Istri Pilihan Ayah

Istri Pilihan Ayah
Tidak disangka


__ADS_3

Sama sekali tidak bisa menghubungi Doni, Raga meletakkan ponselnya dengan kasar. Tak berselang lama, Raga keluar dari kamar dan memilih berada di ruang kerjanya.


Alih-alih menyibukkan diri dengan laptopnya dan membuka beberapa file yang masih tersimpan, tentunya kenangan di masa lalunya.


Persahabatan, yang rupanya sudah tidak ada kabarnya sejak pindah sekolah. Ingatannya kembali saat dirinya mencoba melakukan perbuatan kejinya untuk melukai musuhnya, tetapi mengenai orang lain, bukan sasarannya.


"Ya, memang aku yang salah. Karena aku tidak ingin berhubungan dengan hukum, aku memilih untuk pindah sekolah demi kebaikanku. Tapi ... kenapa aku tidak pernah melihatnya di sekolahan? apakah dia murid baru? mungkin saja." Ucapnya lirih sambil mengingat-ingat kembali.


Tetap saja, Raga tidak bisa mengingatnya.


Raga yang terus gelisah, akhirnya memutuskan untuk keluar dari rumah. Berharap, dirinya dapat menemukan jawabannya.


Dengan tekadnya yang sudah bulat, Raga bergegas untuk pergi tanpa berpamitan dengan istrinya.


Dengan terburu-buru, Raga menuruni anak tangga.


"Raga, kamu mau kemana?" tanya sang ibu memergoki saat melihat putranya terlihat terburu-buru.


Raga menoleh ke sumber suara.


"Mau keluar sebentar, Ma. Aku ada perlu dengan teman sekolah, itu saja." Sahut Raga dan langsung pergi meninggalkan rumah.


"Ada apa dengan Raga? kenapa dia menjadi gelisah seperti itu? apa ya, ada hubungannya dengan Leyza."


"Mama, bengong aja."


"Eh Papa."


Dengan reflek, Bunda Yuna kaget saat suaminya mengagetkan dengan cara menepuk punggungnya.


"Ada apa, Ma? kelihatannya serius gitu."


"Itu, em ... si Raga, anak kita."


"Anak kita, kenapa dengan Raga?"


"Seperti menyembunyikan sesuatu, terlihat gelisah dan juga tadi perginya buru-buru."


"Mungkin perasaan Mama aja, itu anak kan, memang begitu. Sudah malam, waktunya untuk istirahat. Bukankah besok pagi mau berangkat ke luar negri? ayo istirahat yang cukup."

__ADS_1


"Sepertinya Leyza tetap menolak deh, Pa." Kata Bunda Yuna merasa pesimis dengan jawaban yang akan disampaikan oleh menantunya.


"Jangan begitu, berdoa saja. Semoga istrinya Raga mau menerima ajakan dari kita, dan kamu tidak memikirkannya dengan cemas."


"Ya sih, Pa. Semoga saja, Leyza mau menerima ajakan dari kita."


"Ya sudah, ayo kita kembali ke kamar." Ajak Tuan Hamas pada istrinya.


"Ma, Pa, tunggu." Panggil Leyza yang tiba-tiba menghentikan langkah kaki mertuanya.


Tuan Hamas dan istrinya langsung memutar balikkan badannya.


"Nak Leyza, ada apa?"


Sahut ibu mertua dan bertanya dengan jarak yang tidak begitu dekat.


Leyza tidak menjawab dan memilih berjalan mendekati ayah mertua dan ibu mertuanya.


"Ada apa, Nak?" tanya Bunda Yuna mengulang perbuatannya.


"Leyza menerima ajakan Mama dan Papa. Besok, Leyza ikut pergi ke luar negri. Keputusan ini sudah bulat, Ma, Pa." Jawab Leyza berterus terang pada mertuanya.


Bunda Yuna tersenyum bahagia saat mendengar jawaban dari menantunya, jawaban yang dinanti-nanti.


"Apakah keputusan kamu ini benar-benar serius? Mama tidak ingin, jika kamu berbohong."


Gantian Leyza yang tersenyum, lalu meraih tangan ibu mertuanya.


"Leyza serius, Ma. Keputusan Leyza sudah bulat, dan tidak ada kebohongan apapun kepada Mama dan juga Papa." Jawab Leyza meyakinkan ibu mertuanya, maupun ayah mertua.


Bunda Yuna langsung memeluk erat tubuh menantunya, dan melepaskan kembali pelukannya. Kemudian, menc*ium kedua pipinya secara bergantian.


"Mama percaya sama kamu, Nak. Terima kasih ya, sudah mau menerima ajakan Mama." Ucap Bunda Yuna dengan perasaan lega dan juga bahagia.


"Sama-sama, Ma. Justru, Leyza yang seharusnya mengucapkan banyak terimakasih kepada Mama dan Papa, karena sudah mau menerima Leyza dengan perhatian kalian berdua." Jawab Leyza yang juga merasa mendapatkan perhatian penuh dari ayah mertua dan ibu mertua.


"Jangan berlebihan, sudah menjadi tanggung jawab kami atas diri kamu, Nak. Justru, kamilah yang harus banyak-banyak mengucapkan terimakasih kepada kamu. Kalau bukan karena ayah kamu, hidup kami tidak akan seperti ini." Ucap Bunda Yuna sambil menunduk, begitu juga dengan Tuan Hamas.


"Mama, kenapa menunduk? Leyza yakin, jika keputusan Papa memang benar, tapi ..." jawab Leyza yang tiba-tiba menggantungkan kalimatnya.

__ADS_1


"Tapi kenapa, Nak?" tanya Tuan Hamas ikut menimpali karena rasa penasarannya Beliau.


'Tidak mungkin jika aku mengatakan untuk berpisah dengan Raga, putranya.' Batin Leyza yang tak kuasa untuk berterus terang, meski dirinya pernah mendengar perseteruan antara suami dan ayah mertuanya, tetap saja merasa tidak enak hati untuk mendahului.


"Nak Leyza, tapi kenapa?"


Panggil Bunda Yuna yang juga ikut penasaran dengan kalimat yang menggantung.


"Tidak ada apa-apa kok, Ma. Sudah malam, Leyza pamit mau istirahat ya, Ma." Jawab Leyza mencoba mengalihkannya, Tuan Hamas dan istrinya tak bisa memaksakan menantunya untuk menjawab pertanyaannya.


"Ya, silakan. Mama juga sudah mengantuk, tidurlah dan istirahat yang cukup." Kata ibu mertua, Leyza tersenyum dan mengangguk. Kemudian, ia bergegas pergi dan kembali ke kamar untuk beristirahat.


Berbeda dengan Raga, dirinya masih dibuat pusing untuk memecahkan permasalahannya sendiri akibat perbuatannya yang tidak mau bertanggung jawab atas kesalahan yang sudah diperbuat.


Sampainya di depan pintu gerbang, Raga membunyikan suara klakson mobilnya. Benar saja, seorang satpam dibuatnya kaget. Kemudian, langsung menginterogasi Raga dengan sangat detil.


"Pak, tolong buka pintunya. Katakan padanya, jika aku ini Raga Dirwagana, teman sekolahnya. Dan aku benar-benar ingin bertemu dengan Rafa, Pak." Ucap Raga memohon karena rasa tidak sabaran.


"Tunggu sebentar, Tuan. Saya harus melapor terlebih dahulu dengan Tuan kami." Jawab seorang satpam, Raga mengangguk dan mencoba untuk bersabar.


Cukup lama menunggu, akhirnya Pak Satpam telah kembali menemui Raga.


"Bagaimana, Pak?"


"Boleh, Tuan. Mari, silakan masuk." Jawab Pak Satpam dan membuka pintu gerbangnya, sedangkan Raga kembali masuk ke dalam mobil dan menyetirnya sampai di depan rumah milik teman lamanya.


Seorang pelayan menyambutnya dengan hangat, serta mempersilakan untuk masuk ke rumah.


Ketika sudah berada di ruang tamu, tiba-tiba bertemu dengan lelaki yang tidak asing bagi Raga. Betapa malunya saat melihat siapa lelaki yang ada dihadapannya sekarang.


"Bukankah kamu ..."


Raga menggantungkan kalimatnya.


"Ya, aku Ozan, teman istri kamu yang bernama Leyza, sekaligus kakak dari Rafa." Ucap Ozan berterus terang atas statusnya.


Raga sangat terkejut ketika mengetahui kebenarannya, jika lelaki yang sudah diacuhkannya tadi, rupanya kakak dari temannya sendiri.


"Hei! Raga, tumben main ke rumah." Panggil Rafa sambil berjalan, lalu adu tangan seperti kebiasaannya dulu saat masih sekolah.

__ADS_1


"Ya, sudah lama aku tidak pernah main ke rumah kamu, makanya aku main." Jawab Raga, sedangkan Ozan pergi dari hadapan adiknya dan juga Raga.


__ADS_2