Istri Pilihan Ayah

Istri Pilihan Ayah
Keputusan yang sudah bulat


__ADS_3

Hening, suasana di ruang makan begitu hening dan hanya ada suara sendok yang sedang beradu dengan piring.


Ozan yang sedang menikmati sarapan paginya, sesekali ia memperhatikan Leyza yang juga tengah menikmati sarapannya.


Begitu juga dengan Raga, ia tak lepas mengamati Ley dan Ozan. Sepasang matanya begitu fokus, meski sambil menikmati sarapan paginya.


"Kalian berempat, lanjutkan sarapan paginya. Dan kamu Ozan, jangan lupa untuk dibawa semua berkasnya." Ucap Bunda Yuna yang baru saja menyelesaikan sarapannya.


"Ya, Tante." Jawab Ozan disertai dengan anggukan.


"Ma, Lindan di rumah aja 'kan?" tanya Lindan dengan lesu, lantaran dirinya yang kurang tidur akibat tugas yang diberikan oleh ayahnya.


"Kamu tidak perlu ikut, cukup Kakak kamu yang akan mengurus semuanya. Kamu cukup berada di rumah saja." Jawab ibunya.


"Keluar untuk sekedar cuci mata, boleh kan, Ma?"


"Terserah kamu saja, yang terpenting utamakan istirahat. Jangan sampai badanmu kurang sehat, karena ulah kamu sendiri." Kata Bunda Yuna, Raga hanya mengangguk tanda mengerti dengan pesan ibunya.


"Ya, ya, Ma." Jawab Lindan dengan senyum sumringah.


Kemudian, Bunda Yuna bergegas ke kamarnya untuk bersiap-siap.


'Yes, aku bisa jalan-jalan tanpa ada yang menggangguku. Biarkan mereka berdua ini berebut perhatian dengan kakak ipar, aku mau istirahat.' Batin Lindan sambil senyum yang tidak jelas.


"Aw! sakit, tau Kak." Pekik Lindan saat mendapat tepukan pada pipi kirinya karena ulah sang kakak.


"Makanya jangan banyak melamun, habisin tuh makananmu." Ucap Raga.


"Hem. Selagi senyum itu gratis, kenapa dilarang?"


"Senyummu itu penuh misteri, cepat kamu habiskan makananmu itu." Kata Raga disela-sela mengelap mulutnya dengan tissue.


"Ya, ya, Kak." Jawab Lindan sambil mengunyah makanannya.


Ley yang masih menyisakan makanan di mangkoknya, segera ia menghabiskannya.


Raga yang melihat sesuatu terdapat di sudut bibir milik istrinya, ia mengambilnya lewat jari jemarinya.

__ADS_1


"Ini, ada yang tertinggal." Ucap Raga sambil menunjukkan sesuatu pada istrinya.


Malu, itu pasti.


"Terima kasih." Jawab Ley dan meraih selembar tissue untuk mengelap mulutnya.


"Ini, tissue-nya." Ucap Ozan yang langsung menyodorkan box yang berisi tissue pada Leyza.


Raga langsung menyingkirkannya, lalu ia yang mengambilkannya.


Ozan yang merasa geram, hanya bisa menatapnya penuh kesal. Ley yang tidak ingin suasana menjadi gaduh, menerima pemberian dari suaminya.


Ozan yang merasa dirinya telah diabaikan, ia langsung bangkit dari posisi duduknya dan kembali ke kamar untuk bersiap-siap.


"Kalau kalian saling menerima pernikahan, setidaknya bicarakan baik-baik. Lihatlah, kalian berdua itu terlihat dingin, siapa saja bisa masuk dalam hubungan pernikahan kalian berdua. Tetapi jika kalian saling mempertahankan hubungan pernikahan kalian, tentu saja tidak akan ada yang akan masuk dalam hubungan rumah tangga kalian, Kak Raga dan Kakak Ipar."


Ucap Lindan yang akhirnya angkat bicara, lantaran harus menyaksikan pemandangan yang semuanya terlihat sama dinginnya.


Raga dan Ley sama-sama diam, bingung untuk menjawab pertanyaan dari Lindan.


"Kenapa kalian berdua diam? pikirkan baik-baik perkataan-ku tadi, jangan sampai pada akhirnya kalian menyesal."


"Kita berdua akan pikirkan nanti, terimakasih sudah mengingatkan Kakak. Sekarang kembalilah ke kamar, kamu harus banyak istirahat." Jawab Raga.


Karena tidak mungkin untuk membicarakannya di ruang makan dengan istrinya, Raga memilih untuk kembali ke kamarnya.


Saat keduanya sudah berada di dalam kamar, Raga segera mengambil tas bawaannya untuk dibawa ke kantor yang akan di tuju bersama Ozan dan istrinya.


Begitu juga dengan Leyza, sama halnya yang juga mengambil tas bawaannya.


"Aku ingin berbicara sama kamu sebentar, adakah waktu untukku?"


"Soal apa? apakah soal yang barusan Lindan katakan?"


"Ya, benar." Jawab Raga dengan serius.


"Aku belum siap untuk memikirkannya, aku harus menyelesaikan masalah pesan orang tua kita. Jadi, biarkan aku untuk berkonsentrasi. Takutnya, akan menjadi imbas dalam rapat. Jadi, aku mohon tahan sebentar urusan pribadi kita. Setelah semuanya selesai, aku akan bicara denganmu." Ucap Leyza meminta pengertiannya, Raga mengangguk.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan tunggu setelah urusannya selesai. Ya udah, ayo kita berangkat." Jawab Raga dan mengajak istrinya untuk berangkat, Ley mengiyakan dan keduanya berangkat ke tempat tujuan.


Dalam perjalanan, Raga dan Leyza duduk bersebelahan paling belakang. Sedangkan Ozan duduk disebelah pengemudi, Bunda Yuna duduk di belakang kemudi.


Dalam perjalanan, semua diam dan tidak ada yang membuka suara hingga sampai di tempat yang di tuju.


Sampainya di depan gedung yang menjulang tinggi, Bunda Yuna dan yang lainnya masuk dengan sambutan hangat.


Dengan mahir, Raga maupun Bunda Yuna, Ozan dan Leyza dapat berbicara tanpa ada hambatan apapun.


Ketika sudah berada di dalam ruangan yang dijadikan untuk rapat, satu persatu mendapatkan perlakuan baik dari orang-orang yang berada di sekitarnya.


Ketika semua duduk dengan rapi, ada salah seorang yang tengah membuka acara rapat dalam menentukan dan keputusan selanjutnya.


Raga maupun Ozan dan Leyza, serta Bunda Yuna begitu tenang mendengarkan setiap kata demi kata yang diucapkan lewat bahasa yang bukan bahasa keseharian Bunda Yuna dan anak serta menantu, juga dari penerus sahabat suaminya.


Cukup lama melakukan diskusi dan penentuan yang dilakukan oleh seseorang yang menjadi tanggung jawab serta orang kepercayaan, tidak ada satupun yang berani menerobos pembicaraannya.


Setelah cukup jelas dengan keputusan yang dibuat, satu persatu satu pihak wakil keluarga, tidak ada yang menolak dengan keputusan yang disetujui bersama.


"Jadi, semua sudah jelas. Mulai besok dan seterusnya, hubungan akan terus berlanjut sama seperti dulu." Ucap seseorang yang menjadi kepercayaan dari tanah air untuk mengulangi persetujuan antara ketiga belah pihak.


"Ya, saya menyetujuinya." Jawab Ozan lebih dulu, sedangkan Raga dan Ley justru diam.


"Raga, jawab." Panggil ibunya dan memberi perintah kepada putranya.


"Ya, saya menyetujuinya untuk bergabung kembali." Ucap Raga dengan anggukan juga.


"Maaf, sepertinya saya memilih untuk lepas dari kerja sama dengan mereka berdua." Ucap Leyza membuat semua terkejut mendengarnya, bagi yang mengerti apa yang diucapkan oleh Leyza dengan bahasa negrinya.


"Saya ingin mandiri, tanpa ada campur tangan dari mereka." Sambungnya lagi setelah memutuskan dengan keputusannya yang terakhir.


"Kamu serius, Nak Leyza?" tanya ibu mertua sambil memperhatikan ekspresi dari putranya dan Ozan.


"Leyza serius, Ma." Jawab Leyza dibarengi dengan anggukan.


"Kamu sedang tidak mengerjai kita berdua, 'kan?" tanya Raga yang penasaran dengan apa yang menjadi keputusan dari istrinya.

__ADS_1


Leyza tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya.


"Ya, aku serius. Ini sudah menjadi keputusanku, dan tidak bisa untuk dirubah." Jawab Leyza dibarengi dengan senyumnya yang tipis.


__ADS_2