
Di tempat lain, lebih tepatnya Di hotel X Hafidza khawatir dengan suaminya yang tidak kunjung kembali. Ia juga menyesal tidak memberi tahu pada suaminya bagaimana ciri-ciri barang yang ia pesan, dan ia mencoba menelpon suaminya, namun sialnya suaminya tidak membawa handphonenya yang berasa di atas nakas .
Tapi ia sudah terlanjur lelah dengan kegiatan yang sangat padat hari ini. Akhirnya ia menunggu suaminya seraya duduk di sofa dengan menyandarkan kepalanya di bahu sofa sampai-sampai ia terlelap ketiduran.
Andika berjalan dengan riangnya memasuki lobi hotel sambil membawa kresek hitam berisi pesanan istrinya. Ia lama karena ia terlebih dahulu membelikan makanan manis untuk istrinya, ia pernah tahu artikel kalau memakan coklat akan membuat mood yang buruk akan menjadi lebih baik, maka dari itu ia membelikan martabak terang bulan rasa coklat serta es krim dari supermarket tadi.
Andika mengetuk pintu kamar lalu membukanya perlahan sambil mengucapkan salam. namun ia heran kenapa tidak ada Jawaban dari dalam?.
Setelah ia menutup pintu kembali, ia melihat ke arah ranjang namun tidak menemukan istrinya. ia masih mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar dan ia melihat istrinya yang terlelap di sofa dengan kaki yang masih posisi duduk dengan kepala yang menyender di bahu sofa, Andika yang melihatnya tersenyum. Bagaimana istrinya bisa semenggemaskan ini.
Ia ingin membangunkan Hafidza, namun ia urungkan karena tidak tega melihat wajah yang sangat terlihat letih itu.
Namun ia berfikir, Bagaimana dengan pembalutnya? bisa-bisa Hafidza akan bocor kalau tidak memakai pembalutnya.
Akhirnya Andika membangunkan Hafidza dengan pelan.
"Yang?" panggil Andika sambil menggoyangkan pelan tubuh Hafidza.
"emmmh?" jawab Hafidza dengan deheman sambil membuka sebelah matanya.
"Eh mas? maaf Fidza ketiduran" ujar Hafidza bangun dengan sangat lucu menurut Andika.
"Ini pesanan kamu. ganti dulu, mas juga beliin kamu terang bulan" ujar Andika seraya menenteng kresek berisi terang bulan yang ia beli tadi.
__ADS_1
Hafidza yang mendengar terang bulan pun berbinar, itu adalah salah satu makanan kesukaannya selain bakso dan mie ayam.
Hafidza mengucapkan terimakasih dan berlalu menuju kamar mandi dengan langkah riangnya karena akan makan terang bulan.
Andika hanya terkekeh melihat istrinya yang sangat senang karena hanya ia bawakan sebuah terang bulan. Apa semudah itu membuat istrinya senang?.
Setelah beberapa menit menunggu istrinya, Akhirnya Hafidza keluar dengan mata yang masih berbinar.
"Kamu seneng banget sih aku bawain terang bulan doang" ujar Andika tertawa kecil.
"Doang mas bilang? Kalo misal mas Dika ngajak jalan-jalan fidza ke alun-alun juga fidza udah seneng banget, asalkan sama mas Dika terus" ujar Hafidza tersenyum.
"ngode nih ceritanya? kamu mau mas ajak ke alun-alun?" tanya Andika yang tahu kode Hafidza.
"Hehe. Kalo boleh juga nggak apa-apa" jawab Hafidza malu.
"Makasih ya mas. Jangan sekali aja" ujar Hafidza bercanda.
"Nggak cuma sekali. berkali-kali juga uang mas nggak akan habis kok buat beliin kamu jajanan" Jawab Andika sungguh-sungguh.
Mereka menikmati cemilan mereka seraya Bercanda kecil dengan lelucon yang Andika berikan dan di timpali Hafidza dengan jawaban yang sama lucunya.
'terima kasih sudah memberi hambamu pendamping hidup yang sempurna ya Allah. semoga seterusnya akan seperti ini' Batin Andika menatap wajah Hafidza tulus.
__ADS_1
'hamba mohon padamu ya Allah. berikanlah keharmonisan dalam rumah tangga kami' Batin Hafidza.
Mereka melewati malam itu dengan hati yang sangat-sangat senang dan gembira. malam pertama mereka lewati dengan perkenalan satu sama lain tanpa adanya kebohongan dengan cara satu pertanyaan dan satu jawaban seterusnya begitu sampai mereka terlelap dengan posisi saling berpelukan.
Keesokan harinya.
Hafidza yang lebih dulu bangun karena mendengar Alarm suara adzan subuh dari Handphone nya. Ia masih belum menyadari akan seseorang yang memeluknya, ketika ia menyadari ada seorang yang memeluknya erat dari belakang, seketika ia ingin berteriak. namun ketika ia menoleh ternyata Andika yang notabene sekarang adalah suaminya.
Ia baru teringat kalau ia sudah menjadi seorang istri. ia pun menghela napas lega karena ia tidak terbiasa dengan posisi ini, ia tidak enak ingin membangunkan suaminya. tapi suaminya juga harus menunaikan shalat subuh sedangkan ia libur.
"Mas bangun mas..... udah subuh" ujar Hafidza seraya menepuk pelan pipi suaminya.
Andika menggeliat malas saat Hafidza membangunkannya.
"Subuh mas" ujar Hafidza lagi.
Dengan perlahan Andika membuka matanya, pertama kali yang ia lihat adalah wajah istrinya yang tepat berada di depannya.
Andika bersyukur saat pertama kali ia bangun melihat wajah istrinya yang cantik.
Andika meregangkan ototnya lalu duduk di ikuti Hafidza.
"Nanti kita jalan-jalan terserah mau kamu. hari ini kita free, dan mas juga udah ambil cuti kok" Ujar Andika seraya bangkit lalu berjalan menuju kamar mandi tanpa seizin Hafidza yang hanya bisa melongo. Andika sudah tahu, ia tidak memerlukan persetujuan dari Hafidza karena Hafidza pasti mau akan hal itu.
__ADS_1
@Uthfia30115
Mampir ke karya Author ke-2 'All About Love'