Istri Pilihan Ayah

Istri Pilihan Ayah
Pengakuan


__ADS_3

Leyza yang mengerti dengan apa yang diucapkan oleh suaminya, ia meletakkan piringnya. Kemudian Ley meraih tangan suaminya.


"Aku mau menjadi istrimu untuk selamanya, selama napas ini berhenti dan detak jantungku tidak lagi berfungsi." Ucap Leyza dan meletakkan telapak tangan milik suaminya tepat di dadanya.


Raga menjauhkan tangannya, masih ada keraguan dengan apa yang diucapkan oleh istrinya sendiri.


"Apa karena melihat kondisiku seperti ini, hingga kamu ucapkan kalimat seperti itu. Sudahlah, jika kamu terpaksa, tak perlu kamu merubah kalimat yang tidak seharusnya kamu ucapkan untuk diriku." Kata Raga yang masih sulit untuk mengetahui benar tulusnya atau tidak, dari kalimat yang diucapkan istrinya.


"Untuk apa aku membohongi kamu, sama sekali tidak ada niatku untuk berkata bohong padamu. Selama ini aku disibukkan dengan tugasku di kantor, karena tanggung jawabku begitu besar. Jadi, aku berencana ketika semuanya beres, maka aku akan datang ke rumah. Tapi kenyataan lain, kamu mengalami kecelakaan." Ucap Leyza yang berusaha untuk berterus terang dengan kenyataan, Raga hanya bersikap biasa biasa saja.


Entah kenapa, Raga begitu sulit untuk mempercayai kalimat yang terlontar lewat bibir istrinya. Mendengar penjelasan dengan apa yang pernah ia lihat, seperti berbanding terbalik.


"Kamu tidak sedang berbohong, 'kan?"


"Untuk apa aku berbohong, dan apa untungnya?"


"Untungnya banyak, kamu bisa dapatkan Ozan. Lelaki yang selama ini menginginkan kamu, dan terus mengejar cintanya demi mendapatkan kamu untuk menjadi miliknya. Kamu tidak perlu menutupinya, karena aku pernah melihatnya sendiri saat kamu berjalan berdua dengannya. Bahkan, kamu terlihat ceria dan juga begitu nyaman ketika jalan bareng dengannya. Sudahlah, aku tahu jawaban kamu. Dan satu hal, jangan mengasihani aku dengan kondisiku saat ini."


Ucap Raga yang akhirnya mengutarakan apa yang ia pendam.


Leyza begitu terkejut mendengarnya, dan mengejutkannya lagi mengenai dirinya dan juga Ozan, Leyza sendiri tidak berpikiran mengenai itu.


"Ozan? aku tidak mempunyai hubungan apapun dengannya, aku hanya mengenalnya dengan baik. Soal berjalan berdua dengannya, sama sekali aku tidak pernah. Setiap langkahku, selalu ada Lindan, adik kamu." Jawab Leyza sambil mengingat pertemuan apa yang pernah di lewatinya.


Seketika, Ley teringat di sebuah restoran saat Lindan harus pamit pergi, lantaran sesuatu hal yang tidak bisa untuk ikut bersama.


"Ya, aku ingat. Pasti waktu di restoran, bukan?"

__ADS_1


"Ya," jawab Raga sangat singkat. Tentu saja, dirinya masih merasa kesal saat mengingatnya.


"Itu karena kebetulan, dan tidak mungkin juga jika aku harus menolaknya. Bahkan, aku sudah meminta izin dengan ayah kamu. Karena di izinkan, akhirnya aku makan siang bersama dalam satu meja. Sebelumnya, aku hendak makan siang bersama Lindan, ada pertemuan penting dengan orang lain. Tetapi karena sesuatu hal, Lindan membatalkan. Saat Lindan pamit pergi, aku dan Kak Ozan bertemu tanpa sengaja, tidak ada hal lebih apapun dari itu."


Ucap Leyza berterus terang dan mencoba menjelaskannya dengan detil.


"Benar, Raga. Apa yang dikatakan istrimu memang tidak salah, maafkan Papa waktu itu tidak memberitahu padamu. Percayalah, istrimu tidak melakukan kebohongan apapun terhadapmu." Timpal sang ayah ikut angkat bicara saat Beliau masuk ke ruang tawa putranya dan mendapati menantunya tengah berterus terang dan menjelaskan apa yang menjadi tuduhan dari putranya.


"Papa juga lupa, tidak bercerita dengan Mama kamu." Sambung Tuan Hamas melanjutkan ucapannya.


"Kalau kamu masih tidak percaya dengan keputusanku, itu hak kamu, yang jelas hari ini aku sudah berterus terang padamu dan juga sudah memberi keputusan. Maaf, jika aku membuatmu lama menunggu dan juga membuatmu kecewa sebelum aku berterus terang atas keputusan yang akan aku berikan padamu." Ucap Leyza sambil menunduk, tak mampu jika harus menatap wajah suaminya.


Sedangkan Tuan Hamas langsung mengajak istrinya untuk keluar, setidaknya Beliau sudah memberi penjelasan kepada putranya.


"Raga, pikirkan baik-baik. Jangan sampai kamu menyesal nantinya." Ucap Bunda Yuna yang juga tak lupa untuk mengingatkan putranya.


"Baiklah, kalau tidak ada tanggapan darimu, aku tidak akan memaksa kamu. Aku pulang, jaga diri kamu baik-baik, semoga lekas sembuh dan juga segera pulang dengan kondisi yang sehat." Ucap Leyza yang akhirnya memilih untuk berpamitan pulang.


Raga masih terdiam, tidak tahu harus percaya atau tidak. Ingatannya masih menyimpan rasa cemburu yang berlarut-larut dengan lelaki yang lebih dulu menyukai istrinya.


Leyza yang tidak mendapatkan tanggapan apapun dari suaminya, memilih untuk keluar dari ruangan tersebut.


"Jangan pergi, aku percaya dengan keputusan kamu." Ucap Raga yang langsung meraih tangan istrinya yang hendak bangkit dari posisi duduknya.


Leyza menatap wajah suaminya dan gagal untuk bangkit dari posisi duduknya.


"Kamu bilang apa tadi?" tanya Leyza yang ingin mendengarkannya lagi, lewat bibir suaminya.

__ADS_1


"Jangan pergi, temani hidupku hingga tugasku selesai menemani hidupmu." Jawab Raga dengan tatapan serius.


Leyza yang mendengarkannya langsung, pun tersenyum.


"Benarkah yang kamu katakan barusan? kamu tidak sedang menggombal, 'kan?"


Raga menggelengkan kepalanya, dan sedikit menarik tangan istrinya. Dengan cepat kilat, Raga langsung menc*ium bibir milik istrinya dengan lembut, Ley menerimanya dan juga membalas ciu*man dari suaminya.


Takut, ketahuan dan menjadi malu, Ley buru-buru melepaskan ciu*man dari suaminya.


Raga tersenyum bahagia saat istrinya membalas ciu*man darinya.


Setelah itu, Raga memeluk tubuh istrinya walau sambil menahan rasa sakit pada salah satu kakinya yang cidera.


"Maafkan aku yang sudah menuduh kamu yang tidak tidak, tanpa aku mencari tahunya. Terimakasih juga, akhirnya kamu memberi keputusan yang tidak mengecewakan aku. Dan aku berjanji, aku akan bertanggung jawab sepenuhnya tentangmu, dan juga akan membahagiakan kamu." Ucap Raga sambil memeluk istrinya.


Kemudian, Ley melepaskan pelukan dari suami dan menatapnya.


"Aku juga meminta maaf, jika aku sudah mengabaikan kamu karena pekerjaanku. Aku janji, aku tidak akan mengulanginya lagi." Ucap Leyza sambil menggenggam erat tangan suaminya. Lalu, Ley kembali memeluknya lagi.


"Cie ... yang lagi jatuh cinta, gak bagi-bagi nih?" ledek Lindan yang juga baru saja masuk bersama kedua orang tuanya.


"Hem. Kamu pikir, cinta kami ini sembako. Oh! tidak, tidak akan aku bagi-bagi padaku. Kalau kamu pingin, buruan cari sendiri. Makanya, jangan kelamaan jomblo. Bisa-bisa karatan entar, pusaka kamu itu." Kata Raga tanpa menyadari dengan keadaan diri sendiri.


"Pakai ngatai pusaka-ku karatan, punya kakak tuh yang perlu di asah."


"Hus! Lindan, jaga mulutmu kalau bicara. Tidak malu apa, sama kakak ipar kamu sendiri." Timpal ibunya ikut bicara, serta mengingatkan putranya.

__ADS_1


Seketika, Lindan terasa malu dibuatnya.


__ADS_2