
Ketika mendengar ucapan dari suaminya, Bunda Yuna mengajak menantunya untuk segera menuju ruang dimana Raga di rawat.
"Ayo ikut Mama, Raga sangat membutuhkan kamu." Ajak Bunda Yuna pada menantunya.
"Tapi, Ma ..."
"Tidak ada tapi tapian, Nak. Raga suami kamu, dia sangat membutuhkan kehadiranmu." Timpal ayah mertua ikut bicara.
"Ya Kak, yang dikatakan Mama dan Papa ada benarnya. Bahwa Kak Raga sangat membutuhkan kehadirannya Kakak." Sahut Lindan yang baru saja ikut angkat bicara.
Bunda Yuna memberi kode dengan cara menganggukkan kepalanya supaya Leyza mau menuruti permintaannya.
"Ma, Raga anak Mama, apa tidak sebaiknya Mama yang masuk duluan. Takutnya, tidak mau bertemu dengan Leyza." Ucap Leyza yang bimbang, antara ibu dan dirinya sendiri untuk masuk ke dalam.
Karena masih tetap menolak, Bunda Yuna akhirnya meraih tangan menantunya.
"Raga suami kamu, dan Mama sangat yakin jika suami kamu sangat merindukan kehadiranmu. Ayo, Mama temani sampai di depan pintu."
"Mama tidak bohong, 'kan? Leyza hanya takut jika kehadiran Leyza hanya akan membuat gaduh, Ma."
"Tidak, Nak, tidak. Ayo, Mama mengantarkan kamu sampai didepan pintu." Ucap Bunda Yuna berusaha meyakinkan.
Karena mendapatkan dukungan dari ayah dan ibu mertua, serta adik iparnya, Leyza akhirnya mengiyakan.
Sampainya di depan pintu, Leyza sedikit gugup dan juga takut. Pasalnya, sudah cukup lama dirinya tidak pernah bertegur sapa walau hanya lewat media. Bahkan untuk datang ke rumah sama sekali tidak pernah mendatangi rumah mertua walau hanya sekedar untuk berkomunikasi.
"Masuklah, Nak. Kami akan menunggu diluar, ayo masuk." Ucap Bunda Yuna saat melihat menantunya seperti tidak berani untuk masuk ke dalam.
Dengan tekadnya yang sudah bulat, Leyza membuka pintunya dengan perlahan dan juga hati-hati, agar tidak menimbulkan suara.
Baru saja selangkah setelah membuka pintunya, Bunda Yuna langsung menutup kembali pintunya. Tentu saja, Ley dibuat kaget saat pintu tertutup secara tiba-tiba.
Ketika sudah berada di dalam kamar, pandangan Leyza tertuju pada sosok lelaki yang berstatus suami sahnya, kini tengah terbaring dengan kondisi badan yang terlihat kurus, dan juga rambut yang terlihat sedikit gondrong.
__ADS_1
Saat itu juga, air matanya lolos begitu saja dan menangis sesenggukan ketika melihat kondisi suaminya yang begitu memprihatinkan.
Dengan pelan, Ley berjalan mendekati suaminya. Hatinya begitu terasa sakit bak teriris oleh pisau belati saat melihat kondisi suaminya yang tak lagi seperti dulu, benar-benar membuat Leyza tak mampu untuk melihatnya.
Saat sudah berada di dekat suaminya, Ley duduk. Kemudian, ia meraih tangannya yang tidak terpasang selang infus. Setelah itu, Leyza mencium tangannya dan juga menangis sesenggukan.
Dilihatnya wajah tampannya yang berubah pucat dan juga terlihat tak mempunyai semangat hidup. Begitu sesaknya di dalam dada saat mencoba untuk menarik napasnya dengan pelan.
"Maafkan aku, ini semua salahku. Hingga aku menjadi istri yang begitu keji terhadap suami sendiri, aku benar-benar menyesalinya." Ucapnya lirih dengan penuh penyesalan, tak juga mendapatkan respon dari sang suami.
Ley masih duduk dan menemani suaminya yang terbaring lemah di atas ranjang pasien. Tidak hanya menunggu saja, berulang kali Leyza mengusap punggung tangan milik Raga. Berharap, akan ada keajaiban baginya dan sadarkan diri.
Merasa bersalah besar karena sudah lama mengabaikan suaminya tanpa memberinya sebuah kabar, Ley mengutuki dirinya sendiri.
Di usapnya wajah sang suami, Leyza mendaratkan sebuah ciu*man pada kening milik suaminya begitu lembut. Kemudian, ia kembali duduk dan memegangi tangannya.
Alangkah terkejutnya saat mendapatkan sesuatu yang tengah mengagetkan dirinya, tentu saja pada jari jemari milik suaminya serasa ada yang menggerakkan.
Raga yang baru saja bisa menggerakkan jari jemarinya, pelan-pelan membuka kedua matanya.
Tidak begitu jelas penglihatannya, Raga masih membutuhkan waktu untuk menyempurnakan pandangannya. Merasa ada yang menyentuh tangannya, Raga mengarahkan pandangannya.
Meski belum terlihat begitu jelas oleh data tangkap indra penglihatannya, Raga dapat mengetahui siapa yang ada di dekatnya, serta yang tengah memegangi tangannya.
"Kak-kak-kamu,"
"Ya, ini aku." Jawab Ley sambil menunduk malu di hadapan suaminya.
Saat itu juga, seorang dokter bersama asistennya telah datang untuk memeriksa kondisi Raga.
Ley menyingkir dari tempat duduknya, dan berpindah ke tempat yang tidak begitu jauh jaraknya dengan seorang dokter yang akan memeriksa kondisi pasien.
Setelah dilakukan pemeriksaan, Ley berjalan mendekati seorang dokter yang baru saja memeriksa kondisi suaminya.
__ADS_1
"Bagaimana dengan kondisi suami saya, Dok?" tanya Ley ingin tahu dengan keadaan suaminya.
Seorang dokter tersebut tersenyum ketika mendapati sebuah pertanyaan dari Leyza.
"Suami Nona baik-baik saja, tidak ada luka serius padanya. Hanya butuh istrahat yang cukup, dan juga pola makannya di perhatikan." Jawab seorang Dokter yang tak lupa memberi sebuah pesan untuk Leyza.
"Syukurlah kalau tidak ada luka yang serius. Terima kasih banyak ya, Dok. Saya janji, akan memperhatikan pola makan suami saya." Kata Leyza sedikit ada rasa malu, karena dirinya kurang perhatian terhadap suaminya sendiri.
"Ya sudah, kalau begitu saya pamit untuk melanjutkan tugas saya, melanjutkan untuk mengurus pasien yang lainnya. Oh ya, jangan lupa setelah ini untuk makan, kasihan perutnya jika dibiarkan kosong. Meski ada infus, tetap saja lebih baik makan." Ucap Dokter sekaligus pamit.
"Baik, Dok." Jawab Leyza dengan santun.
Setelah tidak ada lagi Dokter, datanglah seorang perawat tengah membawakan makanan untuk pasien.
Raga yang hanya mengalami cidera pada kakinya, ia masih mampu untuk duduk bersandar. Leyza membantunya untuk duduk.
Raga masih diam, dirinya takut, jika ucapannya hanya akan diabaikan oleh istrinya.
"Sudah waktunya untuk makan, bahkan sudah lewat makan siangnya. Aku suapin, ya." Ucap Leyza sambil meraih satu porsi untuk makan.
Raga hanya mengangguk, tak mampu jika harus menjawabnya, cukup dengan isyarat.
Kemudian, Leyza lanjut untuk menyuapi suaminya. Raga tidak ada penolakan apapun pada istrinya, dan juga menerima suapan dari sang istri.
"Kenapa kamu diam? bicaralah, aku ini istrimu, bukan orang asing yang baru kamu kenal."
Leyza yang merasa sedari tadi tidak mendengar suaminya bicara, langsung menegurnya.
"Aku harus bicara apa? kabar? sepertinya kamu tidak sedang bersedih, untuk apa aku bertanya kabar padamu. Kamu terlihat baik-baik saja, badan kamu juga terlihat lebih berisi dari sebelumnya, apa yang harus aku tanyakan?"
"Walaupun hanya sekedar basa-basi, itu saja."
"Tidak, aku tidak butuh basa-basi apapun untuk bicara pada seseorang. Sudahlah, lebih baik kamu keluar saja dari ruangan ini. Aku sudah tau jawabanmu, lebih baik kamu sampaikan saja jawabanmu itu pada kedua orang tuaku." Kata Raga.
__ADS_1