
Sebelum mereka jalan-jalan, Seluruh keluarga sudah berkumpul di tempat makan Yang sudah di sediakan Hotel X. Begitu juga dengan Andika dan Hafidza, mereka duduk berdampingan seperti pengantin baru pada umumnya. Hanya ada godaan-godaan yang menimpali pengantin baru itu, Yang Hafidza lakukan hanya menunduk malu.
"Waaah udah belah duren nih pasti" Ujar Om Rafli, adik dari mama Stella.
"Belom Dek. Hafidzanya kedatangan tamu nggak di undang" Jawab papa irham Membuat semua tertawa dan Andika hanya cemberut dengan wajah masamnya, tidak ada henti-hentinya mereka menggodanya.
"Beneran bang? duh mirip Abang Irham dulu yha ternyata haha" Ujar Om Rafli lagi.
"Puasa dulu kamu dik" Lanjut Om Rafli Membuat semua orang semakin jadi dengan tawanya.
"Huuuh udah ah Dika udah selesai makannya, mau jalan-jalan sama istri dika. bye" Ujar Andika seraya menarik lengan istrinya.
"Yeeee mentang-mentang udah punya istri songong amat" timpal Om Rafli kesal.
"Makanya kamu cari istri lagi. lupain yang meninggalkan, masih banyak gadis yang mau sama kamu" ujar Mama Stella memberi tahu.
Rafli Gunawan. Duren sawit (Duda keren sarang duit) Yang di tinggal istrinya bersama pria lain yang lebih mapan dan yang pasti kaya. karena Rafli termasuk pria pas-pasan dan tidak terbilang kaya maka istrinya meninggalkannya.
Namun sekarang berbeda, Rafli bangkit dari keterpurukannya. Lalu ia berencana meminta tolong pada kakak iparnya yaitu Irham Wijaya. Untuk memberinya pekerjaan apapun.
Papa irham tidak langsung memberinya pekerjaan yang sangat instan. namun ia beri pekerjaan yang paling bawah lalu naik jabatan karena kepintarannya, yang tiga bulan sudah menjabat sebagai manajer di salah satu perusahaan papa irham.
Dan sekarang, Rafli sudah mempunyai perusahaan sendiri dengan kerja kerasnya. Perusahaan yang bergerak di bidang jasa, mengimpor dan mengekspor barang seperti elektronik.
Rafli Gunawan terkenal dengan wajah tampannya dan keramahannya. Banyak gadis dari kalangan atas yang mengaguminya, ada juga yang sampai melamarnya secara blak-blakan. tapi itu semua tidak membuat Rafli luluh, dengan kepribadian yang ramah tidak banyak yang tahu akan kesedihan yang ia alami.
Ia berusaha membuka hatinya kembali untuk menerima cinta yang bisa menerimanya apa adanya, tapi secara perlahan. semua butuh proses.
Di tempat lain, lebih tepatnya Andika dan Hafidza yang berada di taman kota menikmati pagi dengan pemandangan yang menyejukkan mata.
Tidak sedikit yang melihat ke arah mereka. mereka sangat serasi dengan Andika yang menggenggam tangan Hafidza di sampingnya. Orang yang mereka lalui tidak bisa memalingkan tatapannya pada pasangan itu.
Andika mengikuti arah tatapan Hafidza yang matanya tertuju pada penjual es krim dengan tenggorokan yang naik turun dan membasahi bibirnya dengan lidahnya pun tersenyum. ternyata istrinya menginginkan es krim.
"Kamu mau?" tanya Andika membuat Hafidza menoleh.
"Hm?" Hafidza mendongak dengan mata bulatnya.
"Mau es krim?" tanya Andika sekali lagi.
"Emang boleh?" tanya Hafidza dengan polos.
__ADS_1
"Tadi malam mas kan udah bilang. Uang mas nggak akan habis buat beliin kamu jajan" ujar Andika membanggakan dirinya.
"kalo gitu fidza mau es krim seratus" jawab Hafidza berbinar.
"Boleh. kalo kuat habisin sok atuh".
"nggak ah. fidza mau satu aja" ujar Hafidza sambil menarik tangan suaminya untuk menghampiri penjual es krim tadi.
"Mas mau juga nggak?, rasa apa?" tanya Hafidza. dibalas Andika dengan anggukan.
"Samain kamu aja" jawab Andika.
"rasa coklat dua yha mang" ujar Hafidza pada tukang penjual es krim.
"Siap atuh neng" Jawab penjual itu seraya menyiapkan pesanan Hafidza.
"Udah berapa lama jualannya mang?" tanya Hafidza ramah.
"Udah lama neng. dari sebelum punya anak, sekarang udah punya tiga" ujar mang es krim.
"Nggak mau buat toko gitu mang? daripada keliling tiap hari" bukan Hafidza yang menimpali, namun Andika ikut nimbrung ke percakapan.
"Duh, nggak ada modalnya den. Jualan gini-gini saya udah bersyukur, hidup pas-pasan jadi sedikit susah" jawab mang es krim sedikit curhat.
"Ini neng" ujar mang es krim menyerahkan pesanan Hafidza.
"Makasih mang" Jawab Hafidza sambil menerima es krimnya.
Andika mengambil dompetnya untuk membayar es krimnya.
"Ini mang. Anggap aja ini rezeki dan Allah" Andika menyerahkan beberapa uang seratus, yang sepertinya lebih dari sepuluh lembar.
"Beneran ini den?" tanya mang es krim tidak percaya.
Hafidza tersenyum melihat suaminya yang sangat baik dan tidak pelit seperti kebanyakan orang kaya lainnya.
"iya mang. Buat sekolah anak-anak yha mang" ujar Andika.
"Terimakasih banyak den. semoga kalian di beri kebahagiaan dalam keluarga kalian" do'a mang es krim untuk kedua insan itu.
"Aaamiiiin" jawab berbarengan Andika dan Hafidza.
__ADS_1
"kami permisi ya mang" ujar Hafidza berpamitan.
"Mangga atuh" jawab mang es krim.
Andika dan Hafidza menikmati es krim mereka di kursi yang sudah di sediakan di taman itu. Dengan pemandangan yang asri, menyejukkan mata yang melihatnya.
"Mas inget nggak pas kita jalan-jalan ke pasar malam, kita ketemu temen mas yang perempuan itu lho" ujar Hafidza memulai percakapan.
"Keysa?" tebak Andika.
"Iya mbak keysa. dia Dateng ke resepsi kita lho mas" adu Hafidza.
"Oh. mas nggak liat" jawab Andika cuek.
"Tapi fidza cuma heran, dia Dateng tapi nggak nemuin kita" ujar Hafidza berfikir.
"Udah nggak usah di pikirin, nggak penting juga" ujar Andika beranjak dari duduknya.
"eh mas mau kemana?" tanya Hafidza ikut berdiri.
"Ayo lanjutin jalan-jalannya" ujar Andika.
'kenapa mas Andika ngehindar saat aku bicarain mbak keysa? pasti ada apa-apa nih' pikir Hafidza mulai curiga.
Andika yang melihat istrinya masih termenung di tempatnya pun membalikkan badannya mengetuk pelan jidat Hafidza untuk menyadarkan istrinya.
Tuk.
"Bengong" ujar Andika seraya menarik pelan tangan Hafidza.
"mau di lanjutin nggak jalan-jalannya?" lanjut Andika dibalas Hafidza dengan anggukan.
"Mikirin apa?" tanya Andika.
"eh itu....... cuma penasaran aja sama mbak keysa" ujar Hafidza menunduk. ia sangat tidak tahan ketika ada yang mengganjal di hatinya, apa lagi yang membuat ia cemburu.
Andika menghela nafas. "Keysa temen SMA mas dulu. yang katanya suka sama mas, tapi mas nggak perduli. To now and forever you my mine so don't worry"
"Makasih mas" ujar Hafidza tersenyum, akhirnya ia lega mendengar kata-kata itu dari mulut suaminya.
Akhirnya mereka melanjutkan acara jalan-jalannya dengan pergi ke mall, Dan tidak lupa ke pasar malam, salah satu tempat favorit Hafidza. Dan sekarang ia menyukai pasar malam karena adanya kenangan tentang Harum manis kelinci yang membuat ia tersenyum sendiri ketika mengingatnya.
__ADS_1
...'Semua yang di lakukan dengan senang hati dan ikhlas, insya Allah akan berbuah manis juga. Jadi jangan kebanyakan mengeluh, jalani dengan rasa syukur yang menyertai. Jangan merasa kehidupan itu tidak adil, Lihatlah yang ada di bawah. tidak mempunyai tempat tinggal, kebutuhan tidak selalu tercukupi. namun mereka masih bisa menjalankan kehidupan kesehariannya.'...