Istri Pilihan Ayah

Istri Pilihan Ayah
Pamit pergi


__ADS_3

Sampai di dalam kamar, Ley mengambil tas bawaannya dan segera berangkat ke Bandara. Sedangkan Raga terasa malas ketika dirinya diminta untuk pergi ke kantor, ucapan yang di lontarkan kepada istrinya seakan sudah menjadi bumerang baginya.


Ley yang menyadari akan statusnya sebagai istri, berjalan mendekati suaminya yang tengah duduk di sofa.


"Maaf sebelumnya, aku mau pamit untuk berangkat ke luar negri bersama Lindan dan juga Mama." Ucap Ley yang lidahnya terasa kaku.


Raga langsung berdiri dan berhadapan dengan sang istri, diraihnya tangan milik istrinya.


"Ley, maafkan aku." Ucap Raga dengan tatapan penuh memohon, seakan begitu berat jika harus jauh dengan istrinya.


"Maaf untuk apa?" tanya Leyza yang berusaha melepaskan tangannya.


"Atas semua kesalahanku terhadap dirimu dimasa lalu. Aku janji, aku siap melakukan apa saja, asalkan kamu mau memaafkan aku." Jawab Raga sambil menggenggam tangan milik istrinya begitu erat.


"Aku sudah memaafkan kamu, lepaskan tangan kamu ini." Ucap Leyza berusaha melepaskan tangan suaminya, Raga tetap bersikukuh untuk tidak melepaskan.


"Bohong, kamu masih terlihat membenciku."

__ADS_1


"Itu pandangan kamu saja, yang selalu menganggap orang yang ada dihadapan kamu itu musuh, bukan orang yang kamu kenali dengan akrab." Kata Leyza yang terus melepaskan tangan suaminya.


Raga terdiam dan melepaskan tangan milik istrinya.


"Maaf, aku segera berangkat. Aku tidak ingin Mama dan Lindan menungguku lama, permisi." Ucapnya lagi, sekaligus berpamitan untuk pergi.


Raga menatapnya sedih, merasa tidak rela jika harus ditinggal pergi oleh istrinya. Meski tidak ada pengakuan tentang perasaan dan cinta di hatinya dan hati istrinya, Raga merasa kehilangan, walau perginya hanya beberapa waktu saja.


Berkali-kali Raga mengacak rambutnya, merasa frustrasi ketika dirinya memilih menolak untuk pergi berlibur bersama istrinya.


"Aaaaaaa!" teriak Raga begitu kencang karena sebuah penyesalan.


Sedangkan di bawah anak tangga, Leyza bersama adik ipar dan ibu mertuanya telah siap untuk berangkat. Sedangkan ayah mertua juga sudah terlihat rapi, dan siap untuk berangkat ke kantor.


Satu persatu berpamitan dengan Tuan Hamas, selanjutnya bergegas pergi dari rumah tanpa berpamitan dengan Raga. Meski Bunda Yuna terasa berat untuk meninggalkan Raga di rumah hanya dengan ayahnya saja, tetap hati seorang ibu merasa kasihan.


Tetapi, mau bagaimana lagi, Bunda Yuna tidak boleh egois demi kebaikan putranya agar bisa menghargai orang lain dan juga waktu, kata sang suami.

__ADS_1


"Ma, seriusan nih, Kak Raga beneran tidak ikut? kalau nantinya benci Lindan, bagaimana? apa tidak sebaiknya Kakak saja yang berangkat?"


Karena merasa tidak enak hati, Lindan mencoba bernegosiasi dengan ibunya.


"Percuma saja, Papa kamu tidak akan pernah mengubah keputusan yang sudah ditentukan. Kita ikutin saja apa yang akan Papa kamu lakukan, kita cukup berdoa yang baik-baik."


"Tapi, Ma ... benar kata Kak Raga, Kakak suaminya, bukan Lindan."


"Lindan!"


"I-i-i-ya, Pa." Sahut Lindan terbata-bata dan juga takut mendapat omelan.


"Kamu tidak perlu memikirkan Kakak kamu, urusin diri kamu sendiri." Ucap Tuan Hamas memberi peringatan kepada putranya.


Lindan mengangguk, seraya mengerti yang dimaksudkan oleh sang ayah.


"Ya, Pa. Maafkan Lindan, ini semua karena tidak enak hati saja." Jawab Lindan.

__ADS_1


"Ya sudah, kalian bertiga berangkatlah." Ucap Tuan Hamas, Lindan dan yang lainnya mengangguk dan menjawabnya serempak.


Tidak ada lagi bayangan mobil yang dapat ditangkap oleh indra penglihatan, Tuan Hamas kembali masuk ke rumah dan menemui putranya yang sedari tadi tidak terlihat barang hidungnya.


__ADS_2