pergi begitu saja meninggalkan Via yang kini menatap nanar punggung pria itu keluar dari rumah.
"Gue janji gak akan menyusahkan Semua orang lagi."
***
"Tuan Muda, saya telah menyiapkan makanan untuk Anda. Saya mohon untuk sedikit saja membuat tubuh Anda tidak kekurangan nutrisi."
Hanya bibi tua yang berani mengatakan itu kepada Rayhan, karena dia telah merawatnya sejak kecil.
"Saya ingin bertemu dengan Via!" Bibi tua menghela nafas pelan.
"Apabila Anda masih seperti ini. Bagaimana bisa, Anda akan mencari nyonya muda."
"Dia meninggalkan aku."
"Sebaiknya Anda bangkit kembali Tuan Muda dan memberi nyonya muda lebih ketat lagi. Apabila Anda seperti ini, nyonya muda tidak akan ditemukan."
Lihatlah wajah Rayhan yang terlihat menyeramkan dengan kantung mata menghitam dan juga tubuh yang mulai tak berisi.
"Saya akan memakannya!!"
Senyum simpul terlihat dari wajah bibi tua menatap tuan muda yang kembali bangkit untuk cintanya.
"Keluar!"
Bibi tua mengangguk dan mundur perlahan, lantas menatap Rayhan sekilas dan menutup pintu kamar dengan rapat. Rayhan menatap makanan itu dan
meraih nya. Dia harus menemukan Via dan mengurung gadis itu selamanya.
Rayhan lantas menghabiskan makanan itu semuanya hingga tak tersisa.
Kembali pria itu langsung bangkit dan segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tak ada gunanya menyesali semuanya, dia harus bertindak sebelum semuanya semakin kacau.
***
"Bagaimana keadaan tuan muda?" tanya Glen telah kembali dan menemukan bibi tua baru keluar dari ruangan Rayhan.
Tuan muda mulai perlahan bangkit untuk mengejar cintanya.
"Tuan muda menghabiskan makanan yang saya antar kan."
Glen menghembuskan nafas lega mendengarnya. "Baguslah."
"Nyonya muda belum ditemukan? Kenapa hingga sekarang tidak ada kabar?"
"Masih dalam pencarian. Nyonya muda tidak main-main ketika melarikan diri. Sehingga kita semuanya belum bisa mendeteksi keberadaannya. "
"Semoga secepatnya ditemukan. Pasti tuan muda akan depresi apabila nyonya muda meninggalkannya untuk waktu yang lama."
__ADS_1