Istri Pilihan Ayah

Istri Pilihan Ayah
Mendapatkan saran


__ADS_3

'Tumben si Bos terlihat semangat gitu, gak seperti hari kemarin, udah kek baju lipet.' Batin Doni ketika mendapati Raga yang terlihat bersemangat.


"Bos." Panggil Doni sambil melambaikan tangannya didepan wajah Raga dengan tingkah yang sudah menjadi kebiasaannya.


"Tumben panggil Bos, kemarin-kemarin panggil Tuan." Kata Raga sambil menyingkirkan tangan Doni.


"Bibirku terasa kaku, Bos. Enakan juga panggil Bos, enak kalau mau ngerjain."


"Sembarangan, kamu ini."


"Ngomong-ngomong, tumben nih Bos Raga terlihat bugar. Perasaan Istri Bos Raga tidak ada di rumah, tidak sedang kambuh kan, Bos?" tanya Doni tanpa canggung.


"Hem, biasa aja kali. Sudah, cepetan duduk." Jawab Raga meminta Doni untuk segera duduk.


"Memangnya ada pekerjaan apa sih Bos, sampai-sampai harus dilaksanakan dan cepetan datang."


"Aku mau minta ide sama kamu, Don."


"Ide? memangnya ide apaan, Bos?"


"Makanya cepetan duduk, nanti kamu akan mengetahuinya sendiri." Jawab Raga, sedangkan Doni segera duduk berhadapan dengan Raga.


'Semoga saja, perintah dari Bos Raga tidak melibatkan masalah baru. Kalau sampai berurusan dengan Tuan Ozan, mam*pus-lah aku.' Batin Doni segala Kecemasan.


"Sepertinya kurang pas, jika aku bercerita di ruangan terbuka seperti ini. Bagaimana kalau ke ruangan kerjaku, jauh lebih aman." Kata Raga setelah dipikirkan lagi, Doni hanya mengangguk dan menuruti perintah dari Bosnya.


Tidak ingin waktunya terbuang sia-sia karena harus beristirahat untuk menempuh perjalanan yang cukup jauh, Raga mengajak Doni masuk ke ruang kerja.


Saat keduanya sudah berada di dalam ruangan tersebut, Raga dan Doni duduk saling berhadapan.

__ADS_1


"Pekerjaan apa sih Bos, yang akan Bos Raga berikan untukku. Jadi penasaran, tidak untuk menjadi mata-mata kan, Bos?" tanya Doni dengan rasa penasaran.


"Tidak, aku hanya meminta ide darimu, itu saja dan tidak ada hal penting lainnya." Jawab Raga dengan serius.


"Baiklah, katakan saja." Kata Doni yang juga menanggapinya dengan serius.


Tidak ada lagi yang harus disembunyikan, akhirnya Raga memberanikan diri untuk membuka suara. Tidak peduli baginya, jika dirinya akan dinyatakan sangat konyol maupun norak, sekalipun.


"Begini, besok aku mau pergi ke luar negri. Nah, awalnya aku dilarang untuk ikut menemani istriku. Dan, pada akhirnya aku diizinkan untuk menyusul istriku." Ucap Raga dan sejenak mengatur napasnya.


"Terus, apa yang harus aku lakukan, Bos?" tanya Doni.


"Nah, masalahnya disitu, Don."


"Masalah yang bagaimana, Bos?" tanya Doni kembali yang masih belum juga mengerti.


"Aku ingin meminta maaf kepada istriku, dan maaf-ku bisa diterima. Sedangkan aku sendiri tidak tahu harus bagaimana mengungkapkan kata maaf kepada istriku dan bisa menerima permohonan maaf-ku, Don?"


"Gampang yang bagaimana maksud kamu? jelas-jelas sangat sulit untuk mendapatkan kata maaf darinya."


"Meminta maaf lah dengan tulus. Lakukan yang menurut Bos Raga itu baik, sekalipun istrinya Bos sendiri tidak mau memaafkan. Setidaknya selalu memperlakukan seorang istri dengan sebaik mungkin." Jawab Doni memberi penjelasan kepada Raga.


"Ya, tapi bagaimana caranya? berikan aku contohnya."


"Ya memberi perhatian kepada istrinya Bos Raga sendiri. Lakukan hal-hal baik, begitulah intinya Bos. Jangan sampai mengabaikan istrinya Bos sendiri, itu poinnya. Kalau sampai tidak juga mau memaafkan, setidaknya Bos Raga sudah berusaha untuk meminta maaf. Bukan berarti Bos Raga harus mengabaikan istrinya Bos, jangan." Kata Doni memberi penjelasan yang cukup detail.


Raga yang sudah mendengarnya, sejenak untuk mencoba untuk mencernanya.


"Sudah kan, Bos? aku harus segera pulang. Karena aku juga mempunyai pekerjaan yang masih menumpuk, aku juga perlu sukses sepertimu."

__ADS_1


"Ya, pergilah jika kamu sedang sibuk. Terima kasih sudah memberiku penjelasan dan juga saran yang baik, juga bisa aku terima."


"Sama-sama, Bos. Semoga berhasil ya, Bos. Jika belum, tetap bersikap layaknya suami. Bertanggung jawab dan tidak untuk membuat sakit hati. Bukannya aku nyindir nih Bos, aku hanya mengikuti kata mutiara yang aku dapatkan." Kata Doni, Raga mengangguk.


"Ya sudah, aku pulang. Aku doakan, semoga semua akan baik-baik saja. Selamat malam dan selamat beristirahat, sekali lagi aku pamit pulang."


"Ya, hati-hati." Kata Raga, Doni mengangguk dan bergegas keluar dari ruang kerja Bosnya.


Sampainya di bawah anak tangga yang terakhir, Doni bertemu dengan Tuan Hamas.


"Selamat malam, Tuan." Sapa Doni dengan ramah.


"Malam juga, Don. Ada perlu apa kamu datang ke rumah?"


"Tidak apa-apa, Tuan. Hanya diminta untuk memberinya saran saja kepada Tuan Raga, tidak lebih." Jawa Doni.


"Saran apaan?"


"Untuk meminta maaf kepada Nona Leyza, Tuan."


"Terus, saran apa yang kamu berikan kepada putraku?"


"Untuk meminta maaf dengan tulus, dan memperlakukan istrinya dengan baik. Hanya itu yang bisa saya sampaikan kepada Tuan Raga, Tuan." Jawab Doni meyakinkan Tuan Hamas.


"Yakin cuma itu saja?" tanya Tuan Hamas yang kedengaran seperti mendesak, Doni mengangguk.


"Yakin, Tuan. Saya tidak sedang berbohong, yang saya katakan memang benar adanya." Jawab Doni yang terus mencoba meyakinkan Beliau.


"Aku percaya sama kamu, ya sudah kalau kamu mau pulang. Besok tugas kamu untuk menggantikan putraku, berangkat lah tepat waktu." Ucap Tuan Hamas, sekaligus mengingatkan Doni.

__ADS_1


"Baik, Tuan. Kalau begitu, saya permisi." Jawab Doni dan berpamitan untuk pulang, Tuan Hamas mengangguk.


Karena tidak ingin menjadi lama berada di rumah Bosnya, Doni cepat-cepat untuk pulang.


__ADS_2