
"Ya sudah kalau semua sudah tidak masalah lagi, Papa dan Lindan pulang duluan. Dan kamu Raga, sehatkan dulu fisik kamu. Kamu masih butuh perawatan di rumah sakit ini, bersabarlah." Ucap Tuan Hamas.
"Sudah tidak galau lagi nih ya, asik ... Kakak Ipar, yang sabar kalau ngadepin Kak Raga." Timpal Lindan ikut bicara, tak lupa menjulurkan lidahnya pada sang kakak.
"Diam Lu ah, udah sana pergi aja kamu." Kata Raga sedikit geram dengan kejahilan adiknya, yakni Lindan.
"Sudah, sudah, ayo kita pulang. Jangan jahil sama Kakak kamu, ntar dapat batunya, baru tahu rasa, kamu." Ucap sang ayah, dan menarik kerah bajunya.
Raga, Bunda Yuna, dan Leyza, tertawa melihatnya.
"Ya, Pa, ya. Jangan tarik tarik baju Lindan dong, Pa. Tadi itu, cuma bercanda aja kok, serius." Kata Lindan sambil mengikuti sang ayah yang hendak keluar dari ruang pasien.
"Kakak Ipar, hati-hati dah pokoknya, Kak Raga biang rusuh." Ucap Lindan, meski sedikit kesulitan untuk berjalan karena kerah bajunya masih ditarik oleh ayahnya yang memaksa untuk pergi dari ruangan tersebut.
Raga yang mendengarnya, ingin rasanya mengejar sang adik dan menjewer telinganya, tetapi apalah dayanya yang hanya bisa menahan geram dan mendengus kesal.
"Sudahlah, adik kamu itu cuma mengajakmu bercanda, jangan dimasukkan ke hati. Dihabiskan dulu makanannya, Mama mau keluar sebentar." Ucap Bunda Yuna mengingatkan putranya, lalu bergegas keluar.
Tentunya, tidak ingin mengganggu anak dan menantunya.
"Dengerin tuh apa kata Mama, yang di ucapkannya tadi itu benar. Kamu masih beruntung mempunyai seorang adik, sedangkan aku, jangankan untuk adik, orang tua aja sudah tidak punya." Ucap Leyza sambil menatap suaminya dengan wajah yang terlihat sedih, lantaran nasibnya tak seberuntung suaminya.
"Kamu benar, mungkin akunya kurang bersyukur, sampai lupa dengan keadaan aku yang sekarang. Kamu tak perlu bersedih, ada aku yang akan selalu berusaha untuk menyempurnakan kebahagiaan kamu." Jawab Raga, lalu kembali memeluk istrinya.
"Lepaskan, kamu belum menghabiskan makananmu. Sini, biar aku suapi kamu lagi." Ucap Leyza yang teringat jika suaminya belum menghabiskan makanannya.
"Ah ya, aku lupa." Jawab Raga dan segera melepaskan pelukannya.
Dengan telaten, Leyza menyuapi suaminya hingga tak tersisa sedikitpun.
"Ini, minumnya. Mau buah pir, naga, atau apel, apa anggur."
"Aku maunya kamu, tidak yang lain." Jawab Raga sambil mencubit gemas pada pipi kiri milik istrinya.
__ADS_1
"Aw! sakit, tau. Jangan kuat-kuat dong ...."
"Ya, sayang ... aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku akan menggantinya dengan ciu*man aja, bagaimana?" kata Raga tak lepas dengan mengedipkan matanya dan juga menaikturunkan alisnya yang terlihat tengah menggoda istrinya.
Bukannya tergoda, justru Leyza bergidik ngeri melihat suaminya yang menurutnya sangatlah aneh.
"Pokoknya mulai sekarang, kamu harus membiasakan untuk memanggil dengan panggilan sayang, titik." Ucap Raga, lagi-lagi menaikturunkan alisnya.
"Tapi aku tidak terbiasa, kalau ditertawakan, bagaimana? aku malu." Kata Leyza yang merasa lebay dan serasa pamer kemesraan dengan panggilan yang tidak pernah ia ucapkan sama sekali, meski dengan Aizan sekalipun.
"Makanya, dibiasakan dari sekarang, agar terbiasa dan tidak kaku." Ujar Raga sambil menatap wajah ayu milik istrinya.
Tidak terasa waktu yang dilewatinya cukup singkat bersama sang istri. Bunda Yuna yang baru saja datang dengan membawa makan malam untuk menantunya. Beliau mengajak makan malam bersama, termasuk dengan Raga, putranya.
"Leyza," panggil Bunda Yuna sambil meletakkan belanjaannya.
"Ya, Ma, ada apa?" sahut Leyza setelah membantu suaminya menggantikan baju.
"Ya, Leyza mau cuci muka dulu." Jawab Leyza, dan bergegas masuk ke kamar mandi.
Raga yang sedari memperhatikan istrinya, rasa tidak sabar, ingin cepat-cepat sembuh dari sakitnya. Tentunya, ingin menikmati kebersamaan dan juga memanjakan istrinya.
'Andai saja aku bertanggung jawab sejak dulu dan tidak lari dari masalah, mungkin aku tidak akan mengalami hal sulit seperti ini. Sungguh, aku menyesalinya dan tidak akan aku mengulanginya lagi. Maafkan aku, dan akhirnya aku terjebak dengan perasaanku sendiri. Perempuan secantik dia, aku lukai wajahnya, dan aku sendiri yang menghinanya, dan aku juga yang terjebak dengan perasaanku.' Batin Raga sambil melamun.
"Ngelamun aja kamu ini," tegur Bunda Yuna setelah menepuk punggung putranya.
"Mama, ngagetin aku aja." Jawab Raga setelah sadar dari lamunannya.
"Hem. Mau ikut makan lagi atau tidak? Mama beli tiga porsi nih. Ada ayam geprek dan bebek bakar, mau? masih anget." Ucap sang ibu menawarkan makanan yang dibeli.
"Tidak ah Ma, Raga masih kenyang. Oh ya Ma, kalau yang itu, apa Ma?" jawab Raga dan menunjuk pada wadah yang satunya.
"Oh, ini bubur kacang merah, satunya bubur kacang ijo, dua duanya ada ketan merahnya, mau?"
__ADS_1
"Mau dong Ma, sepertinya sangat enak. Apalagi masih hangat, pasti rasanya tidak diragukan lagi." Kata Raga yang akhirnya memilih Buburnya.
"Nih, sendok-nya juga. Dihabiskan, awas kalau sampai tidak dihabiskan." Ucap Bunda Yuna menakut-nakuti untuk memberi ancaman pada putranya.
"Ya, ya, Ma." Jawab Raga dan membuka penutupnya.
Tidak lama kemudian, Leyza keluar dari kamar mandi.
"Sayang, ayo makan. Nanti keburu dingin loh, tidak enak." Panggil Raga, sekaligus mengajak istrinya untuk makan malam.
"Ya, ini juga mau makan." Sahut Leyza sambil berjalan mendekati ibu mertuanya yang tengah duduk di kursi.
"Ini Nak, sudah malam juga, ayo kita makan dulu. Ini, ada ayam geprek dan juga bebek bakar, kamu tinggal pilih kesukaan kamu." Ajak ibu mertuanya, sambil menyebutkan lauknya.
"Ya, Ma, terimakasih. Sama apa saja, Ley mau mau aja." Jawab Leyza dan ikutan duduk bersama ibu mertua.
Sambil membuka bungkusannya, selintas Leyza memperhatikan suaminya yang ternyata tengah menikmati bubur.
"Kamu tidak ikutan makan ayam geprek atau bebek bakar? tidak kepingin?" tanya Leyza pada suaminya saat mendapati tengah menikmati bubur.
"Aku masih kenyang, dan aku rasa makan bubur saja, cukup." Jawab Raga.
"Ya nggak apa-apa sih, takutnya nanti kamu lapar lagi." Kata Leyza sambil menyuapi diri sendiri.
"Tenang aja, aku bisa menahan lapar. Jangankan untuk menahan lapar, menahan kerinduan sama kamu aja bisa, ya 'kan?" sahut Raga sambil menatap istrinya dengan tatapan menggoda, tak lupa mengedipkan matanya dengan ekspresi yang terlihat hendak menc*ium.
"Raga, kondisikan dulu bibir kamu itu. Habiskan buburnya, baru boleh menggoda istri kamu jika kamu tak bisa diam." Timpal ibunya ikut bicara, dan juga tak lupa untuk mengingatkan putranya yang tengah menggoda istrinya.
"Ya sih, Ma, ya. Bosan tau, Ma, di rumah sakit. Dirawat di rumah aja sih, Ma."
"Hem. Itu mah akal-akalan kamu saja, bilang aja pingin bebas."
Raga hanya nyengir kuda saat ibunya terang-terangan padanya.
__ADS_1