
Rafa yang tahu kedatangan Raga untuk membicarakan hal penting, mengajaknya untuk masuk ke ruangannya.
"Kelihatannya sepi, dimana kedua orang tua kamu, Raf? sepertinya aku tidak melihatnya." Ucap Raga dan bertanya sambil berjalan menapaki anak tangga, yakni menuju ruang kerja teman sekolahnya.
Rafa berhenti di pertengahan tangga, dan menarik napasnya, serta membuangnya dengan kasar.
"Kedua orang tuaku sudah meninggal, setelah kelulusan sekolah." Jawab Rafa, dan seketika membuat Raga terkejut mendengarnya.
"Meninggal? sakit apa?" tanya Raga ingin tahu.
"Kecelakaan bersama keluarga sahabat ayahku, dan ..." jawab Rafa, dan tiba-tiba menggantungkan kalimatnya.
"Dan apa, Raf?"
Lagi-lagi Raga semakin penasaran, dengan keluh kesahnya sendiri sampai lupa karena mendadak tertarik dengan cerita temannya.
"Kita masuk dulu ke ruangan kerjaku, nanti aku akan menceritakan semuanya padamu. Tapi, Ngomong-ngomong kamu ada perlu apa datang ke rumahku, Rag?"
"Aku hanya ingin bercerita saja, dan ingin mengorek masa sekolah, hanya itu."
"Oh, memangnya ada apa dengan masa lalu kamu, Raga? apakah ada seorang perempuan yang kamu sukai? sampai-sampai kamu mencarinya."
"Tidak ada." Jawabnya singkat.
"Ya sudah kalau begitu, ayo ikut aku ke ruang kerjaku. Maaf ya, jika aku tidak pernah main ke rumah kamu. Aku juga baru pulang dari Paris. Jadi, ketika pulang, aku hanya di rumah saja." Ajak Rafa masuk ke ruang kerjanya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, aku pun sama." Jawab Raga dan mengikuti Rafa dari belakang.
Kemudian, Raga dan Rafa masuk ke ruang kerja.
"Silakan duduk, mau minum apa?"
"Air putih saja, Raf." Jawab Raga sambil menarik kursinya dan segera duduk saling berhadapan.
"Baiklah, tunggu sebentar, aku akan menghubungi pelayan dulu." Ucap Rafa dan meraih gagang telpon untuk memberi perintah kepada asisten rumah.
Tidak ingin waktunya terbuang sia-sia, Rafa akhirnya membuka obrolan.
"Ada perlu apa kamu datang kemari, Bro?" tanya Rafa mengulang lagi kalimat pertanyaannya.
"Aku hanya ingin tahu, sekaligus bertanya padamu." Jawab Raga sembari membenarkan posisi duduknya.
"Apakah kamu mengetahui kemana perginya Aizan?" tanya Raga langsung ke topiknya.
"Aizan, yang suka mengejek kamu dulu?"
"Ya, kemana dia?"
"Aku dengar sih, sekarang hidupnya sudah enakan. Sudah menjadi orang kaya, bahkan pacarnya aja ditinggal, hanya karena tidak mau operasi wajah." Jawab Rafa menjelaskan.
Sejenak, Raga terdiam. Seperti tengah memikirkan sesuatu, Rafa langsung menepuk punggungnya.
__ADS_1
"Operasi wajah? memangnya, kenapa dengan pacarnya? cacat? atau apa?"
"Karena ulah kamu." Tuduh Rafa dengan terang-terangan, karena dirinya pun mengetahuinya.
Bagai terkena pisau belati, Raga tertuduh begitu saja oleh temannya sendiri.
"Kak-kak-karena aku." Dengan terbata-bata, Raga menunjuk pada dirinya sendiri dengan jari telunjuknya.
Rafa mengangguk.
"Ya, kamu orangnya yang lepas dari kesalahan. Kamu kabur, karena takut jika kamu akan di tuntut. Perempuan yang kamu celakai itu, adalah murid baru, anak dari sahabat orang tuaku. Perempuan yang disukai Kakakku dari dulu, tapi mengalah karena dirinya memilih Aizan, dan sekarang telah menjadi istri kamu, bukan?"
Bagai tersambar petir saat mendengar penjelasan yang begitu detil oleh teman sekolahnya dulu, tubuhnya mendadak gemetaran.
Raga tertunduk malu dan juga sedih, dirinya benar-benar merasa sangat bersalah. Meski tahu segalanya, Rafa sengaja mendiamkan teman dekatnya mencari kebenarannya sendiri, lantaran sebagai hukuman karena sudah lari dari tanggung jawabnya.
"Kenapa kamu diam?" tanya Rafa.
"Aku pulang, terima kasih sudah memberi penjelasan yang sangat jelas." Jawab Raga yang tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Maaf, jika selama ini aku diam. Karena kamu telah kabur dari kesalahan kamu sendiri, aku memang sengaja mendiamkan kamu sampai kamu mengingatnya." Ucap Rafa, sedangkan Raga tak menghiraukannya dan memilih pergi.
Rafa sendiri tak mencegahnya, yang terpenting dirinya sudah memberi penjelasan kepada Raga, teman sekolahnya.
Dengan tubuhnya yang sempoyongan, Raga berusaha untuk bisa berjalan. Dan tanpa sengaja, Raga kembali bertemu dengan Ozan, lelaki yang rupanya juga menyukai istrinya.
__ADS_1
"Kenapa buru-buru pulang?"
"Tidak apa-apa, aku sudah tidak ada pertanyaan untuk Rafa." Jawab Raga dan langsung pergi dari rumah teman sekolahnya, Rafa.