Istri Pilihan Ayah

Istri Pilihan Ayah
Ikut cemas


__ADS_3

Raga yang dikuasai oleh emosinya, ia langsung menyambar jaket serta dompetnya. Kemudian ia keluar dari kamarnya, entah kemana akan pergi.


Saat membuka pintu kamar, Raga menghentikan langkah kakinya saat sang istri sudah berdiri di depan pintu hendak masuk ke kamar.


Ley yang memperhatikan penampilan suaminya yang terlihat akan pergi dari rumah, hati kecilnya merasa ada sesuatu yang tidak ia ketahui.


"Minggir, aku mau keluar." Ucap Raga pada istrinya.


"Kemana?" tanya Ley.


"Apa urusan kamu bertanya kemana perginya diriku, bukankah kamu yang menginginkan kita berpisah? yang berarti, ini keputusan kamu, bukan?"


Ley hanya menatapnya, tetapi tidak untuk menjawab pertanyaan dari suaminya.


"Kamu tidak bisa menjawabnya, 'kan? jadi, jangan halangi aku untuk pergi. Biarkan aku bebas, kalau kamu ingin melepaskan aku."


"Pergilah, kamu benar, dan aku yang meminta untuk berpisah." Ucap Ley dengan napas yang cukup terasa berat.


Raga yang sudah mendengar jawaban dari istrinya, ia langsung pergi keluar, tentunya pergi dari rumah.


Tiba-tiba Ley yang takut terjadi sesuatu pada suaminya, ia langsung mengambil ponsel dan juga jaket tebalnya yang sudah mulai masuk musim semi.Raga yang sudah keluar dari rumah, ia terus berjalan dan tak berhenti walau sejenak.


Saat melihat taman yang tidak jauh dari pandangannya, Raga mendatangi taman tersebut. Biasanya lelaki mendapatkan masalah akan lari ke suatu tempat yang ramai seperti diskotik, tetapi tidak untuk Raga, dirinya tidak mau mengotori harga diri dengan sesuatu yang sangat merugikan.


Pada akhirnya, Raga memilih meluapkan segala kekesalannya di taman, tidak dengan minuman beralkohol. Tetapi, tidur di atas rumput yang luas, nyaman untuknya tidur dengan menatap langit-langit penuh pencahayaan bintang tanpa awan yang menyelimutinya, tak seperti suasana hatinya yang sekarang.


Semua orang yang melihatnya, tak ada satupun yang membicarakan dirinya. Semua cuek dengan apa yang dilakukan Raga.


Ley yang kehilangan arah suaminya pergi, sejenak ia berhenti di perempatan lampu lalu lintas jalan.


"Kemana perginya? apakah dia pergi ke diskotik? tapi, aku rasa tidak mungkin. Tapi, bisa jadi, tidak mungkin jika dia tidak mempunyai kenalan di negara ini. Sangat mustahil jika dia tidak menghubungi temannya." Gumamnya sambil celingukan mencari kemana perginya sang suami.

__ADS_1


Sudah beberapa jam, tidak juga Ley menemukan keberadaan sang suami. Merasa frustrasi, Ley sejenak duduk di pinggiran taman mencoba untuk menghubungi adik dari suaminya.


Berharap, dapat membantunya untuk menemukan suaminya yang entah kemana perginya.


Saat mau menghubungi adik dari suaminya, tiba-tiba panggilan masuk dari Lindan sendiri.


["Ya, ada apa?"] tanya Ley lewat sambungan telponnya.


Ley terdiam ketika Lindan menanyakan dirinya ada dimana, dengan siapa dan kenapa tidak pulang-pulang?


["Sebentar lagi kita pulang, jangan khawatir."] Jawab Ley beralasan, takutnya semua akan khawatir dan menyalahkan dirinya karena ucapannya yang ada di dapur.


Tentu saja, perdebatan antara dirinya dengan sang suami dapat dilihat oleh rekaman CCTV yang ada di dapur. Ley semakin gelisah, dan langsung mematikan sambungan telponnya.


Karena tidak ingin membuat khawatir ibu mertua, Ley kembali melanjutkan perjalanannya walau hanya dengan jalan kaki.


Sedangkan Ozan yang juga merasa khawatir jika terjadi sesuatu pada Leyza, ia langsung pamit untuk mencari keberadaannya.


"Ozan mau mencari Raga dan Leyza, Tante." Jawab Ozan berterus terang.


"Jangan, tunggu sampai lewat tengah malam." Perintah Bunda Yuna mencegahnya.


"Kalau terjadi sesuatu dengan Leyza, bagaimana, Tante?"


"Ya, Ma. Yang dikatakan Kak Ozan itu ada benarnya, keselamatan kakak ipar itu penting. Mana dia itu perempuan, takutnya ada apa-apa dengannya. Ya memang, negara ini sangat aman untuk keluar malam, tetapi setidaknya kita berjaga-jaga." Sahut Lindan ikut berbicara.


"Baiklah, kalian berdua boleh pergi untuk mencari Ley dan juga Raga. Biar Mama yang akan meminta bantuan dengan orang kepercayaan Papa kamu disini, Lindan." Ucap Bunda Yuna yang akhirnya mencari bantuan untuk mencari keberadaan putranya dan juga menantunya.


"Ya, Ma. Kalau begitu, kita berdua pamit." Jawab Lindan dan segera mengambil jaketnya yang ada di kamar. Kemudian, keduanya segera pergi dari rumah.


Masih di taman, Raga masih dengan posisi mata yang terpejam setelah kedua matanya merasa lelah ketika menatap pada bintang-bintang yang bertebaran di langit.

__ADS_1


Ley yang sedari tadi mencari keberadaan suaminya yang tak kunjung ditemukan, dirinya merasa frustrasi. Ingin meminta bantuan, tapi takut akan masuk ke berita dan membuatnya malu.


Tidak ada pilihan lain selain untuk beristirahat, Ley mengitari taman yang begitu terang pencahayaannya.


Merasa jenuh dan juga tidak membuahkan hasil, Ley seakan menyerah dan memilih untuk pulang. Namun, tiba-tiba pandangannya tertuju pada seseorang yang terlihat tengah berbaring beralaskan rerumputan.


Pelan-pelan Ley berjalan mendekatinya, takut akan salah menebaknya.


Semakin dekat, perkiraan Ley semakin yakin bahwa yang dilihat itu yang tidak lain suaminya sendiri.


Dan benar saja, apa yang ia lihat adalah benar adanya. Dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkan suaminya, Ley duduk disebelahnya.


Kemudian, pelan-pelan ikut mensejajarkan posisinya. Tepatnya sama-sama berbaring dengan posisi yang sama dengan kedua tangan dijadikan alas kepalanya layaknya bantal yang ternyaman.


"Apakah seperti ini untuk menyelesaikan masalah?" tanya Ley yang tidak begitu peduli jika pertanyaan darinya tidak dapat didengar oleh suaminya.


Benar saja, Raga langsung membuka kedua matanya dengan sempurna. Lalu, menoleh ke samping. Dilihatnya sang istri yang sudah berbaring dengan posisi yang sama, sambil menatap ke langit yang dipenuhi bintang-bintang yang bertaburan.


"Memangnya cara seperti apa untuk menyelesaikan masalah? kalau ujungnya harus berpisah, untuk apa?" sahut Raga dan balik bertanya.


"Lalu, untuk apa kamu mencari-ku? bukankah ujung-ujungnya nanti juga di buang. Seharusnya kamu itu senang, dan tidak repot-repot mengurusi diriku, karena aku bisa pergi sendiri sebelum diminta untuk berpisah, setidaknya sih begitu." Sambungnya lagi.


Merasa sesak bagian dadanya ketika untuk menarik napasnya, Ley membenarkan posisinya untuk duduk. Kemudian, ia mengatur pernapasan agar tudaj sesak ketika bernapas.


Begitu juga dengan Raga, sama halnya membenarkan posisi duduknya.


"Ada perlu apa sampai-sampai kamu mencari-ku? apakah kamu takut dengan Mamaku? atau, kamu takut ... maaf, tidak jadi. Tadi itu hanya pikiranku saja, jangan kamu pikirkan."


"Ya, aku takut semua akan menyalahkan aku. Makanya aku mencari kamu, dan aku tidak ingin berurusan dengan keluargamu." Jawab Leyza beralasan, karena tidak mempunyai jawaban yang menurutnya masuk akal, pikir Leyza.


"Sini berikan ponsel kamu, aku akan menghubungi Mamaku dan mengatakan padanya, bahwa aku baik-baik saja dan akan pulang tiga hari lagi." Ucap Raga sambil meminta ponsel istrinya.

__ADS_1


__ADS_2