
Tanpa alas kaki. Via berlari menjauh dari gerbang utama. Pokoknya ia harus kabur. Enak saja dirinya dikurung seperti Rapunzel di dalam kamar pria itu.
Banyak anak buah Rayhan dikerahkan untuk mengejarnya.
Sepertinya Rayhan telah mengetahui dirinya kabur dari rumah besar itu.
"Aduh! Kok gue mendadak pusing lihat kelokan jalan yang banyak seperti ini?" ujar Via membungkuk mengatur nafasnya yang tersengal.
Via berdiri tegak karena suara langkah seseorang mendekatinya.
Sepertinya mereka telah dekat. Via beralih ke arah Barat tembus dengan jalan raya yang besar.
"Ah! Semoga mereka tidak menangkap gue.
"Nyonya! Anda akan sangat menyesal apabila pergi jauh dari rumah besar!" ancam anak buah Rayhan mengejar nya. Mereka pikir Via akan goyah dan takut?
Tidak semudah itu.
Via menengok ke belakang. Hingga tidak memperhatikan langkahnya yang perlahan berlari ke tengah jalan. Ketika Via berbalik, dirinya berteriak nyaring karena sebuah mobil hampir menabraknya.
Cittt!!
Via memejamkan matanya dengan sangat ketakutan. Dirinya pasti telah berada di alam lain. Karena tidak merasakan apapun lagi.
"Via!" panggil Mira.
'Kok ada suara Mira, sih?' batin Via masih memejamkan matanya.
Plak!
Via meringis ketika Mira menggeplak kepalanya, sehingga dirinya perlahan membuka matanya.
"Lo kalau stress, jangan ngajak ke alam lain."
"Mira!" teriak Via langsung menubruk tubuh Via dan
memeluknya dengan sangat erat.
"Lo harus bawa gue pergi dari sini. Cepetan!"
Via menarik tangan Mira yang masih mencerna perkataannya.
Raja berada di dalam mobil dan terkejut melihat keberadaan Via yang secara tiba-tiba dengan Mira.
"Lo kemana aja sih, Vi?!" ujar Raja merasa gemas dan sekarang deru napasnya telah kembali lega.
"Jangan banyak tanya! Sekarang kita harus pergi sejauh mungkin dari tempat ini."
Raja mengangguk ketika mendengar segerombolan orang berpakaian hitam meneriaki nama Via. Mobil melaju dengan kecepatan kencang.
"Mereka siapa?" tanya Mira.
"Gue hampir dijual sama bokap gue," ujar Via terpaksa berbohong.
Mira membekap mulutnya tidak percaya. "Terus mereka pasti suruhan orang yang tempat menjual lo."
Via menganggukkan kepalanya dan memasang wajah sangat terluka. Membuat Mira simpati dan iba melihatnya.
"Gue takut!" ujar Via.
"Gak apa-apa ada kita. Lo tinggal dirumah gue. Sampai keadaannya aman."
Via mengangguk membuat Mira bernafas lega. Pasti kedua orang tua nya akan senang menyambut kedatangan Via.
"Tega banget papa lo, Vi. Kenapa bisa?"
"Untuk perusahaan, biasalah."
Mira mengangguk mengerti seperti yang ada di novel-novel itu kan? Dijual ke pria gendut dan tua.
"Pasti orang nya sangat menyeramkan?"
Via mengedikkan bahunya. "Kan gue belum pernah lihat."
"Lo gak kenapa-kenapa, Vi?" tanya Raja.
"Gak, Ja. Makasih!"
Raja mengulas senyumannya dan mengangguk. Andai Via tahu, apapun akan ia lakukan hanya untuk Via seorang.
"Tapi kenapa ponsel lo di deteksi di kediaman keluarga Crowel? Atau jangan-jangan lo mau dijual
ke sana?"
***
Bugh!
"Bodoh! Apa yang kalian kerjakan?! Tidak bisa menjaga gadis itu."
Bugh!
Bugh!
Rayhan menendang dan menghajar anak buahnya hingga tersungkur dengan darah segar mengalir di pelipisnya.
Lihatlah! Bahkan Rayhan menghitung anak buah penjaga gerbang berjumlah 20 orang.
Namun mereka masih bisa kecolongan.
"Cari gadis itu hingga kalian mendapatkannya, sampai malam nanti. Kalau tidak ... Kalian telah
mengetahui konsekuensinya."
"Baik, Tuan Muda." Mereka serempak mengeluarkan suara ketakutan.
__ADS_1
"APA YANG KALIAN TUNGGU?!"
Mereka langsung berbalik dan segera melaksanakan tugasnya.
"Tuan Muda, sepertinya nyonya ikut dengan sahabatnya."
Rayhan tersenyum miring. Lihat saja nanti, apa yang Rayhan lakukan untuk menghukum gadis
pembangkang itu.
Bahkan akan membuat gadis itu trauma dan tidak berani melangkahkan kakinya lepas dari genggamannya.
***
"Vi!" panggil Mira bergidik ngeri melihat tiga buah tanda kepemilikan di leher Via.
"Kenapa?" tanya Via yang baru selesai mandi. Aroma sabun strawberry membuat Via nyaman
dengan bau tubuhnya.
"Itu!" Dengan ragu, Mira menunjuk lehernya.
"Apaan sih?!"
"Tanda kepemilikan di leher lo."
"Ah?" Via baru tersadar dan segera berbalik memejamkan matanya karena merasa malu dan ketahuan.
Via kembali berbalik dan tersenyum manis ke arah Mira yang kini meringis melihat nya.
"Jangan bilang... Lo disuruh menjadi gadis nggak benar?!" tuduh Mira memicingkan matanya.
"Nggak! Ini hanya bekas gue bekam. Lo tahu, kan?"
"Kirain bekas, itu. Maaf, Vi!!""
Via mengangguk dan menghela nafas lega. Syukur Mira gampang dibodohi. Namun Via kasihan sebenarnya dengan mimik wajah Mira yang terlihat sangat mempercayainya.
"Tidur!!" ucap Mira telah siap merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Via mengangguk dan memasang kaos nya. Segera masuk ke dalam selimut yang sangat tebal dan nyaman.
"Matiin lampu!"
Via mengangguk dan segera mematikan lampu kamar Mira. Mereka mulai memejamkan matanya dan dijemput oleh alam bawah sadarnya.
***
"Hmm!!" Via memberontak ketika tangan besar seseorang membekapnya dan membawanya ke pojok kamar sahabatnya.
Tengah malam. Via tiba-tiba merasakan tubuhnya melayang. Ketika Via membuka mata, dirinya
telah berada di tangan seorang priaa yang gadis itu ketahui, adalah orang yang sangat ia hindari.
Karena Mira memang memiliki riwayat ketika tidur seperti orang mati. Maka Mira tidak mendengar
apapun, selain mimpinya yang sangat indah.
"Kau berani bermain-main denganku, Via?!" Dengan suara yang serak seakan menusuk indra pendengarnya membuat Via meronta karena ketakutan.
"Lepasin! Saya tidak ingin ke sana lagi."
Rayhan merogoh sesuatu dari hoodie hitam yang ia kenakan. Via yang mengetahuinya ingin berteriak meminta tolong. Namun Rayhan segera membiusnya. Tubuh Via linglung dan langsung
pingsan di dekapan nya. Rayhan keluar dari kamar Mira melalui jendela. Kamar Mira berada di
bawah, jadi akan lebih mudah menerobosnya.
Glen telah menunggu di depan halaman dengan kedua orang tua Mira yang tidak berani berkutik.
Karena kekuasaan keluarga Crowel membuat mereka menunduk.
Via dimasukkan ke dalam mobil dalam keadaan pingsan. Tidak luput dari perhatian kedua orang
tua Mira yang tidak bisa menghalanginya.
"Selamat malam, Tuan Muda Rayhan!"
Rayhan menatap mereka datar dan masuk ke dalam mobilnya. Mobil melaju dengan kecepatan penuh,
keluar dari pekarang rumah Mira.
"Bunda yakin, tuan muda Rayhan memiliki hubungan dengan Via. Tidak mungkin tuan muda Rayhan
mencari Via hingga membiusnya seperti tadi. Kasihan Via, Yah."
"Ayah tidak bisa berbuat banyak, Bunda. Tuan Muda Rayhan tidak berani ditentang oleh siapapun."
***
Pagi menjelang. Vía perlahan membuka matanya dengan lebar. Kedua netra indah itu menampilkan mata khas bangun tidur.
Namun ia merasa aneh dengan tubuhnya. Via meraba selimut yang membungkus tubuhnya
tanpa sehelai benang apapun.
Pintu kamar mandi terbuka menampilkan Rayhan yang sekarang menggosok wajah dan rambutnya menggunakan handuk.
"Kenapa Tuan Muda tega melakukannya, hiks." Via
meneteskan air matanya karena merasa dirinya telah dipaksa.
"Hukuman untuk mu."
"Tapi tidak dengan merenggut apa yang saya punya, hiks. Jahat, iblis, manusia tidak memiliki hati!"
__ADS_1
Via menangis sejadi-jadinya. Tubuhnya tidak suci lagi.
"Sekarang Tuan Muda telah puas?!" bentak Via dengan nafas yang memburu dan memegang selimut menutupi tubuhnya.
"Jelas! Sekarang bersihkan dirimu."
"Hiks, hiks." Suara tangisan pilu Via kembali terdengar dengan keras. Membuat Rayhan mendekatinya perlahan.
Bukan untuk menenangkan gadis itu. Namun seperti biasanya. Rayhan menjangkau wajah Via dan mencengkeramnya dengan kasar membuat Via mendongak menatapnya dengan penuh kebencian.
"Aku bahagia melihatmu menderita."
"Saya membencimu!" ujar Via dengan berani. Tangan Via terangkat ingin mendorong
Rayhan. Namun tanpa gerakan terduga, pria itu lebih dulu mendorongnya dengan kasar,
sehingga membuat Via tersentak karena berada di bawah Rayhan.
"Penderitaan selanjutnya, menantimu!"
**
"Kalian tidak mendengar berita di televisi mengenai korban penipuan?"
"Memangnya kenapa?"
"Ada ya cewek nekad fitnah cowok telah memperkosanya."
"Loh, kenapa? Ada buktinya?"
Para pembantu muda dan tua itu ngobrol sembari membuat hidangan makan siang.
Via yang telah diizinkan keluar kamar tidak sengaja
mendengarkan percakapan mereka. Dan bersembunyi di balik tembok.
"Ada bukti visumnya. Ternyata mereka tidak melakukan nya. Kasihan si cowok di fitnah."
"Kok bisa seperti itu? Ada-ada saja berita lokal yang ditayangkan."
"Karena cinta dan si cowok kaya raya gitu. Saingan nya berat lah, makanya melakukan berbagai macam cara untuk menjebak si cowok."
"Serem juga kalau seperti itu."
"Makanya harus langsung periksa ke dokter kalau terjadi apapun. Misalnya terjadi hal yang buruk,
untuk menghalau trauma sebaiknya membersihkan bekas hal itu terjadi."
Mereka mengangguk mendengarnya. Begitupun dengan Via.
Pokoknya ia harus ke dokter memastikan nya. Via juga tidak merasakan nyeri di tubuhnya. Yang ia baca di internet, kalau baru pertama kali, pasti sakit. Tapi Via tidak merasakan apapun.
Via berjalan menuju ruang kerja Rayhan. Pasti Rayhan ada di sana sekarang. Tidak pergi ke kantornya.
"Glen, saya ingin bertemu dengan tuan muda."
Glen mengangguk dan membuka pintu ruang kerja.
Via masuk ke dalamnya, setelah itu menutupnya kembali dengan rapat.
"Tuan muda!" panggil Via menghampiri Rayhan yang
sekarang berkutat dengan laptopnya. Namun Via tidak sengaja menyentuh sebuah foto di tangan nya yang bergeletakan di atas meja.
Via ingin mengambilnya, namun ia mengurungkan niatnya karena Rayhan menatapnya dengan tajam.
'Sepertinya foto gadis kecil. Tapi siapa? batin Via penasaran.
"Berani kau menyentuhnya! Maka aku akan menghukummu lebih menyakitkan lagi."
Karena tidak ingin membesarkan masalah. Via menghela nafas dan memilih tidak melihatnya. Tidak
penting juga. "Apa yang kau inginkan?"
Via mengambil natas panjang
"Antarkan saya ke dokter kandungan!"
Rayhan mengernyitkan dahinya dalam menatap Via yang tampak gugup. "Kau berniat melahirkan anak untukku?"
Vía segera menggelengkan kepalanya. "Tidak! Saya ingin memeriksa diri. Agar tidak hamil anak, Tuan Muda. Soalnya masa depan saya sangat panjang sekali."
Rayhan menghela nafas dan mengangguk setuju. Biarkan Via bertindak memalukan di sana dan dikira orang gila.
"Tuan Muda tertawa?" tanya Via memicingkan matanya.
"Apa yang kau katakan?!" sentak Rayhan tidak terima. Dirinya tidak pernah tertawa sedikitpun.
"Tadi saya melihatnya. Tapi kalau tidak, mungkin saya salah lihat. Dan semoga saja saya tidak hamil.
Kalau hal itu terjadi ..."
"Sebelum kau membunuhnya. Maka kau sendiri yang akan kehilangan nyawamu."
'Gak jelas banget nih, orang. Walaupun Via masih labil, tidak akan pernah berniat menghilang nyawa darah dagingnya.
"Maksud gue. Akan membawanya kabur,' batin Via menghela nafas pelan. Sampai kapanpun, anaknya
tidak akan ia suruh mengakui Rayhan menjadi papa nya. Karena Rayhan itu jahat.
"Apa yang kau tunggu?! Cepat keluar!" bentak Rayhan ketika melihat Via melamun.
"Kemana?" tanya Via polos.
"Ke dokter kandungan, gadis bodoh."
__ADS_1