
Setelah perginya Ozan dari hadapan Leyza, Raga berjalan mendekati istrinya. Ada rasa cemburu bagi dirinyanya, sebisa mungkin untuk menutupinya.
"Kenapa dengan Ozan? kok langsung pergi?" tanya Raga yang sudah berdiri di sebelah istrinya.
Ley menoleh ke samping.
"Aku tidak tahu, tadi hanya berpapasan saja." Jawab Ley.
"Oh, kirain."
"Kenapa?" tanya Ley yang mendapati ekspresi suaminya yang terlihat cemburu.
"Tidak apa-apa, ayo kita jalan. Kita cari cemilan dan minuman dulu, habis itu kita ke taman, bagaimana?"
"Boleh," jawabnya.
Kemudian, Raga kembali menggandeng tangan istrinya, seraya tak ingin lepas dan tidak ada yang bisa merebut darinya.
"Tunggu,"
"Ada apa?"
"Beli minuman aja untukku, aku masih kenyang dan aku sedang tidak ingin makan makanan apapun, terkecuali minuman." Jawab Leyza.
"Yakin tidak mau cemilannya juga?"
"Tidak usah, minuman aja." Kata Leyza.
"Ya sudah, aku pesan dulu." Ucap Raga dan segera memesan minuman yang cocok untuk temani malamnya berdua di taman.
Setelah membeli minuman, Raga dan Ley kembali ke taman yang tidak jauh jaraknya, cukup jalan kaki.
Ketika sudah mencari tempat yang kiranya cocok dan nyaman untuk bersantai dengan istrinya, keduanya duduk bersebelahan.
"Ini, minuman untukmu." Ucap Raga sambil menyodorkan minumannya, Ley menerimanya.
"Terima kasih," jawab Leyza setelah menerima minuman untuknya.
"Kalau boleh tahu, apakah kamu masih mempunyai keluarga? soalnya kemarin itu aku tidak melihat bagian keluarga kamu selain orang yang mengasih kamu." Tanya Raga sambil menikmati minumannya.
"Aku sudah tidak mempunyai keluarga lagi, yang aku punya hanya kedua orang tuaku. Perempuan yang kamu temui di rumah itu, yang tidak lain seorang pengasuh dari aku kecil." Jawab Leyza menjelaskan.
"Aku kira masih bagian keluarga kamu, paman atau tante." Kata Raga.
"Bukan siapa-siapa, Beliau sangat bertanggung jawab dan orang kepercayaan orang tua. Dan aku sudah dianggapnya seperti anaknya sendiri."
"Kalau boleh tahu, kamu mengenal Aizan sejak kapan?" tanya Raga yang akhirnya mulai menyelidik.
Ley langsung menoleh padanya, sedangkan Raga menaikkan alisnya.
"Jawab pertanyaan dariku."
"Sebelum wajahku terluka, dan sebelum kamu melukai wajahku." Jawab Ley dengan jujur.
"Sudah lama berarti, apakah kamu masih sering berkomunikasi dengan Aizan?" tanya Raga yang memulai memberondong berbagai macam banyak pertanyaan untuk dirinya.
__ADS_1
"Sudah tidak lagi, sejak lulus aku tidak pernah berkomunikasi dengannya."
"Lulus kuliah atau lulus sekolah?"
"Kuliah,"
"Kenapa bisa putus? maaf, jika aku memberimu banyak pertanyaan dan seperti wartawan saja. Bahkan, tidak jauh beda dengan penyelidik."
"Tidak apa-apa jika ingin bertanya. Dari pada kita salah paham dan salah menuduh, itu yang akan bertambah masalah lagi. Aku putus karena sesuatu hal, mungkin juga karena kita tidak berjodoh."
"Serius, aku tidak ada maksud apapun denganmu. Sebenarnya aku hanya ingin tahu kebenaran apa yang sudah kamu jelaskan itu, memang benar adanya."
"Ya, aku ngerti kik. Oh ya, kamu mengenal Aizan juga?"
Raga mengangguk.
"Ya, aku sangat mengenalinya, karena dia adalah wujud pembully yang tidak pernah jera. Dulu aku itu penakut, bahkan bisa dikatakan lelaki culun dan tidak mempunyai kemampuan apapun. Banyak yang memandangku rendah dan penuh hina." Ucap Raga yang juga ikut menjelaskan tentang hidupnya.
"Ya, Rafa pernah bercerita denganku walaupun hanya sebagian kecil cerita tentang diri kamu."
"Terus, apa tanggapan kamu mengenai tentang diriku yang jauh beda antara yang dulu dan yang sekarang? katakan saja dengan jujur."
"Aku tidak mempermasalahkannya, karena setiap orang berhak untuk merubahnya, walaupun ada sisi yang terkadang kita diminta untuk mengoreksi diri sendiri.
"Kamu perempuan yang sangat berbeda dengan perempuan lainnya yang aku kenal, itu menurut pandanganku."
"Jangan berlebihan, tidak baik."
"Ya, aku serius. Bolehkah aku mengatakannya padamu? ini soal ajakan dan permintaan."
"Aku,"
Raga terdiam, terasa berat untuk mengatakannya.
"Ya, kenapa?" tanya Ley yang menjadi penasaran dengan apa yang akan diucapkan oleh suaminya, tiba-tiba menggantungkan kalimatnya.
"Aku mau mengajakmu untuk ..."
"Untuk apa? tanya sang istri kembali, lantaran begitu lama suaminya kembali terdiam.
"Aku mau menebus kesalahanku dengan mengembalikan wajah cantikmu yang sudah aku rusak, aku akan mengubah wajahmu seperti semula, tanpa ada luka yang membekas pada pipi kamu." Jawab Raga yang akhirnya mengeluarkan sesuatu yang sudah ia pendam sejak tadi.
"Untuk apa? apa karena kamu jijik mempunyai istri dengan wajah seperti ini?"
"Bukan itu maksudku, aku tidak ada sesuatu niat untuk menyinggung luka kamu. Aku hanya ingin menebus kesalahan yang sudah melukai wajahmu, tidak lebih dari itu."
Sejenak Leyza diam, mencoba untuk berpikir lebih jernih lagi. Ajakan dari suaminya tidak bedanya dengan permintaan ibu mertua.
Diam dan memejamkan kedua matanya untuk memberi jawaban kepada suaminya. Dengan napasnya yang teratur dan juga tidak seperti bergemuruh, tenang dan rileks.
Raga meraih tangan istrinya, mengharapkan istrinya mau menerima permohonan maaf dan juga tidak menolak untuk dilakukan pengobatan wajahnya.
"Maaf, sepertinya aku tidak bisa. Biarkan luka ini akan terus seperti ini, dan tak perlu untuk di sembuhkan."
"Kenapa? apa alasannya? katakan padaku."
__ADS_1
"Aku lebih nyaman yang seperti ini."
"Kamu jangan egois, kamu masih banyak waktu untuk menikmati hidup. Bukan dengan cara seperti ini, sangat disayangkan."
"Aku sudah ngantuk, badanku juga terasa capek, kita pulang saja." Ucap Ley mengalihkan obrolannya.
"Kita belum selesai bicara, selesaikan dulu permasalahan kita ini."
"Kita sudah tidak ada masalah apapun, kita sudah berdamai. Jadi tolong, jangan menambah masalah lagi."
"Aku menganggapnya sudah selesai, untuk pengobatan lukaku, aku menolak keras." Ucap Leyza yang tetap bersikukuh dengan keputusannya.
Saat itu, Raga langsung menarik tangan istrinya ke suatu tempat yang dimana dirinya akan melakukan hal yang sama seperti dirinya lakukan pada istrinya.
"Kamu mau membawaku kemana?" tanya Leyza sambil melepaskan tangan suaminya yang begitu kuat.
Sampainya di warung makan dipinggir jalan, Raga meminjam korek api pada pemilik warung makan tersebut. Awalnya menolak, tetapi akhirnya mendapatkan izin untuk meminjam korek api.
Apapun sejenisnya, tetap harus waspada dengan benda yang bisa mengakibatkan bahaya.
Kemudian, Raga mencari tempat yang tidak begitu ramai dan tidak peduli dengan CCTV jalanan yang dapat memantau secara detail. Tepatnya, dibawah pohon yang cukup besar.
"Kamu sudah gila, apa yang akan kamu lakukan?"
Raga tidak meresponnya, ia langsung merobek bagian jaketnya untuk dijadikan alat bakar. Raga langsung menyalakan apinya dan menyalakannya pada kain robek dari jaketnya.
Ley sangat terkejut melihat aksi dari suaminya itu, benar-benar sangat konyol, pikirnya.
"Lihatlah kain ini, aku akan menempelkan kain bakar ini ke wajahku, biar impas dan kamu tidak perlu khawatir lagi, karena aku membalasnya sesuai yang kamu rasakan. Biar kita impas, dan aku tidak lagi merengek dan merayu kamu untuk dilakukannya pengobatan. Yang intinya, aku sudah lepas tangan dengan luka yang kamu miliki."
"Aaaa!"
BRUG
Belum juga berhasil, Raga sudah terjatuh lebih dulu sebelum menempelkan kain yang di bakar ke pipi kanannya, seperti luka istrinya.
"Kamu ini benar-benar sudah gila, ya! sangat gila." Bentak Leyza setelah mendorong tubuh suaminya cukup kuat, hingga terjatuh.
Kemudian, Ley langsung mematikan apinya yang menyala-nyala.
"Kenapa kamu menghalangiku? biarkan aku terluka seperti kamu, agar kita ini impas. Dan aku tidak pusing untuk selalu merayumu." Ucap Raga sambil menahan rasa sakit pada bagian pinggangnya.
"Baiklah, aku akan terima permohonan darimu. Tapi ada syaratnya, itupun kalau kamu sanggup. Jika tidak, aku tidak akan menerima kata maaf darimu, titik." Jawab Leyza dan tak lupa memberi syarat kepada suaminya sendiri.
"Benarkah kamu sedang tidak berbohong denganku?" tanya Raga memastikan.
"Janji dan tidak berbohong, syaratnya setelah aku wajahku sembuh, kita berpisah." Jawab Leyza yang tidak merubah yang sudah menjadi keputusan yang mutlak.
"Apa! berpisah? tidak, mana aku bisa?"
Raga sendiri terkejut dan tidak percaya dengan syarat yang diberikan oleh istrinya.
"Seperti yang kamu terima janji dari orang tua kamu, yang siap untuk dipisahkan." Ucap Leyza.
"Itu sangat berat, mana mungkin aku bisa." Kata Raga mengeluh, dan berharap syaratnya akan dirubah, pikirnya.
__ADS_1
"Aku tidak mau tahu, hanya itu syarat dariku. Jika tidak mau, juga tidak apa-apa."