Istri Pilihan Ayah

Istri Pilihan Ayah
Pengakuan


__ADS_3

Ketika tidak ada lagi Tuan Hamas di ruang kerja putranya, Raga membuang napasnya dengan kasar. Benar-benar telah membuat napasnya terasa sesak, saat dirinya mendapatkan ancaman dari orang tuanya sendiri.


"Reseh, Lu. Katakan padaku, sejak kapan kamu mengenal ayahku? jangan bilang dari orok, aku bakal menghajar kamu."


Bukannya takut mendengar Raga berbicara, justru Doni tertawa.


"Sejak dulu sebelum kita saling mengenal, saat itu aku sengaja mendekatimu atas dasar perintah dari ayah kamu sendiri untuk mengawasi-mu, Tuan." Jawab Doni yang pada akhirnya berterus terang pada Raga, sosok yang pernah menjadi Bosnya.


Bahkan, kini tidak lagi memanggil Raga dengan panggilan Bos, melainkan Tuan.


Saat itu juga, Raga kembali terkejut dan tidak pernah menyangka, jika semuanya sudah didalangi oleh orang tuanya sendiri.


Seketika, Raga kembali berpikir, jika Doni bukan lah orang sembarangan. Tetap saja, Raga mulai berhati-hati karena takut dirinya akan mendapatkan imbasnya.


Rasa penat yang sudah menguasai isi kepalanya, Raga benar-benar sulit untuk berpikir, lantaran banyak yang tengah dipikirkan.


Tidak hanya memikirkan karirnya, Raga juga memikirkan hubungannya dengan istrinya sendiri dan juga telah memutuskan kekasihnya yang bernama Karina.


"Berarti selama ini kamu sudah tunduk kepada orang tuaku, ya 'kan Don?"


Doni melebarkan senyumnya dan juga mengangguk.


"Benar sekali, Tuan." Kata Doni sambil mengitari Raga yang tengah berdiri sambil mencari jawaban.


"Cih! panggil Tuan, nggak lucu, tau." Ucap Raga dengan ketus, tentunya merasa terkecoh dengan ulah ayahnya sendiri.


"Bagaimana hubunganmu dengan Karin?" tanya Doni dengan posisi kedua tangannya berada di kedua saku celananya.


"Aku sudah memutuskannya, karena aku tidak ingin menjadi gelandangan hanya karena mempertahankan Karina." Jawab Raga, Doni pun tersenyum mendengarnya.


"Kamu serius, Tuan?" tanya Doni dengan rasa ingin tahu.


Raga langsung menatapnya dengan tajam.


"Kamu pikir, aku sedang bercanda, begitu maksud kamu?"


Doni menggelengkan kepalanya.


"Bilang aja, kalau selama ini kamu sedang menjadi detektif untuk mengawasi-ku. Pantas saja, kamu selalu banyak alasan untuk mengawasi istriku yang buruk rupa itu. Ternyata, rupanya kamu sudah dijadikan mesin oleh ayahku." Ucap Raga dengan segala tuduhannya.

__ADS_1


"Kalau untuk soal istrinya Tuan sendiri, aku hanya akan memberi bocorannya saja. Bahwa Nona Leyza adalah perempuan yang sangat misterius, itu saja sih." Jawab Doni yang hanya memberikan sedikit informasi.


"Hem, itu mah sama aja. Apa bedanya kamu ngasih tahu jalan, kalau kamu hanya menunjuk saja, tetapi tidak mau berucap." Kata Raga dengan penuh kesal.


"Setidaknya aku sudah memberikan informasi kepada Tuan, selebihnya saya tidak tahu mengenai istri Tuan sendiri.


"Sama aja itu namanya. Sudahlah, tambah emosi aja aku ngomong sama kamu. Lebih baik sekarang itu, kamu bantu aku untuk menyelesaikan tugasku."


"Baiklah, Tuan." Sahut Doni dan mengangguk, pertanda jika dirinya sudah menyetujui atas perintah dari Bosnya.


Sedangkan di tempat lain, Ley tengah sibuk memberi materi tentang menguasai dalam bidang perbakingan, yakni membuat kue.


Dengan telaten, Ley menjelaskan dengan sangat detil, bahkan kedua tangannya ikut tidak bisa diam untuk memberi penjelasan.


Tidak disadari oleh Ley sendiri, rupanya sedari tadi ada lelaki yang tengah memperhatikan dirinya.


Setelah dirasa cukup memberi materi, Leyza mengeluarkan bawaannya, yakni pengembang kue dan lain sebagainya untuk memberinya contoh, serta menunjukkan merk yang memiliki kualitas bagus untuk dijual.


"Kamu ini, benar-benar tidak pernah berubah. Aku salut denganmu, Leyza. Oh ya, aku dengar kamu sudah menikah, benarkah? Rindiani yang memberitahuku."


"Ya Ren, aku sudah menikah. Tapi ...." Jawab Ley sambil menunduk dan menggantungkan kalimat terakhirnya.


"Aku tidak tahu, entah aku bisa menjalaninya dengan baik, atau sebaliknya."


"Hem, jangan begitu dong. Seharusnya kamu itu bisa membuktikan kepada Aizan, kalau kamu itu juga bisa bahagia." Kata Reni, sahabat dekatnya.


"Entahlah, Ren." Ucapnya singkat.


"Aku doakan, semoga rumah tangga kamu selalu dilimpahkan keberkahan dan juga kebahagiaan." Kata


"Ehem, kalian berdua sedang membicarakan apa? kelihatannya sangat serius." Ucap seseorang yang sedari tadi tengah memperhatikan Leyza selama memberikan materi.


"Ozan, ngagetin aja kamu." Sahut Ley yang tersadar jika Ozan tengah mengagetkan dirinya.


Karena sudah waktunya jam istirahat, Ozan ikut duduk bersama Ley dan Reni.


"Habisnya kalian berdua tidak mengajakku. Jadi, apa salahnya jika aku gangguin kalian."


"Hem, kebiasaan kamu, Zan."

__ADS_1


"Aku dengar, kamu sudah menikah, benarkah?"


"Ya, aku beneran sudah menikah. Maaf, jika aku sengaja tidak mengundang kalian berdua, dikarenakan aku menikahnya secara mendadak. Jadi, tidak ada yang aku undang, termasuk Reni." Jawab Ley yang akhirnya berterus terang, Ozan pun mengangguk.


"Selamat ya, Leyza. Aku doakan, semoga kamu bahagia bersama pasanganmu hingga sampai ke titik terakhir dalam hidup." Kata Ozan memberi ucapan selamat kepada Leyza, teman lelaki satu-satunya yang tak pernah menghina fisiknya dan berteman baik dengannya.


Serasa tidak bersemangat saat bertemu Leyza yang rupanya sudah menjadi milik lelaki lain.


"Terima kasih, Zan. Oh ya, sepertinya aku tidak bisa lama-lama berada di di tempat ini. Waktuku sudah tidak panjang lagi seperti dulu, tidak apa-apa, 'kan? besok kita masih bisa bertemu lagi kok." Ucap Leyza.


"Ya, tidak apa-apa. Masih bisa bertemu denganmu saja, aku sudah sangat senang." Kata Ozan.


"Ya, Ley, aku doakan, semoga kita masih diberi kesempatan untuk terus bertemu." Sambung Reni ikut menimpali.


"Aku sangat senang mendengarnya, kalau begitu kita lanjutkan lagi untuk praktik." Ucap Leyza dan mengajak kedua temannya untuk praktik membuat kue.


"Siap, Bu Bos." Jawab Reni dan Ozan dengan serempak, Leyza tersenyum mendengarnya.


Karena waktunya hanya sebentar, Leyza tidak ingin mengabaikan waktu dan kesempatan untuk praktik membuat kue bersama kedua temannya dan yang lainnya.


Cukup lama melakukan kegiatan bersama, rupanya waktunya sudah mepet untuk pulang.


"Maaf, permisi Mbak Leyza."


"Ya Mbak Nela, ada apa?"


"Itu Mbak, em ... ada seseorang mencari Mbak Leyza. Orangnya ganteng, dan pakai jas, seperti orang kantoran." Jawab Mba Nela sesuai yang dilihatnya.


Saat itu juga, Leyza dapat menangkap siapa orangnya yang datang. Siapa lagi kalau bukan suaminya sendiri, pikirnya.


"Ooh, katakan padanya, suruh menunggu sebentar, gitu ya Mbak."


"Baik, Mbak Leyza." Jawabnya dan kembali untuk menyampaikan pesan dari Leyza, sedangkan Leyza bergegas untuk bersiap-siap pulang.


"Suami kamu, ya?" tanya Ozan sekaligus menebaknya.


"Ya, Zan. Sepertinya suamiku sudah datang untuk menjemput, kalau begitu aku mau bersiap-siap dan sekaligus berpamitan dengan kalian berdua." Jawab Leyza.


"Yah ... sudah mau pulang aja, kamunya. Tapi tdak apa-apa deh, hati-hati ya di perjalanan. Jangan lupa, besok datang lagi." Ucap Reni yang merasa berat untuk ditinggal pulang duluan oleh Leyza.

__ADS_1


__ADS_2