
Hari diadakannya Dinner di rumah pihak perempuan pun tiba.
Andika memakai baju formal jas tanpa dasi dengan celana kain warna biru Dongker dipadukan kaos putih polos menampilkan betapa bidangnya dada seorang Andika dengan tinggi 180 cm. body proposal yang memberi kesan seksi ditubuh kekar Andika dipadukan sepatu pantofel hitam yang bersih mengkilap.
Sama dengan papa irham yang menggunakan pakaian formal jas berdasi, dengan usia yang sudah berlanjut papa irham terlihat berwibawa dengan menggandeng tangan sang istri. Mama Stella menggunakan dress sederhana tapi terlihat elegan dipadukan sepatu heels hanya dengan tinggi 5 cm, di usia yang terbilang tidak muda lagi, mama Stella terlihat cantik di umurnya yang terbilang sudah tidak muda.
Bagi mereka yang Tampan dan cantik sejak lahir, umur hanyalah sebuah angka. yang tidak memengaruhi pesona mereka.
Mereka menaiki mobil berbeda. Andika memakai mobil Pininfarina Sergio Ferrari, sebuah mobil yang berkisaran harga 69 miliar.
Sedangkan papa irham dan mama Stella memilih menggunakan mobil Lamborghini Gallardo harganya memang jauh lebih murah dari mobil yang di pakai Andika yang berkisaran 5 miliar.
Sesampainya di tempat tujuan, kesan pertama kali dari rumah si perempuan terbilang cukup sederhana dengan halaman luas dengan pagar hitam tinggi. Mereka disambut didepan pintu ada seorang laki-laki seumuran dengan papa irham dengan wanita berumur berhijab, Serta disampingnya terdapat gadis berhijab hitam sambil menunduk seperti ada yang lebih menarik di bawahnya.
"Assalamualaikum Yislam" Sapa papa irham hangat bertemu dengan sahabat lamanya.
"Waalaikumsalam" jawab bapak yang bernama Yislam tadi.
"Ayo ayo masuk, ngobrolnya di dalem aja" sambut wanita disamping pak Yislam kemungkinan adalah istrinya. Andika melihat gadis berhijab tadi menyalimi papa dan mamanya, sedikit heran kenapa ia tidak sedikitpun menatap atau melirik pria jangkung itu.
Padahal kalo orang lain pasti tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Hanya demi melihat wajah hampir sempurna Andika tapi berbeda dengan gadis ini.
'hmmm menarik' batin Andika tanpa sadar.
Terbuyar dari lamunannya, Andika bergantian menyalimi ayah dan bunda gadis itu sambil menampilkan senyumnya.
Mereka berjalan menuju meja makan dan mereka membudidayakan diam ketika makan.
Dalam dinner tersebut hening hanya ada sendok garpu yang beradu dengan piring.
Selesai sudah dengan Acara dinner mereka. Pak Yislam mengajak ke ruang tamu sedangkan istrinya dan putrinya membuat jamuan untuk tamunya.
Menunggu jamuan nya jadi papa irham dan pak Yislam berbincang-bincang sedikit.
Setelah kehadiran istri dan putri pak Yislam ikut nimbrung, mereka to the point menjelaskan tujuan yang sebenarnya.
__ADS_1
"Sebelumnya gini Yislam"
Semua mata memandang papa irham yang akan melanjutkan ucapannya.
"ini Andika, putra yang aku bicarakan dulu padamu dan seminggu yang lalu baru pulang dari studi nya" terang papa irham memperkenalkan putranya.
"Waaah pangling aku liatnya, ternyata sudah sebesar dan tumbuh tampan yah dulu masih sangat kecil. iya kan bun" ujar pak Yislam meminta pendapat sang istri. Sheila Ramadhani.
"iyha pa. dulu masih ingusan hehe" ujar bunda Sheila bercanda. Andika yang mendengar itu merasa malu.
"Kalau ini putri ku namanya Hafidza, ini dia juga baru pulang pondok. minta izin 5 hari doang" jelas pak Yislam memperkenalkan putrinya.
"Cantik tuh Dik, yang kayak gitu jarang lho. udah langka sekarang, nanti nyesel lho kalo nggak mau sama dia" ujar papa irham mengejek putranya.
"Apa masih berlaku janji kita dulu untuk menjodohkan anak-anak kita?" lanjut papa irham melihat ke arah pak Yislam.
pertanyaan itu membuat diruang tamu seketika hening.
Keheningan terpecahkan dengan suara tawa pak Yislam.
"Kalo masalah itu saya setuju-setuju saja. tapi yang menjalani itu anak kita, jadi aku serahkan sepenuhnya pada putriku dan putramu" ucap pak Yislam membuat papa irham tersenyum.
Sesuai perintah ayahnya Hafidza berdiri masih dengan wajah menunduk. dengan ragu ia mengajak Andika.
"Emm A-ayo mas" ajak Hafidza gugup.
Melihat itu Andika hanya mengikuti kemana gadis itu pergi. sesampainya ia di sebuah taman yang tampak terang walaupun waktu yang sudah malam, dengan adanya lampu-lampu Tumbler serta lampu bundar yang ada tiangnya ditambah rembulan yang terang benderang.
Mereka duduk di kursi taman dengan menjaga jarak.
keheningan malam serta tidak adanya suara dari dua insan itu akhirnya Andika berdehem memecah keheningan.
"Ehemm....... Apa kamu menerima perjodohan ini?" tanya Andika sambil menoleh ke arah gadis yang masih betah dengan menundukkan kepalanya.
"Saya selaku pihak perempuan hanya mengikuti perintah orang tua saya. Saya hanya percaya pilihan ayah sama bunda itu yang terbaik" jawab Hafidza mantap.
Mendengar itu Andika hanya mengangguk anggukkan kepalanya.
"Kalau mas sendiri gimana?" lanjut Hafidza ganti meminta pendapat mempelai prianya.
__ADS_1
"Saya setuju dengan pendapatmu. tapi kalo misal saya menolak perjodohan ini bagaimana?" tanya Andika ingin melihat respon gadis didepannya.
Tanpa diduga Hafidza terkekeh sambil tersenyum masih dengan kepala menunduk, tapi bisa dilihat dengan mata Andika, membuat Andika tertegun melihat betapa cantiknya gadis ini.
"Saya percaya kok jodoh nggak akan kemana. kalau misal mas Andika menolak perjodohan ini berarti memang kita tidak ditakdirkan bersama" jawab Hafidza dengan tersenyum.
hafidza tersenyum manis sambil melihat mata hazel Andika yang juga menatapnya. hafidza sadar lalu memutus kontak mata itu, seketika ia merasa gugup dan malu padahal tadi sudah mulai rileks tapi kenapa sekarang nervous lagi.
"Kita tunggu saja nanti aku dan kamu butuh waktu. bukan sekarang kita untuk menjawab semuanya" ucap Andika memecah keheningan kembali.
hafidza hanya bisa mengangguk dan mengiyakan.
"apa kita langsung kedalam?" tanya Hafidza gugup ingin gimana.
"aku ingin lebih mengenal kamu!, apa tidak bisa kita di sini dulu?" tanya Andika sedikit tidak rela akan bertemu keluarga dan cepat berpisah dengan gadis cantik pemalu dengan pipi chubby nya serasa ingin menowel-nowel pipi itu.
"emmmh. emmmmh, ya udah nggak papa yang penting jangan lama-lama" ucap Hafidza gugup.
Tanpa diduga Andika tersenyum melihat Hafidza yang polos dan menggemaskan ini.
"kamu kan sudah alumni pondok, tapi kok katanya tadi ambil libur 5 hari?" tanya Andika membuat Hafidza mendongakkan kepalanya menatap Andika dengan mata bulatnya.
"Belajar sambil ngajar" jawaban singkat Hafidza bisa di fahami Andika.
Hafidza masih betah tinggal di pondok karena disana ia juga menjadi guru.
Saat Andika baru membuka mulutnya ingin bertanya terpotong dengan panggilan sang papa.
"Andika ayo pulang. kalo sama gadis cantik aja betah kamu" ujar papa irham bercanda membuat semua orang tertawa dan Hafidza hanya tersenyum.
mereka menghampiri orang tua mereka yang sudah berada didepan rumah.
"Terimakasih sudah mau datang irham" ucap pak Yislam sambil memeluk sahabat lamanya itu.
"Terimakasih juga atas makan malamnya yh Yislam" balas papa irham menepuk punggung pak Yislam.
Berbeda dengan bapak-bapak, ibu-ibu lebih memilih cipika cipiki sambil mengucapkan terimakasih.
Andika menyalimi orangtua Hafidza dan juga sebaliknya, Hafidza menyalimi orangtua Andika.
__ADS_1
ketika pandangan mata mereka bertemu, Andika dan Hafidza hanya bersalaman lewat tangan yang di satukan didepan dada tanpa menyentuh kulit masing-masing.