Istri Pilihan Ayah

Istri Pilihan Ayah
Kebenaran dan bukti


__ADS_3

Cukup lama menunggu sang ayah yang masih berada di dalam kamar, semakin bosan untuk menunggu. Dan pada akhirnya, Raga memilih untuk kembali ke kamarnya.


"Raga." Panggil sang ayah saat putranya hendak berjalan menuju anak tangga.


Dengan refleks, Raga memutar balikkan badan dan berjalan mendekati ayahnya.


"Akhirnya, Papa keluar juga dari kamar." Ucap Raga.


"Memang ada apa, Raga? kamu menunggu Papa?" tanya sang ayah.


"Ya, Pa. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan sama Papa, boleh kan, Pa?"


"Tentu saja boleh, duduklah." Jawab sang ayah, Raga mengangguk dan duduk berhadapan dengan orang tuanya.


"Katakan, apa yang ingin kamu tanyakan, Raga?"


"Soal persahabatan Papa dengan orang tuanya Ozan dan juga orang tuanya Leyza, istriku." Jawab Raga tanpa canggung untuk bertanya mengenai hubungan orang tuanya sendiri dan sahabatnya.


"Ooh, dengan ayah Ozan dan juga mertua kamu?" tanya sang ayah untuk memastikan. Takutnya, putranya semakin terkejut mendengarnya.


"Benar, Pa. Selama ini aku tidak pernah melihat Papa dengan orang tua Leyza berkumpul bersama." Jawab Raga.


"Karena orang tua Leyza jarang pulang ke tanah air, melainkan tinggal di luar negri. Karena suatu keputusan, akhirnya menetap di tanah air untuk menemani putrinya, yakni istri kamu."

__ADS_1


"Jadi itu maksudnya Papa?


"Terus, katanya meninggal dalam kecelakaan bersama orang tuanya Ozan dan Rafa, benarkah?"


Raga yang masih menyimpan rasa penasaran, dirinya terus bertanya layaknya detektif.


"Ya, benar. Orang tuanya Ozan dan mertua kamu dalam perjalanan liburan, karena lamanya tidak pernah berkumpul dan liburan bersama. Sedangkan Papa tidak bisa ikut dengan mereka, karena harus mengurus pekerjaan yang sangat padat saat itu. Jadi, Papa menolaknya." Ucap Tuan Hamas berhenti sejenak, lantaran mengatur pernapasannya.


"Terus?" tanya Raga yang masih ingin tahu dengan cerita selanjutnya.


"Naas, mereka mengalami kecelakaan hebat saat dalam perjalanan. Masih beruntung, Ozan dan Rafa tidak ikut dalam insiden itu. Saat napas terakhir, ayah mertua kamu berpesan kepada Papa untuk menikahkan kamu dengan putrinya, karena tidak mempunyai siapa-siapa lagi." Jawab Tuan Hamas kembali berhenti sejenak.


"Papa yakin hanya itu? bagaimana dengan orang tuanya Ozan?" tanya Raga yang kini mencoba mengorek kebenaran selanjutnya.


"Apakah tidak ada pesan dari Beliau?"


"Tidak ada, karena ayahnya Ozan meninggal di tempat."


Raga masih berpikir untuk memberi pertanyaan yang pas untuk orang tuanya mengenai soal Ozan dengan istrinya.


'Apa perlu, aku menanyakan pada Papa, apakah ada kaitannya dengan Leyza? aku merasa ada yang mengganjal antara Ozan dengan istriku. Bisa jadi, Ozan lah yang sebenarnya dijodohkan dengan istriku, bukan aku.' Batin Raga yang tengah dipenuhi dengan perasaan campur aduk atas kecurigaan dirinya terhadap orang yang dicurigainya.


"Kalau sudah tidak ada yang ingin kamu tanyakan, Papa mau duduk santai di taman belakang."

__ADS_1


"Masih ada, Pa."


"Apa? tanyakan saja."


"Apakah benar, Raga yang dijodohkan dengan Leyza? atau ... jangan-jangan, Ozan yang dijodohkan dengan Leyza."


Tuan Hamas menarik napasnya panjang, lalu membuangnya dengan kasar ke sembarang arah. Kemudian, Beliau menatap serius putranya.


"Sebenarnya orang tua Ozan yang melamar lebih dulu untuk menikahkan putranya yang bernama Ozan dengan Leyza istri kamu, sedangkan ayah mertua kamu sendiri yang meminta ayah untuk menikahkan putrinya dengan kamu. Tapi, karena Papa tidak ingin melukai hati orang tuanya Ozan, Papa meminta untuk mengulur waktu, demi menghindari orang tuanya Ozan." Jawab Tuan Hamas menjelaskan, Raga berusaha untuk mencernanya.


"Papa sedang tidak membohongi aku, 'kan?" tanya Raga tanpa lelah dan terus bertanya layaknya wartawan.


"Papa serius, tidak sedang membohongi kamu. Makanya, ayah mertua kamu berpesan kepada Papa untuk menjaga istri kamu, dan meminta untuk menikahi putrinya. Sekarang Papa sudah memenuhi permintaannya, tapi kamu sakiti putrinya, kamu hina, dan kamu juga yang menyebabkan luka pada wajahnya." Jawab Tuan Hamas dengan suara yang semakin lirih pada kalimat terakhirnya.


Saat itu juga, Raga tertunduk malu dan juga bersedih karena kesalahan yang sudah diperbuat dan tidak hanya satu saja, melainkan banyak kesalahan lainnya.


"Seharusnya kamu itu sadar diri, Raga. Ketika kamu melihat luka pada wajah istrimu, ingat juga dengan kesalahan kamu yang dulu."


"Ya, Pa. Aku minta maaf, ini semua salahku yang lupa akan kesalahan. Aku menyesalinya, dan aku tidak akan pernah berhenti untuk meminta maaf." Jawab Raga sambil menunduk penuh sesal saat dirinya mendapatkan bukti dan penjelasan yang begitu akurat.


"Papa tidak bisa menjamin, jika istrimu akan memaafkan kamu. Papa hanya bisa berdoa, semoga kesalahan kamu dapat dimaafkan. Jika tidak, Papa tidak bisa membantu apa-apa." Ucap Tuan Hamas dengan memberi nasehat kecil kepada putranya.


"Ya, Pa. Terima kasih sudah banyak memberi nasehat untukku, maafkan aku yang sudah membuat Papa malu karena mempunyai anak laki-laki sepertiku ini."

__ADS_1


__ADS_2