Istri Pilihan Ayah

Istri Pilihan Ayah
Permintaan yang aneh


__ADS_3

Tidak lagi merasakan sakit pada bagian kakinya, Raga sudah dapat berjalan dengan normal. Dua hari yang sudah dilewatinya sejak pulang dari rumah sakit, kesehatannya juga sudah semakin membaik.


.


.


.


Setelah tiga hari berada di rumah, Raga kembali disibukkan dengan aktivitas kerjanya. Bahkan, semangatnya kian membara.


Baru saja pulang dari kantor, Raga langsung menuju kamarnya. Dilihatnya sang istri yang tengah berdiri di depan cermin, Raga duduk di tepi ranjang.


"Sayang," panggil Raga sambil duduk ditepi ranjang.


Leyza masih menyisir rambutnya.


"Ya, ada apa?" sahut Leyza yang hendak menguncir rambutnya.


"Sepertinya aku keberatan untuk tinggal di rumah kamu, apa kata orang, aku ini seorang suami dan tidak baik jika harus tinggal di rumah kamu." Ucap Raga yang merasa keberatan untuk menerima tawaran dari istrinya mengenai tempat tinggal.


Leyza langsung menoleh pada suaminya, lalu duduk di dekatnya.


"Terus, siapa yang akan menempati rumahku?"


"Kita bisa pikirkan nanti, yang terpenting aku tetap dengan keputusanku. Soal tempat tinggal, aku yang akan membelinya untukmu. Sesekali untuk menginap di rumah kamu, tidak apa-apa, tetapi tidak untuk menjadi tempat tinggal. Aku masih bisa membelikan kamu rumah, meski tidak sebesar dan semewah milik orang tuamu." Kata Raga yang tetap bersikukuh dengan keputusannya.


Leyza mengangguk, dan tak menghalangi apa yang menjadi keputusan suaminya.


"Baiklah, aku tidak akan memaksa kamu. Apapun yang menjadi pilihan kamu, aku tidak akan melarang kamu. Bagiku, keputusan kamu adalah yang terbaik." Ucap Leyza sambil menatap wajah suaminya.


Raga yang merasa sudah gerah, dan ditambah aroma wangi yang mulai menggoda has*rat lewat istrinya, membuat raga mulai terpancing.


Leyza yang melihat suaminya masih dengan pakaian kerjanya, ia membantu suami untuk melepaskan jas juga dasinya, serta baju kemeja, dan menyisakan dada yang polos.


"Sudah sore, bersihkan dulu badanmu, kemudian kita lanjut makan malam." Ucap Leyza setelah melepaskan pakaian suaminya.

__ADS_1


"Siap, istriku. Setelah itu, layani aku." Bisik Raga di dekat daun telinga istrinya.


Leyza hanya tersenyum ketika suaminya berbisik padanya.


Merasa mendapatkan persetujuan dari istrinya, Raga langsung bangkit dari posisi duduknya dan segera membersihkan diri.


Sedangkan Leyza, ia menaruh pakaian kotor milik suaminya ke ranjang baju sebelum sang suami masuk ke kamar mandi.


Sambil menunggu suaminya selesai mandi, ia dikagetkan dengan suara ponsel miliknya sendiri terdengar ada yang menelpon.


Ley langsung meraih ponselnya itu dari atas meja, dan menerima panggilan telepon.


"Ya, ada apa Pak Bud?" tanya Leyza lewat sambungan telponnya.


Dengan fokus, Leyza mendengarkannya.


"Baik, Pak. Besok saya sudah aktif untuk berangkat ke kantor, dan saya akan melakukan penyeleksian lagi sesuai yang sudah saya perintahkan kepada Bapak. Jadi, jaga privasi saya saat saya masuk ke kantor." Ucap Leyza mengingatkan orang kepercayaannya untuk menerima perintah darinya.


Tidak ada lagi hal penting lainnya, Raga memutuskan sambungan telpon dengan Pak Bubud.


Raga yang baru saja keluar dari kamar mandi, ia mendapati istrinya tengah meletakkan ponselnya.


"Tadi, Pak Bubud menanyakan aku kapan masuk ke kantor. Lalu, aku menjawabnya besok." Jawab Leyza berkata jujur.


"Kenapa kamu tidak mencari orang kepercayaan untuk mengurus pekerjaan kamu di kantor, setidaknya kamu melakukan pengawasan lewat rumah. Jadi, kamu tidak sibuk pergi ke kantor setiap harinya. Aku tidak ingin kamu capek, itu saja." Kata Raga memberi saran untuk istrinya.


"Ya, nanti kamu yang akan aku tugaskan untuk mencari orang kepercayaan. Jadi, aku hanya menyibukkan waktuku hanya untuk bersamamu. Untuk soal pekerjaan, aku hanya sebagai pengawas, mendatangi kantor jika ada sesuatu yang penting saja." Ucap Leyza, kemudian Raga mengangguk.


"Sudah waktunya untuk makan malam, ayo kita keluar. Mama dan Papa pasti sudah menunggu kita, kasihan mereka." Ajak Raga untuk makan malam.


Leyza mengiyakan dan segera keluar dari kamarnya.


Sampai di ruang makan, rupanya yang dikatakan Raga memang benar. Sang ayah dan juga ibu, maupun adik laki-lakinya sudah menunggu.


"Selamat pagi, Ma, Pa." Sapa Leyza saat berada di ruang makan.

__ADS_1


"Pagi juga, Nak." Jawab ayah mertua dan juga Bunda Yuna.


"Cie ... sepertinya ada yang beda." Celetuk Lindan saat melihat Raga.


"Apanya yang berbeda, hem. Bilang aja kalau kamu itu iri denganku, makanya buruan menikah." Sahut Raga sambil menarik kursinya untuk sang istri, dan juga untuk diri sendiri.


"Sudah, sudah, kalian berdua kapan akurnya. Dan kamu Lindan, yang dikatakan kakak kamu itu benar. Buruan carikan Mama calon menantu, biar Mama tidak sendirian kalau kakak kamu pindah rumah." Timpal Bunda Yuna.


"Mama tidak adil. Kak Raga aja dicarikan calon istri, kenapa aku disuruh nyari sendiri? membuang-buang waktuku saja." Jawab Lindan yang benar-benar sangat mengejutkan saat dirinya merasa iri karena tidak dicarikan seorang istri.


Sontak saja semuanya kaget mendengarnya. Yang sering di temui, biasanya menolak perjodohan, sedangkan Lindan justru meminta perjodohan dari orang tuanya.


Raga membulatkan kedua bola matanya, sungguh diluar dugaan. Begitu juga dengan sang ayah, Beliau ikut terkejut mendengar penuturan dari putranya yang terang-terangan meminta dicarikan seorang istri.


"Kamu sedang tidak amnesia kan, Lin?" tanya sang ayah yang merasa aneh atas ucapan dari putranya.


"Tidak dong, Pa. Justru kalau menikah seperti kak Raga itu, seperti mendapatkan tantangan baru. Menikah berawal perjodohan, tanpa ada cinta diantara kita, sepertinya seru. Ada asam, manis, dan juga gurihnya." Jawab Lindan dengan entengnya.


"Kamu pikir, perjalanan rumah tanggaku yang aku lewati itu, selintas makanan? ngaco, kamu itu." Timpal Raga merasa dianggap enteng atas pernikahan yang tanpa cinta, bahkan berawal dari sebuah penolakan.


"Hem. Bukannya lebih tertantang untuk menikahi perempuan yang tidak kita cintai? pingin sekali aku mencobanya." Kata Lindan dengan senyum merekah, tapi getir untuk Raga.


"Benar-benar sudah gi*la, kamu itu." Ucap Raga sambil menerima porsi makan dari istrinya.


"Lindan, kamu itu jangan mengada-ngada. Nanti beneran dicarikan jodoh sama Papa loh, mau?"


"Mau banget, Ma." Jawab Lindan sambil mengambil makanan, termasuk lauk dan juga sayur.


Raga yang mendengar jawaban dari adiknya, pun menggelengkan kepalanya yang merasa aneh dan benar-benar diluar dugaannya.


"Bangun, Raga. Barang kali tidurnya kamu itu terlalu miring, jadi wajar aja jika belum seimbang." Ucap Raga sambil mengunyah makanan.


"Aku itu serius, ngeyel banget Kak Raga ini." Jawab Lindan yang juga sambil menyuapi diri sendiri.


"Sudah-sudah, selesaikan dulu makan malamnya." Ucap sang ibu ikut menimpali.

__ADS_1


"Ya, Ma." Jawab Raga dan Lindan dengan serempak.


Kemudian, semua melanjutkan makan malamnya.


__ADS_2