
Suasana berubah menjadi hening saat semuanya tengah menikmati sarapan pagi bersama keluarga.
Sambil mengunyah makanan, Raga tak lepas untuk memperhatikan istrinya walau hanya sekilas saja.
Begitu juga dengan Lindan yang sama halnya memperhatikan kakak iparnya dan beralih ke kakaknya sendiri, yakni Raga.
Leyza yang merasa dirinya diperhatikan oleh suaminya sendiri, cepat-cepat untuk menghabiskan sarapannya. Setelah semuanya selesai sarapan, tidak ada satupun yang beranjak dari ruang makan.
"Pa, Ma." Panggil Raga yang akhirnya membuka suara di ruang makan.
Leyza menoleh ke sebelahnya, tentu saja penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh suaminya.
"Ya, ada apa?" sahut Tuan Hamas setelah mengelap mulutnya dengan tissue.
"Em ... itu,"
Sambil memijat pelipisnya, Raga bingung harus memulainya dari mana untuk berterus terang kepada kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Ada apa, Raga?" timpal sang ibu ikut bertanya, lantaran melihat sikap aneh pada putranya.
"Ya nih Kak Raga, ada apa?"
Tidak hanya kedua orang tuanya saja yang ikutan bertanya, tetapi Lindan juga ikut bertanya.
"Begini, Ma. Aku memilih untuk ikut menemani Leyza ke luar negri, untuk urusan kantor, biar Lindan saja." Ucap Raga tanpa malu-malu lagi, lantaran dirinya tidak ingin membuang kesempatan emas untuk mendekati istrinya.
Semua kaget mendengarnya, merasa aneh dengan apa yang dikatakan Raga di hadapan kedua orang tuanya dan istri maupun adiknya sendiri.
Sejenak Tuan Hamas mencoba untuk mencerna kalimat yang diutarakan oleh putranya, karena tidak seperti biasanya seorang Raga yang tiba-tiba berubah menjadi aneh.
"Karena aku masih bingung, Pa. Setelah aku pikir-pikir lagi, aku lebih memilih untuk pergi menemani Leyza."
"Sudah tidak bisa, karena hari ini akan ada pertemuan penting dengan perusahaan pimpinan dari keluarga Nagara."
"Nagara?"
__ADS_1
"Ya, benar. Ozan namanya, yang akan melakukan kerja sama dengan kita."
"Tapi Pa, Aku ini suaminya Leyza, seharusnya aku yang menemaninya, bukan Lindan."
"Tidak bisa, karena kamu sendiri yang sudah memberi keputusan untuk tidak ikut menemani istri kamu." Ucap sang ayah mencoba mengingatkan putranya.
"Itu kan, kemarin aku sedang tidak konsen, Pa."
"Tidak bisa, keputusan Papa sudah bulat dan tidak bisa untuk di rubah. Mau tidak mau, kamu siap menerima segala resikonya. Lagi pula, wajah istrimu akan membuatmu malu, 'kan? fokus saja dengan tugas kamu hari ini di kantor. Biarkan istrimu ditemani Lindan dan Mama kamu untuk liburan di luar negri."
"Pa, Lindan dicancel aja juga tidak apa-apa." Ucap Lindan ikut bicara.
"Tidak bisa, biarkan Kakak kamu bertanggung jawab dengan pilihannya sendiri. Sekarang juga, kamu bersiap-siaplah, jangan sampai ketinggalan jam penerbangan."
Raga yang mendengar keputusan ayahnya yang tidak bisa untuk di rubah, hanya bisa pasrah dan menerimanya.
Meski kecewa dan juga menyesalinya, Raga tak berhak untuk memaksakan diri, lebih lagi istrinya sendiri tak ikut bicara, Raga hanya bisa apa? diam dan menerima keputusan dari sang ayah.
__ADS_1
Karena sebuah permintaan tidak diterima oleh sang ayah, Raga bangkit dari posisi duduknya dan kembali ke kamar dan disusul istrinya dari belakang.
Begitu juga dengan Lindan yang sebenarnya tidak ingin membuat kakaknya kecewa, tapi apa boleh buat, jika dirinya hanya bisa menuruti permintaan dari sang ayah.