
Raga masih menatapnya dengan penuh kesal, hatinya terasa dongkol saat dirinya mendapatkan tuduhan.
"Kamu tahu apa tentang diriku, jaga baik-baik mulut ember kamu, Ozan. Kalau kamu tidak tahu kebenaran, jangan sok tahu." Ucap Raga masih dengan tangannya yang mengepal kuat.
"Sok tahu, kamu bilang? bukankah memang kenyataan apa yang aku katakan tadi? merasa bersalah dan membuatmu ingin meminta maaf. Dan ternyata kekayaannya orang tua Leyza di kelola oleh orang tuamu, bukan? sedangkan kamu baru mengetahuinya."
"Kalau saja kita bukan di Bandara, aku tidak akan segan-segan untuk menghabisi kamu, Ozan."
"Percuma bicara denganmu, kamu tidak akan pernah merasa." Kata Ozan dan beralih pergi dari tempat duduknya.
Raga yang sudah terpancing emosinya, didalam dadanya terasa bergemuruh. Ingin rasanya meluapkan segala kekesalan, berusaha untuk tetap tenang.
Tidak terasa, jadwal penerbangan telah terdengar sangat jelas. Tidak ingin didahului oleh Ozan, Raga buru-buru untuk masuk lebih dulu.
Saat sudah menemukan tempat duduknya, Raga bernapas lega dan duduk sambil mengenakan sabuk pengamannya.
Karena belum waktunya untuk berangkat, alih-alih Raga memejamkan kedua matanya sejenak untuk mengatur pernapasan dan mengendalikan emosinya.
__ADS_1
'Penerbangan mendadak, beginilah jadinya. Naik pesawat harus bersama orang cecenguk seperti Ozan.' Batin Raga dengan posisi mata yang terpejam.
Merasa sudah cukup dan jauh lebih tenang hatinya, Raga membuka kedua matanya perlahan dan melihat di sekelilingnya, serta yang duduk di sebelah dirinya.
"Kamu!" lagi lagi Raga dengan penuh kesal saat melihat siapa orangnya yang duduk di sebelahnya.
"Rupanya kamu sengaja bertukar tempat duduk, sekarang juga kembali ke tempatmu. Aku tidak sudi duduk du dekatmu, menyingkir lah."
"Kurang kerjaan sekali, jika aku harus mengganti tempat dudukku. Lihatlah, ini murni tempat dudukku." Jawab Ozan dan menunjukkannya pada Raga.
Dengan tatapan yang sinis, Raga mengabaikannya. Hingga tidak terasa karena sebuah perdebatan, sudah dalam perjalanan ke negara yang akan di tuju.
Memejamkan kedua matanya, itu jauh lebih penting dari pada melihat dan hati berubah menjadi sengit.
Sedangkan di negara lain, Leyza tengah duduk bersantai dengan di temani secangkir teh hangat tawar. Seketika, dirinya telah teringat jika sudah membohongi suaminya saat memberi perhatian untuknya.
Leyza tersenyum saat mengingatnya, "karena kamu sedang mencari perhatianku, dan rela melakukan apapun. Tapi maaf, aku masih ingat semuanya." Gumam Ley setelah menye*sap minuman teh hangatnya.
__ADS_1
"Kak Ley, ini ada kue dari Mama untuk temani hari hari Kakak di sini." Ucap Lindan sambil meletakkan satu piring yang berisi kue buatan ibunya.
"Terima kasih. Maaf, aku ikut membantu."
"Tidak apa-apa, tadi Kakak sedang sibuk, Mama juga tidak mempermasalahkannya." Kata Lindan.
"Kalau boleh tahu, siapa yang akan datang kesini?"
"Kalau bukan Rafa, ya Ozan."
"Jadi, kamu tidak tahu siapa yang akan datang ke sini?"
"Tidak, karena dari semalam, aku sibuk mengecek ulang. Takutnya ada yang salah, dan bisa bermasalah."
"Ya juga sih, kamu benar-benar teliti ya orangnya." Ucap Leyza dan tidak lupa tuk memuji.
Entah ada angin apa, Lindan mulai memperhatikan kakak iparnya, dari bicara dan wajahnya.
__ADS_1
'Sebenarnya istri Kak Raga sangat cantik dan juga baik, serta pintar. Bahkan, aku tidak menyangka, jika sebenarnya dari keluarga yang sangat tajir. Pantas aja, tidak kalah berkelasnya dengan yang lain. Hanya saja, wajahnya dan penampilan yang membuat orang-orang salah menduga.' Batin Lindan yang tiba-tiba mulai terpesona dengan kakak iparnya sendiri.