Istri Pilihan Ayah

Istri Pilihan Ayah
Penuh semangat


__ADS_3

Tidak mendapatkan jawaban apapun dari ibunya, Raga memilih menonaktifkan laptopnya dan keluar dari kamar untuk makan malam.


Sedangkan di tempat lain, tepatnya di rumah Ozan, kakak beradik ini tengah menikmati makan malamnya hanya berdua tanpa orang tua yang menemaninya.


"Kak Ozan." Panggil Rafa sambil menyuapi mulutnya.


"Ya, ada apa?"


"Kak Ozan seriusan nih, besok mau ke luar negri?" tanya Rafa sambil mengunyah makanan.


"Ya, kalau kamu mau menggantikan Kakak, juga tidak apa-apa. Lagi pula di sana ada Lindan, dan juga Leyza." Jawab Ozan memberi tawaran untuk adiknya.


"Aku tidak bisa, Kak Ozan aja yang berangkat. Lagi pula Raga tidak ikut, 'kan?"


"Aku kurang tahu kalau soal itu, soalnya besok saja masih bisa berangkat. Sudahlah, kamu tidak perlu ikut membahasnya."


"Kakak kecewa ya, kalau Leyza menikah dengan Raga?" tanya Rafa dengan terang-terangan.

__ADS_1


"Sudah ku bilang, kamu tidak perlu ikut membahasnya dan juga bertanya dengan masalah pribadi Kakak. Lebih baik kamu fokus dengan pekerjaan kamu, itu yang lebih penting." Jawab Ozan, dan lanjut menikmati makan malamnya walau berubah menjadi hambar.


"Ya Kak, maaf." Ucap Rafa dan segera menghabiskan makanannya.


Karena tidak ingin mengganggu pikiran sang kakak, Rafa memilih untuk masuk ke kamarnya dari pada membuat masalah, pikirnya.


Ozan sendiri memilih duduk santai di ruang keluarga. Ingatannya kembali pada masa-masa itu, masa dimana dirinya mengenal perempuan yang disukainya. Siapa lagi kalau bukan Leyza, perempuan yang sangat diharapkan menjadi pendamping hidupnya kelak.


"Aku tidak percaya, jika Raga tidak menyusul istrinya. Karena dia suaminya, dan tentunya yang akan memegang saham milik ayah mertuanya dan juga yang lainnya." Gumamnya sambil duduk bersandar.


"Raga memang benar telah menyakitimu. Mungkinkah dia akan jatuh cinta denganmu, Leyza? dan kamu, apakah juga akan jatuh cinta dengannya? lalu diriku, apakah salah jika masih mengharapkan kamu?" gumamnya lagi dan masih penuh tanda tanya.


Tidak ingin larut dalam perasaannya, Ozan kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Meski seharian hanya melakukan pertemuan dan makan siang bersama Raga, otak dan hatinya seakan sulit untuk di sinkronkan.


Berbeda dengan Raga, justru hatinya sedang berbunga-bunga karena rasa yang sudah tidak sabar untuk melakukan perjalanan jauh menyusul istrinya. Berulang kali memperagakan diri untuk meminta maaf kepada istrinya.


Bahkan, Raga sama sekali tidak memikirkan tentang bagaimana jika kata maafnya tidak diterima oleh istrinya. Yang ada didalam benak pikirannya Raga itu, semua akan baik-baik saja.

__ADS_1


Karena tidak tau bagaimana caranya merayu istrinya dengan apa, Raga langsung menghubungi Doni untuk dimintai tolong.


"Cepat kamu datang ke rumahku sekarang juga, ada tugas penting yang harus kamu kerjakan." Perintah Raga lewat sambungan telponnya.


Belum juga si Doni menjawab, sambungan telpon sudah diputus begitu saja oleh Raga. Doni mendengus kesal, mau tidak mau langsung berangkat ke rumah Bosnya.


Hanya beberapa menit saja, Doni sudah sampai di depan rumah Tuan Hamas.


"Eh, Abang Doni. Mau nyari siapa, Bang? Yana ya?" ledek seorang pelayan saat membuka pintu utama."


"Jangan ngaco, kamu. Aku ada perlu dengan Tuan Raga, katakan padanya, kalau Doni sudah datang, gitu."


"Ya Bang, ya. Sebentar ya, Bang."


"Ya, cepetan."


"Kalau begitu, silakan duduk. Saya mau panggilkan Tuan Raga sebentar, permisi."

__ADS_1


__ADS_2