
Pernikahan yang tak pernah hadir didalam benak Leyza maupun Raga, kedua sudah sah menjadi suami-istri menurut agama dan juga hukum.
Susah payah untuk menolak perjodohan dari orang tuanya, tetap saja tak mampu untuk menggagalkannya.
Semua para tamu undangan dan juga sanak saudara tidak lagi berada di acara pernikahan, semuanya telah pulang di rumahnya masing-masing.
Yang tersisa hanya Tuan Hamas beserta anak dan istri, juga menantunya.
Tidak ada lagi yang tertinggal, Tuan Hamas mengajak anggota keluarganya untuk pulang ke rumah utama.
Karena tidak ingin terjadi sesuatu pada menantunya, Beliau sama sekali tidak memberi hadiah sebuah kamar hotel yang mewah untuk pengantin. Bukan berarti pelit, hanya saja takut dengan sikap putranya yang mudah menindas siapa saja.
Apalagi pernikahannya berawal dari sebuah perjodohan dan mempunyai rupa yang tidak disukai oleh putranya, Tuan Hamas memilih jalan yang menurutnya baik untuk anak dan menantunya.
Selama perjalanan menuju rumah, Raga dan Leyza sama-sama tidak berucap sepatah katapun di antara keduanya. Hening, semua diam termasuk Pak Supir.
Cukup lama dalam perjalanan pulang, akhirnya sampai juga di halaman rumah besar. Raga yang dasarnya tidak menyetujui atas pernikahan dengan Leyza, segera turun lebih dulu tanpa mengajak istrinya.
Leyza yang melihat suaminya turun lebih dulu, dirinya tetap bersikap tenang dan tidak untuk menyimpan kekesalan.
"Nona, bersabarlah. Tuan Raga memang begitu, sebenarnya sangat baik." Ucap Pak Supir, Leyza mengangguk.
"Ya, Pak. Kalau begitu, saya duluan." Sahut Ley dengan posisi duduk di belakang kemudian sambil melepaskan sabuk pengamannya.
Kemudian, Ley segera turun.
"Nak Leyza, Raga mana?" tanya ibu mertua ketika melihat menantunya sendirian.
"Sudah masuk ke rumah duluan, Tante." Jawab Leyza yang belum terbiasa dengan panggilan untuk ibu mertuanya.
"Kok, Tante. Kamu kan, sudah resmi menjadi istrinya Raga, panggil saja Mama." Ucap ibu mertua dengan aura yang terlihat begitu teduh.
"I-i-ya, Ma." Kata Leyza dengan gugup.
"Ya sudah, ayo kita masuk. Sudah malam juga, waktunya untuk beristirahat. Kamu pasti sangat capek, butuh istirahat yang cukup." Ucap ibu mertuanya, Leyza tersenyum sebelum menjawabnya.
__ADS_1
"Ya, Ma." Jawab Leyza yang tidak tahu harus berkata apa untuk basa basi, lantaran belum begitu dekat dan juga statusnya yang hanya istri perantara lewat perjodohan, pikirnya.
Sedangkan Lindan sendiri langsung masuk ke rumah dan langsung menuju kamarnya untuk beristirahat.
Leyza yang tidak tahu dirinya harus tidur dimana-nya, hanya berdiam diri saat sudah berada di ruang tamu.
"Leyza, kenapa masih berdiri di situ, Nak?" tanya ibu mertuanya.
Leyza tersadar dari lamunannya dan langsung tersenyum bingung karena tidak tahu harus melangkahkan kakinya kemana.
"Leyza tidak tahu harus masuk ke ruangan mana, Ma?"
"Ah ya, Mama sampai lupa. Kamar suami kamu ada di atas, pintu yang berwarna coklat." Ucap ibu mertua yang baru saja ingat, Tuan Hamas menggelengkan kepalanya lantaran sang istri telah lupa jika menantunya baru mau tinggal di rumah utama.
"Kamu itu, Ma. Leyza kan, baru juga mau tinggal di rumah ini. Tentu saja tidak tahu dimana kamar suaminya." Timpal Tuan Hamas pada istrinya.
Bunda Yuna tersenyum dan baru menyadari, begitu juga dengan Leyza yang juga ikutan tersenyum.
"Ya sudah, kamu masuk ke kamar suami kamu. Jangan takut dengan Raga. Kalau ada apa-apa, kamu bisa tekan bel yang ada didekat pintu kamar suami kamu." Ucap ibu mertua yang tak lupa memberi saran pada menantunya.
Leyza yang merasa badannya terasa capek dan ingin cepat-cepat beristirahat, ia segera berpamitan untuk masuk ke kamar suaminya.
Setelah itu, dengan hati-hati Leyza menapaki anak tangga hingga sampai didepan pintu kamar.
Dengan pelan, Leyza mengetuk pintunya.
Hening, tak ada respon sama sekali dari dalam kamar. Mungkin saja tidak mendengar suara ketukan pintu, Leyza mengulanginya lagi.
Tetap hening, sama seperti tadi yang tidak ada sahutan dari dalam kamar.
Merasa tidak mendapatkan respon dari suaminya, Leyza memilih untuk turun.
"Bodohnya aku, mana mungkin suamiku mau merespon ketukan pintu dariku. Bukankah dia sama sekali tidak mengharapkan kehadiranku." Gumamnya sambil menunduk, tanpa disadari pintunya sudah terbuka oleh suaminya.
"Masuk!" perintah Raga dengan suara yang kedengaran membentak.
__ADS_1
Leyza langsung mendongak, betapa terkejutnya saat menatap wajah suaminya yang terlihat begitu sangat tampan, tetapi minusnya sangat menakutkan dengan tatapan sinisnya.
"Mau masuk atau tidak?"
Leyza yang menyadari statusnya yang hanya sebatas istri yang tak dianggap, mencoba untuk tetap tenang dalam bersikap dihadapan sang suami.
'Kamu pasti bisa, Leyza.' Batinnya menyemangati diri sendiri sambil melangkahkan kakinya masuk ke kemar milik suaminya.
Raga yang masih dipenuhi kekesalan, segera mengunci pintunya.
Leyza yang tidak tahu harus bagaimana, dirinya memberanikan diri untuk bertanya. Tetapi, niatnya diurungkan. Dirinya menyadari jika kehadirannya sama sekali tidak dianggap oleh suaminya.
.
Raga yang malas mengajak istrinya untuk bicara, memilih mengabaikan dan tidak menganggapnya ada.
"Aku mau mandi, apakah ada baju ganti untukku?" tanya Leyza tanpa canggung.
"Tuh, di lemari sudah dipenuhi dengan baju-baju kamu." Sahut Raga sambil berbaring di atas tempat tidur.
Leyza yang sudah mendapatkan jawaban dari suaminya, ia segera mengambil baju gantinya. Setelah itu, masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sedangkan Raga yang merasa capek dan juga sudah sangat mengantuk, memilih untuk segera beristirahat. Bahkan, ada panggilan masuk saja tidak di hiraukan sama sekali.
Di lain tempat yang sedari menghubungi Raga, sama sekali tidak mendapatkan respon apapun walau hanya sekedar menerima panggilan telponnya.
"Sial! benar-benar sial. Awas saja, kalau sampai Raga meninggalkan aku demi perempuan si buruk rupa itu, aku tidak akan segan segan untuk melakukan apapun." Gerutu Karin dengan penuh kekesalannya dan langsung melemparkan ponsel miliknya sendiri di atas tempat tidurnya.
Berbeda dengan Leyza, tetap bersikap santai dan begitu memusingkan dengan pernikahannya sendiri walau tak akan temui titik bahagianya sekalipun.
Selesai membersihkan diri, Leyza segera keluar dari kamar mandi. Dengan rambutnya yang basah, Leyza segera mengeringkan rambutnya.
Dengan aroma yang begitu wangi, rupanya mampu membangunkan Raga yang baru saja memejamkan kedua matanya dan langsung menoleh pada istrinya yang tengah disibukkan dengan alat pengering rambut.
Karena luka hanya sebelah, pandangan Raga dapat menangkap wajah ayunya sang istri di bagian yang tidak ada lukanya. Tiba-tiba terpesona melihatnya, hidung yang bangir dan kulit yang mulus serta terlihat begitu sangat cantik.
__ADS_1
'Sialan, rupanya sangat cantik jika luka yang menyeramkan itu tidak ada. Bahkan, Karin saja kalah cantiknya.' Batin Raga saat melihat wajah istrinya lewat samping yang tidak didapati luka.