Istri Pilihan Ayah

Istri Pilihan Ayah
semakin kesal melihatnya


__ADS_3

Raga langsung menoleh ke samping.


"Sok tahu, kamu itu. Sini, kopinya." Ucap Raga dan berjalan mendekati istrinya.


Dan, dilihatnya Leyza tengah menyeruput teh panasnya. Seketika, Raga langsung teringat saat istrinya menolak pemberian teh darinya dengan alasan tidak menyukainya.


Ingin marah, itu tidak akan mungkin untuk dilakukan oleh seorang Raga.


"Ehem."


Raga sengaja berdehem saat berdiri tidak jauh jaraknya dengan Ozan maupun istrinya sendiri.


Keduanya sama-sama menoleh dan juga sama terkejutnya.


"Kamu,"


"Hai, sayang." Panggil Raga dengan sebutan yang menurut Leyza sangat geli untuk didengarnya.


Ozan hanya bisa diam, tidak mungkin juga jika harus mencari perhatian juga dengan Leyza.

__ADS_1


"Kamu sudah ada di sini rupanya, sejak kapan?" tanya Raga pada Ozan.


"Ya, tadi sehabis menaruh barang bawaan, aku langsung keluar dari kamar. Maaf, aku kira kamu sedang tidur." Jawab Ozan dengan santai.


"Oh, jadi kalau sedang tidak ada aku, kamu dekati istriku, begitu maksudnya? ha! jawab."


Dengan emosi, Raga tidak peduli jika harus marah dengan Ozan, karena rasa cemburu yang sudah memuncak hingga sampai ke ubun-ubun.


"Maksud aku itu, bukan begitu. Aku tidak ada niatan apapun, aku hanya mencari udara baru, itu saja. Lagi pula, aku juga tidak ada sesuatu yang aku rencanakan." Jawab Ozan mencoba memberi penjelasan kepada Raga, meski tertolak secara emosi.


"Bilang aja kalau kamu itu, mau mencari kesempatan. Jangan berharap, karena aku tidak akan pernah membiarkan siapapun yang berani berurusan denganku, camkan itu."


Masih dikuasai emosinya, tak peduli jika harus memberi ancaman kepada Ozan. Yang terpenting dirinya tidak dianggapnya remeh, pikirnya.


BUG!


Sebuah tinjauan telah melayang pada sudut bibir milik Ozan, Raga tak peduli jika harus melawan dan mengajaknya beradu fisik.


"Lepaskan!" bentak Leyza dengan suara cukup nyaring dan berdiri di tengah-tengah diantara keduanya.

__ADS_1


Raga dan Ozan sama-sama diamnya, keduanya tanpa bersuara.


"Kalian ini sudah dewasanya, bukan lagi anak kecil. Seharusnya kalian berdua ini, malu. Tapi apa, kalian seperti anak kecil yang berebut mainannya." Ucap Leyza dengan penuh kesal setelah mendengar apa yang diperdebatkan oleh Ozan dan suaminya sendiri.


"Dan kamu, misi apa yang sedang kamu lakukan, Raga?" tanya Leyza sedikit bertanya, serta ingin tahu kebenarannya.


"Tidak ada, aku hanya membutuhkan kata maaf darimu dengan tulus." Jawab Raga berhenti sejenak.


"Hanya itukah?" tanyanya lagi karena rasa yang belum merasa puas dan menyadari sebelumnya.


"Masih ada lagi, tetapi bukan kata maaf." Jawab Raga yang mulai menanggapinya dengan santai, seolah semuanya baik-baik saja dan tidak kehilangan.


"Apa itu?" tanyanya lagi pada sang suami, karena rasa ingin tahu.


"Aku ingin mendapatkan cintamu setelah kata maaf darimu, Leyza istriku." Jawab Raga yang pada akhirnya berterus terang dengan apa yang diinginkannya.


Leyza terdiam saat mendengar ucapan dari Raga yang kedengaran serius dan tidak sedang dalam drama.


Ozan yang juga ikut mendengar pengakuan dari Raga, hati kecilnya seakan tidak mempunyai kesempatan untuk memiliki Leyza.

__ADS_1


Susah payah dari dulu mendekati perempuan yang disukainya, kini seakan harus menerimanya dengan hasil yang masih sama.


"Kok sepi, padahal kalian semua berkumpul, ada apa lagi, ini?" tanya Bunda Yuna yang kebetulan kedua indra pendengarannya dapat menangkap suara yang kedengarannya cukup gaduh.


__ADS_2