
Hari-hari telah dilewati oleh Raga yang ditemani sang istri, tak terasa waktu pun telah berlalu. Dan kini, setelah lama berada di rumah sakit dan dengan segala penanganan untuk kesembuhan Raga, akhirnya membuahkan hasil yang cukup baik untuk kesembuhannya.
Raga yang sudah tidak sabar ingin segera pulang ke rumah, tak pernah lelah untuk melakukan terapi demi kesembuhan pada kakinya yang cidera.
Leyza yang tengah membereskan barang-barang yang ada di dalam ruangan rawat suaminya, tiba-tiba dirinya tengah dikejutkan oleh suaminya yang rupanya sudah memeluknya dari belakang. Tentu saja, Leyza kaget dibuatnya.
"Lepasin, entar dilihat Mama." Ucap Leyza sambil berusaha untuk melepaskan pelukan suaminya, takut jika ibu mertua dapat menangkap basah atas apa yang tengah dilakukan oleh suaminya.
Kemudian, Leyza memutar balikkan badannya dan menatap serius wajah suaminya yang kini mulai terlihat lebih segar. Meski rambutnya yang sedikit terlihat gondrong, tetap tidak mengurangi ketampanannya.
"Kamu sudah beneran yakin, kalau kamu mau pulang? takutnya bagian kaki kamu masih ada rasa nyeri atau yang lainnya." Ucap Leyza yang masih menyimpan rasa khawatir dengan kondisi suaminya.
Raga menggelengkan kepalanya, seraya memberi isyarat bahwa dirinya baik-baik saja.
"Aku tidak lagi merasakan nyeri, dan aku baik-baik saja. Jadi, kamu tak perlu mengkhawatirkan aku. Percayalah padaku, bahwa aku sudah sembuh. Hanya saja, aku masih diminta untuk kontrol walau seminggu sekali. Setidaknya, aku baik-baik saja, sayang." Jawab Raga meyakinkan suaminya.
"Awas ya, kalau sampai kamu bohongi aku." Ucap Leyza dengan tatapan mengancam.
Bukannya ada rasa takut, justru Raga tertawa mendengarnya.
"Ketawa, nggak ada yang lucu. Diam lah, apa perlu aku memberi hukuman padamu nanti di rumah?"
"Hukuman apa yang mau kamu berikan padaku? sudahlah, jangan menakut-nakuti aku. Oh ya, hari ini Mama ikut menjemput atau tidak, pinginnya sih jangan."
"Hem, maunya."
"Ya, dong. Namanya juga masih bau-bau pengantin baru, wajar saja jika aku tidak ingin ada yang mengganggu."
"Sudahlah, ayo kita bersiap-siap. Mama dan Papa, juga Lindan sudah menunggu kita di rumah. Jadi, jangan banyak drama apapun saat ini, ok."
"Ya, sayangku. Aku mau mandi dulu, setelah itu kita pulang." Jawab Raga dan segera bergegas ke kamar mandi, sebelumnya Raga berbisik didekat telinga istrinya.
Bukannya tersenyum, justru Leyza bergidik ngeri mendengarnya. Kalimat yang sering ia dengar, tapi kali ini membuat detak jantungnya seakan bergemuruh di dalam dadanya.
__ADS_1
Karena tidak ingin berlama-lama berada di rumah sakit, dan dengan segala pengobatan maupun obat-obatan, Raga cepat-cepat untuk membersihkan diri agar segera sampai di rumah.
Cukup lama bagi Raga berada di rumah sakit, tentu saja membuatnya merasa bosan dan seperti dalam penjara.
Leyza yang masih mengemasi barang-barang miliknya, ia dikagetkan dengan sebuah panggilan lewat ponselnya.
"Ya, ada apa Pak Bubud?" tanya Leyza lewat sambungan telponnya.
Dengan serius dan tanpa juga fokus, Leyza mendengarnya tanpa memalingkan panggilan dari Pak Bubud.
"Baik, Pak. Besok saya sudah bisa aktif lagi berada di kantor, dan Bapak tidak perlu khawatir atau cemas. Jika sekretaris yang Bapak pilih memang pilihan yang baik, saya tidak menolaknya. Yang terpenting mempunyai tanggung jawab pada setiap tugasnya dan juga tidak pernah membuat masalah." Ucap Leyza sesuai seperti yang diinginkannya.
Setelah merasa cukup dan tidak ada yang kurang untuk membicarakannya dengan Pak Bubud, Ley memilih memutus sambungan telponnya.
Leyza yang baru saja memutuskan panggilan telpon dari Pak Bubud, segera menghela napasnya.
"Siapa yang menelpon kamu, sayang?" tanya Raga sambil mengeringkan rambutnya dengan handuknya.
"Oh, aku kira siapa, Pak Bubud toh." Ucapnya dan langsung menguap, lantaran tidak mampu untuk menahan rasa kantuknya.
Entah hipnotis dari mana, Leyza terasa sangat mengantuk.
"Masih pagi jugaan, udah menguap." Kata Raga.
"Ya nih, aku juga tidak tahu. Mungkin efek kelamaan di rumah sakit, kali ya." Jawab Leyza sambil menahan mulutnya yang juga hampir menguap, ia rela menahannya.
"Hem, ya in aja deh kalau begitu, daripada nanti muka kamu dilipat, bisa gagal total akunya."
"Ah sudahlah, ayo kita pulang. Aku sudah membereskan semuanya, termasuk hal kecil sekalipun." Ajak Leyza yang sudah tidak sabar ingin segera pulang, yang pasti ingin istirahat dengan tenang tanpa perasaan was-was.
Raga yang mengiyakan, ia ikut membawa barang bawaan yang sudah siap untuk dibawa.
Selama perjalanan pulang ke rumah, Raga memilih untuk tiduran diatas pangkuan sang istri. Leyza mengusap keningnya ke belakang, hingga sampai dipuncak kepalanya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, telah sampai di depan rumah tanpa disadari oleh Raga maupun Leyza sendiri. Pasalnya, Raga maupun istrinya tengah tidur dengan pulas-nya. Sampai-sampai keduanya tidak menyadari jika mobil yang dinaikinya sudah berhenti, tepatnya di depan rumah.
"Tuan, Nona, kita sudah sampai." Panggil Pak Supir pada kedua majikannya.
Raga yang seperti mendengar ada seseorang yang membangunkan tidurnya, Raga langsung bangkit dari posisinya yang tengah tertidur dipangkuan istrinya.
"Sudah sampai ya, Pak?" tanya Raga sambil menyempurnakan kesadarannya, dan juga celingukan sana sini.
"Benar, Tuan, bahwa kita sudah sampai dan berada di depan rumah." Jawab Pak Supir disertai dengan anggukan.
Raga yang melihat istrinya tertidur sambil bersandar di jendela kaca mobil, ia mendekatkan diri lewat indra pendengarannya, seraya berbisik.
"Sayang," panggil Raga yang hanya memanggilnya.
Karena tidak mendapatkan respon apapun dari istrinya dari tidur pulas-nya, Raga kembali mencoba untuk berbisik pada istrinya.
"Sayang, bagun, kita sudah sampai loh." Panggil Raga yang kedua kalinya, mengharapkan sang istri terbangun dari tidurnya.
Ley yang sedikit-sedikit seperti mendengarkan sesuatu di telinganya, berusaha untuk membuka kedua matanya yang masih terpejam karena rasa kantuk yang sulit untuk ia tahan.
Dan benar saja, Raga sudah menatap dirinya sebelum kedua matanya terbuka.
"Kita sudah sampai, ayo turun." Ucap Raga dan mengajak istrinya untuk turun.
"Benarkah kita sudah sampai? awas ya, kalau sampai kamu sudah membohongi aku." Jawab Letza yang seperti berada dalam mimpi.
"Tuh lihat, kita itu sudah sampai di depan rumah. Jadi, ayo kita turun." Ucap Raga yang langsung melepaskan sabuk pengaman yang menempel pada tubuh istrinya..
Leyza yang seraya seperti berada di dalam mimpi semata, benar-benar sangat sulit untuk dirinya sendiri.
Karena tidak ingin berlama-lama di dalam mobil, Raga maupun istrinya segera turun dari mobil dan masuk ke rumah.
Sambil berjalan beriringan, Raga tak lepas untuk bergandengan tangan bersama sang istri.
__ADS_1