Istri Pilihan Ayah

Istri Pilihan Ayah
Tidak bisa berkata apa-apa


__ADS_3

Tuan Hamas bangkit dari posisi duduknya.


"Bangunlah." Perintah sang ayah yang meminta putranya untuk bangkit dari posisi duduknya.


Raga mendongak dan langsung berdiri di hadapan orang tuanya yang sudah berdiri didekat tempat duduk putranya. Kemudian, Tuan Hamas mendekati Raga yang sudah berdiri.


"Anakku, hidup itu tak semanis yang kita bayangkan. Kita hidup mempunyai masa lalu, bukan berarti kita boleh melupakannya. Terkadang, kita juga butuh untuk mengingatnya kembali." Ucap Tuan Hamas memberi ucapan kata mutiara untuk putranya.


Raga mengarahkan pandangannya lurus ke depan, terasa malu jika harus menatap ayahnya sendiri.


"Cinta bisa datang kapan saja, dari benci juga bisa. Begitu juga dengan sebuah penyesalan, bisa datang kapan saja, tetapi tidak untuk di awal masalah." Ucap Tuan Hamas yang tak henti-hentinya memberi nasehat kepada Raga, putra sulungnya.


Raga yang merasa tersindir atas ucapan dari ayahnya, masih tertunduk malu.


"Besok kamu Papa izinkan untuk menyusul istri kamu, soal memaafkan atau tidaknya, Papa tidak tahu. Karena pemilik hati sudah kamu sakiti itu, adalah milik istri kamu. Pergilah, jika kamu siap menanggung resikonya." Ucap Tuan Hamas setelah menepuk punggung milik putranya.


Seketika, Raga langsung menoleh pada sang ayah dan menatap Beliau dengan ekspresi seperti tidak percaya.


"Papa serius?" tanya Raga memastikannya.

__ADS_1


Takut, jika yang dikatakan oleh ayahnya, hanyalah modus semata.


"Papa serius dan tidak berbohong. Mandilah dan segera turun untuk makan malam, karena kamu harus bersiap-siap untuk menyusul istrimu di luar negri."


"Ya, Pa, ya. Terima kasih banyak, Pa." Ucap Raga dan langsung memeluk ayahnya karena kabar bahagia yang disampaikan untuknya.


"Tunggu,"


Tuan Hamas menghentikan langkah kaki putranya yang hendak berjalan.


"Ada apa lagi, Pa?"


"Kenapa kami diam?"


"Pa, aku tidak bisa memenuhi perjanjian itu. Bukankah cinta itu datang kapan saja, meski berawal dari benci."


"Papa hanya ingin kamu mempertanggungjawabkan atas yang kamu sepakati, Raga. Bukan untuk lari dari pertanggungjawaban." Ucap Tuan Hamas yang tetap bersikukuh dengan keputusannya yang dulu, sedikitpun tidak bisa goyah.


"Akan aku pikirkan lagi, Pa. Sudah sore, aku mau mandi dulu." Jawab Raga yang memilih untuk kembali ke kamar, daripada semakin penat untuk menjawab pertanyaan dari sang ayah, pikirnya.

__ADS_1


Tuan Hamas hanya mengangguk, sedangkan Raga sendiri kembali ke kamarnya.


"Semoga penyesalan-mu akan membuatmu lebih baik lagi, anakku." Ucap Tuan Hamas dengan lirih.


Kemudian, Beliau pergi ke taman belakang untuk duduk santai ditemani secangkir kopi panas.


Raga yang sudah berada didalam kamar, cepat-cepat membersihkan diri.


Rasa yang sudah tidak sabar ingin menyusul istrinya, terasa lama bagi Raga untuk menanti hari esok.


Tidak lama kemudian, Raga telah selesai membersihkan diri dan segera keluar dari kamar mandi.


Hanya mengenakan celana kolor tanpa baju, Raga tiduran di atas tempat tidur sambil menyibukkan diri dengan laptopnya.


Alih-alih mencoba untuk menghubungi ibunya, meski kenyataannya Raga ingin melihat istri walau hanya lewat panggilan video melalui ibunya.


Berulang kali mencoba untuk melakukan panggilan video dengan ibunya, sama sekali tidak mendapatkan respon.


"Perasaan nomornya sudah aktif, kenapa tidak menerima panggilan dariku?" gumam Raga dengan penuh tanya.

__ADS_1


__ADS_2