Istri Pilihan Ayah

Istri Pilihan Ayah
Merasa bahagia


__ADS_3

Raga yang tidak mempunyai pilihan lain demi istrinya mau melakukan pengobatan pada wajahnya yang terluka karena perbuatan darinya, Raga akhirnya menerima syarat dari istrinya walau syarat yang diberikannya itu memang sedikit menyakitkan.


Mau bagaimana lagi, Raga tak mampu untuk menebus kesalahannya selain menuruti permintaan dari istrinya.


"Baiklah, aku Terima syarat darimu. Jika kamu menginginkan kita untuk berpisah, aku siap menerimanya. Itu hak kamu, lagi pula pernikahan kita ini hanyalah perjodohan dan aku menyadarinya dengan semua kesalahan aku padamu di masa lalu. Jadi, aku tidak akan mengatur dan mengusik kamu lagi setelah wajah kamu kembali seperti semula." Ucap Raga berusaha untuk menahan rasa sesak di dadanya.


'Aku yakin jika kamu akan memilih Ozan daripada aku, pasti ada sesuatu yang sudah kamu rencanakan untukku. Kamu sengaja ingin membalaskan dendam padaku setelah semua ini terjadi, dan kamu akan menerima cinta dari Ozan.' Batin Raga menebak dengan apa yang bisa ia cerna dengan setiap memahami sikap dan cara bicara dari istrinya.


"Terima kasih, kalau begitu ayo kita pulang. Aku sangat capek dan ingin beristirahat. Karena besok, kita harus menyelesaikan kerja sama diantara orang tua kita masing-masing. Secepatnya kita harus selesaikan, aku tidak ingin ada masalah diantara persahabatan orang tua kita." Ucap Ley dan bangkit dari posisi duduknya.


Raga hanya bisa nurut dan ikut pulang dengan istrinya, tak lupa juga untuk menggandeng tangannya.


Sambil berjalan beriringan, rupanya ada sepasang mata yang sedang mengawasinya. Raga dan Ley tidak begitu memperhatikan jika tengah diperhatikan.


Sampai di rumah, suasana sepi dan juga hening. Karena sudah tidak dapat menahan rasa kantuk, Raga dan Ley segera masuk ke kamar dan beristirahat.


Karena bingung harus tidur dimana, Ley duduk di sofa sambil bersandar setelah melakukan ritualnya sebelum tidur, yakni mencuci muka dan lainnya.


Raga yang baru saja keluar dari kamar mandi, mendapati sang istri yang masih duduk di sofa sambil bersandar dengan memejamkan kedua matanya. Ley sendiri tidak menyadarinya, jika sang suami sudah keluar.


Merasa kasihan melihat posisi tidur istrinya, Raga mendekati dan memindahkannya ke tempat tidur.


Ley yang sangat mengantuk, tak peduli jika dirinya dipindahkan oleh suaminya ke tempat tidur.


Pelan-pelan Raga menidurkan istrinya, takut terbangun dan menolaknya.


Seketika, Ley membuka lebar kedua matanya. Saat itu juga, Raga menc*ium bibir milik istrinya dengan lembut dan membuat Ley tercengang.


"Tidurlah, sudah malam. Jangan pindah tempat, ada bantal guling yang bisa dijadikan penghalang." Ucap Raga yang seolah-olah tidak terjadi apa-apa barusan.

__ADS_1


Ley masih menatapnya, ada kesal dan juga geram.


"Jangan memandangiku seperti itu, yang ada kamu akan membuatku semakin menggila." Sambungnya lagi ketika mendapati tatapan panas dari istrinya.


Ley tidak menanggapinya dan memilih mengganti posisinya dengan memiringkan badannya.


Raga tersenyum saat mendapati istrinya yang tidak menamparnya dengan kuat, cukup berhasil, pikirnya.


Raga yang juga ingin beristirahat, tidur disebelah istrinya.


Melihat Ley yang tidak mengenakan selimut, Raga menyelimutinya dengan selimut yang ia pakai. Ley tidak meresponnya, lagi-lagi hanya diam dan tidak memperdulikannya.


"Selamat tidur, semoga mimpi indah." Ucap Raga setelah menyelimuti tubuh istrinya, Ley masih saja diam dan membiarkannya.


Raga yang sangat mengantuk, sebisa mungkin untuk menjaga kesadarannya. Setelah mengetahui istrinya sudah tidur dengan lelap, kini Raga melakukan aksinya dan membuang pembatas bantal gulingnya.


Kemudian, pelan-pelan menggeser posisi tidurnya dan mendekat pada sang istri.


'Setidaknya aku mempunyai sesuatu yang dapat aku ingat saat aku tidur denganmu, walau ini sebuah pemaksaan dariku.' Batin Raga sebelum memeluk tubuh istrinya.


Ketika Raga dapat memeluk istrinya, ia merasa damai dan mampu memejamkan kedua matanya dan keduanya tidur dengan lelapnya.


Semakin lama, telah berubah formasi tidur diantara keduanya. Kini giliran Ley yang memeluk suaminya dengan posisi saling menghadap. Bahkan jarak diantara keduanya sangat dekat dan hanya beberapa inci, maju sedikit saja, keduanya saling menempelkan bibirnya masing-masing.


Berbeda di ruang kamar yang lain, Ozan tidak mampu untuk memejamkan kedua matanya, pikirannya terus melayang lantaran memikirkan Ley yang selalu datang dalam ingatannya.


"Leyza, Leyza, dan Leyza. Tidak seharusnya aku memikirkan dia, Ley sudah menikah dengan Raga, dan aku tidak seharusnya mengejarnya." Ucapnya dengan frustrasi karena harus gagal mendapatkan cinta darinya.


Terasa penat memikirkan perempuan yang di sukainya, Ozan memejamkan kedua matanya untuk tidur, walau sangat sulit sekalipun.

__ADS_1


Malam semakin larut dan waktu begitu cepat untuk menyambut pagi hari, Leyza terbangun dari tidurnya.


Betapa terkejutnya saat mendapati dirinya sendiri dengan posisi memeluk tubuh suaminya. Kedua matanya terbelalak saat menatap suaminya yang juga sudah membuka lebar-lebar kedua matanya.


Raga merentangkan kedua tangannya dan tersenyum menggoda.


"Bukan aku yang memelukmu, tapi kamu." Ucap Raga dan menempelkan bib*irnya tepat pada milik istrinya.


Ley membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna saat merasakan sentuh*an dari bibir suaminya.


"Selamat pagi, istriku." Sapa Raga dengan senyum yang menggoda, yang menurut istrinya sok romantis, pikir Leyza.


Leyza langsung membuang muka ke sembarang arah, dan melepaskan diri saat tanpa sadar sudah memeluk suaminya. Kemudian, ia bergegas bangun dari posisi tidurnya dan masuk ke kamar mandi untuk menghilangkan kegugupannya.


"Sia*lan, seharusnya tadi aku tampar dia sampai memar, biar tahu rasa itu orang." Gumam Leyza sambil melakukan ritualnya setelah bangun tidur.


Raga yang mendapati sikap dari istrinya, membuatnya terbawa oleh angan-angan.


"Aku akan melakukan apa saja demi mendapatkan kamu dan menjadi milikku sepenuhnya, tidak aku biarkan orang lain yang memilikimu." Gumam Raga masih dengan posisinya yang duduk di atas tempat tidur.


Merasa berhasil mendekati istrinya, Raga seperti mendapatkan stamina baru.


"Pernikahan macam apa ini, tidak mempunyai kesan setelah statusku menjadi seorang suami." Gumamnya lagi saat sudah berdiri di depan cermin sambil melihat penampilannya dari bangun tidur, berantakan dan seperti tidak terurus.


Cuaca yang semalam begitu dingin karena bekas di guyur air hujan, Raga menuju balkon dan menghirup udara segar di pagi hari.


Benar saja, udaranya sangat segar, ditambah lagi sepinya kendaraan yang lalu lalang, melainkan banyak pejalan kaki.


"Damai sekali tempat ini, aku baru menyadarinya. Selama ini aku hanya menganggap liburanku itu hanya sekedar penghilang penat saja, tetapi tidak untukku nikmati." Ucapnya lirih sambil melihat jalanan dan dapat menangkap taman dari atas yang terlihat begitu sejuk untuk di pandang, lantaran banyaknya pepohonan yang mengelilingi taman tersebut.

__ADS_1


Pelan-pelan Raga menarik napasnya dan membuangnya, pun dengan pelan. Benar-benar menikmati udara segar di pagi hari.


__ADS_2