
"Lepaskan, aku kesulitan untuk bernapas." Ucap Leyza berusaha melepaskan diri dari suaminya, terasa sesak untuk bernapas.
Raga yang tersadar atas perbuatannya, ia melepaskan pelukannya.
"Maaf, aku kelewat bahagia, karena akhirnya kamu mau memaafkan aku." Kata Raga yang tidak bisa berkata-kata lagi.
"Sudah gelap, silakan kalau mau membersihkan diri. Aku mau mengeringkan rambutku." Ucap Leyza dan pindah posisi duduknya di depan cermin, Raga mengangguk dan tersenyum.
Tetap saja, Leyza masih sulit untuk tersenyum didepan suaminya sendiri, meski sang suami sudah mengajaknya untuk tersenyum sekalipun.
Sedangkan Raga sendiri, dirinya tidak mempermasalahkannya sama sekali, meski istrinya masih saja cuek bak seperti baru mengenalinya.
Karena tidak ingin ada seseorang yang mencuri perhatian pada istrinya, buru-buru Raga membersihkan diri.
Ley yang tengah duduk dan melihat bayangannya pada cermin, pandangannya tertuju dengan lukanya.
'Haruskah aku mempertahankan pernikahanku dengan lelaki yang sudah memberiku luka? bahkan tidak hanya pada fisikku, tetapi juga harga diriku.' Batin Ley sambil memejamkan kedua matanya.
Berharap, keputusan yang diambilnya adalah jalan pilihan terakhirnya.
__ADS_1
Seketika, ingatan Leyza tertuju pada Ozan. Lelaki yang berulang kali menyatakan cinta padanya, tak kenal lelah meski sudah diabaikan berkali-kali oleh dirinya sendiri.
Tidak hanya itu saja, Leyza teringat pada sosok Ozan yang selalu ada untuk dirinya. Sulit, benar-benar pilihan yang begitu sulit ketika dihadapkan dengan sebuah pilihan yang sangat sulit untuk ia pilih.
Begitu juga dengan Ozan yang tengah berbaring di atas tempat tidurnya, ingatannya tertuju pada perempuan yang sangat dicintainya. Bahkan, tak peduli dengan luka yang ada pada wajahnya.
Akan tetapi, Ozan teringat kembali saat Leyza akan bertahan dengan lukanya hingga sang pemilik pemberi luka akan mengakui kesalahannya. Saat itu juga, Ozan terus berharap dan menginginkan Leyza dapat di miliki untuk selama-lamanya.
"Andai saja aku bisa memutar lagi masa itu, aku tidak akan membiarkan Leyza terluka, walau hanya satu gores saja." Gumam Ozan sambil melamun.
Bosan berada didalam kamar, Ozan memilih untuk menemui Lindan yang sepertinya sendirian, pikirnya.
'Pa, Ley harus bagaimana? haruskah Leyza memintanya untuk berpisah? atau bertahan.' Batin Leyza sambil menatap dirinya lewat cermin.
Pelan-pelan, Leyza megusap wajahnya yang ada lukanya dengan sangat hati-hati. Raga yang melihatnya dengan jarak tidak begitu jauh, hatinya terasa teriris ketika mengingat kenangan masa lalunya.
Dengan langkah demi langkah, Raga sudah berdiri di dekat istrinya. Kemudian, menyentuh luka pada bagian wajah milik istrinya.
"Aku akan menebusnya dengan segala macam caraku, yang terpenting luka ini bisa aku buang dan tidak menjadi bayang-bayang dalam hidupmu. Aku benar-benar meminta maaf, yang sudah mengabaikan kamu." Ucap Raga tanpa bosan, meski harus malu sendiri.
__ADS_1
"Tidak perlu untuk dipaksakan, karena aku tidak memaksakan kamu." Jawab Leyza sambil membereskan peralatan make up-nya.
"Tidak mengapa, karena aku sendiri yang menyanggupinya. Jadi, kamu tidak perlu memikirkannya." Ucap Raga sambil mencolokkan alat pengering rambut.
Karena bising dan mengganggu pendengarannya, Ley segera menyingkir dari tempat duduknya.
Berbeda dengan Ozan, dirinya sudah duduk bersama Bunda Yuna dan Lindan di ruang santai sambil menonton televisi, meski sedikit kesulitan dengan bahasa yang tidak begitu hafal.
"Kak Ozan," panggil Lindan sambil mengupas buah jeruk.
"Ya, ada apa?" sahut Ozan dan balik bertanya.
"Tidak ada apa-apa sih, Kak. Bagaimana kalau besok kita jalan-jalan bersama?"
"Kemana? sepertinya aku tidak bisa, karena aku masih ada tugas yang belum aku selesaikan."
"Sebentar aja kok, Kak."
"Aku pikir-pikir lagi aja deh, nanti kalau aku ikut, aku pasti bakal kabari kamu." Kata Ozan, Lindan hanya mengangguk.
__ADS_1
Sedangkan Bunda Yuna masih saja fokus dengan aca televisi yann sedang di tontonnya.