Istri Pilihan Ayah

Istri Pilihan Ayah
Menolak


__ADS_3

Selesai membersihkan diri, Raga keluar dari kamar mandi. Dan dilihatnya sang istri yang tengah sibuk dengan ponselnya, Raga sama sekali tidak peduli dengan sosok istrinya.


Ley yang mendapati suaminya sudah keluar dari kamar mandi, bergegas untuk membersihkan diri.


Lupa mengunci layar ponselnya, Raga yang penasaran segera meraihnya dan melihat aktivitas istrinya yang sedari tadi sejak ditinggal ke kamar mandi.


"Bukankah foto ini cowok yang tadi?" gumam Raga saat melihat foto kontak lewat akun media istrinya.


Karena penasaran, Raga membukanya dan tak lupa untuk melihat obrolan antara istrinya dan lelaki yang dimaksudkan.


"Cih! pakai tanya segala soal pernikahanku dengannya, bahagia atau tidak." Gerutunya saat membaca pesan dari lelaki yang pernah dijumpainya.


Setelah itu, Raga kembali membacanya dengan seksama mengenai jawaban dari istrinya.


["Aku bahagia kok, dengan pernikahanku. Kamu tidak perlu khawatir, karena aku baik-baik saja. Kamu tahu? suamiku menerimaku dengan kondisi aku yang seperti ini dan tanpa melihat kekuranganku. Jadi, pernikahan kami baik-baik saja. Aku sangat beruntung menikah dengan lelaki seperti suamiku, sudah tampan dan juga baik. Untuk sikap dingin dan angkuhnya, memang sudah wataknya seperti itu."]


Dengan suara cukup jelas, Raga membaca pesan yang dikirimkan oleh istrinya untuk temannya.


Seketika, Raga terdiam selesai membacanya. Benar-benar diluar dugaan, jika istrinya bisa berbohong demi menutupi kebenarannya atas sikapnya yang berbanding terbalik dengan pesan istrinya.


Tanpa disadari, Leyza keluar dari kamar mandi.


Terkesiap, Raga langsung meletakkan ponsel milik istrinya karena tidak ingin dituding yang tidak tidak.

__ADS_1


"Kalau meletakkan ponsel itu, jangan di pinggiran meja, bisa jatuh dan juga rusak." Ucap Raga mengalihkan sesuatu yang sudah dilihat istrinya saat ponsel berada di tangannya.


"Oh, ya. Tadi aku buru-buru, jadi lupa untuk meletakkan dengan benar." Jawab Leyza sambil berjalan menuju tempat untuk mengeringkan rambutnya.


Sedangkan Raga sendiri memilih untuk segera keluar dari kamar.


"Jangan lama-lama, sudah waktunya untuk makan malam." Ucap Raga saat hendak keluar, Ley mengangguk.


"Ya, setelah ini, aku akan segera turun." Sahut Ley sambil menyisir rambutnya.


Sampainya di ruang keluarga, Raga mendapati kedua orang tuanya tengah duduk bersantai.


"Raga, sini duduk sebentar. Ada sesuatu yang ingin Papa bicarakan, duduklah." Panggil Tuan Hamas pada putranya, Raga mengangguk dan ikut duduk bersama dengan kedua orang tuanya.


"Bagaimana pekerjaan kamu di kantor?" tanya sang ayah dengan obrolan yang terlihat sangat serius.


"Baik, tidak ada kendala apapun di kantor." Jawab Raga.


"Syukurlah, pertahankan kinerja kamu." Ucap sang ayah.


"Raga." Panggil sang ibu.


"Ya, Ma." Jawab Raga.

__ADS_1


"Ini, ada tiket untuk kamu dan juga istri kamu." Ucap sang ibu sambil menyodorkan dua tiket untuk putranya dan juga menantunya.


"Tiket, untuk apa? aku sedang tidak ingin pergi kemana-mana, Ma." Jawab Raga menolak.


'Bulan madu, mana bisa. Apa Mama lupa, aku sama sekali tidak tertarik dengan perempuan itu. Cih! memalukan, apa kata orang-orang ketika melihat pasanganku sangat menyeramkan.' Batin Raga yang masih dengan keegoisannya.


"Kamu yakin tidak mau pergi bersama istrimu?" tanya sang ibu untuk memastikan.


"Ya, aku tetap menolak dan tidak akan pergi kemanapun bersamanya." Jawab Raga dengan keputusan yang diambil.


"Baiklah, jadi fix ini ya, bahwa kamu tidak akan mau pergi bersama istrimu, Leyza." Kata ibunya mencoba untuk memastikannya lagi.


"Ya, aku menolaknya." Jawabnya lagi lebih tegas.


"Baiklah, kalau begitu Mama dan Lindan yang akan pergi menemani istri kamu. Sedangkan kamu sendiri, ada tugas menumpuk di kantor. Secepatnya kamu selesaikan dengan baik dan tidak ada kesalahan apapun." Ucap sang ayah ikut angkat bicara.


"Ya, ya, Pa." Jawab Raga sedikit kedengaran ketus.


"Kak Raga serius nih, tidak mau menemani kakak ipar?" tanya Lindan yang tiba-tiba mengagetkan.


Raga langsung menoleh pada Lindan dengan tatapan tidak suka.


"Serius, ngapain bohong. Kalau kamu mau menemani kakak ipar-mu yang buruk rupa itu, juga tidak masalah bagiku. Lagian apa untungnya liburan dengannya, bikin malu mah ya." Kata Raga dengan entengnya, tanpa disadari ada Leyza yang sudah berdiri di dekatnya.

__ADS_1


__ADS_2