
Seketika, lampunya menyala dan membuat keduanya kaget dengan kondisi berpelukan.
Ley langsung melepaskan pelukannya, hujan beserta angin kencang, pun mulai reda.
"Maaf, aku tidak ada maksud apapun saat memeluk dirimu, hanya semata karena aku takut dengan hujan, angin, dan juga petir, itu saja." Ucap Ley sambil merapikan handuk kimono yang hampir saja lepas.
"Tidak apa-apa, aku tidak keberatan." Jawab Raga masih dengan posisinya.
"Kalau kamu mau mandi, silakan, aku sudah selesai." Ucap Ley sambil mengencangkan pengikatnya.
Raga langsung meraih tangan istrinya dan menggenggam cukup erat, supaya sang istri tidak mudah untuk melepaskannya.
"Mau sampai kapan, kamu akan terus-terusan seperti ini. Aku butuh kepastian darimu, apakah kamu mau memaafkan aku atau tidak? jangan membuatku semakin gila hanya menunggu jawaban darimu."
Dengan berani dan tanpa menyerah, Raga terus mempertanyakan tentang diterimanya kata maaf darinya.
"Baru beberapa hari, kamu sudah merasa paling gila. Lalu, apa kabarnya denganku? yang sudah menunggu bertahun-tahun lamanya, itu hanya ingin mengetahui seberapa besar tanggung jawab sebagai pelaku, dan tidak lari dari tanggung jawab."
"Aku tahu, aku salah. Setidaknya katakan padaku, apa yang harus aku lakukan agar kesalahanku dapat ku tebus? katakan padaku."
"Terserah kamu, itu bukan urusanku."
__ADS_1
"Lihat aku, lihat." Ucap Raga yang memaksa sang istri untuk wajahnya.
"Untuk apa aku menatapmu? aku bukan wanita cantik seperti kekasihmu yang bernama Karina, aku perempuan lusuh, norak, miskin, itu yang kamu lihat."
"Tidak, dulu mataku rabun saat melihatmu. Aku hanya menilai kamu dari penampilan saja, tetapi tidak untuk sesungguhnya. Justru, kamu perempuan hebat, berani mempertahankan lukamu demi aku yang bod*oh ini, dan lupa akan kesalahan yang sudah aku perbuat dimasa laluku."
"Yakin?"
"Aku mohon, izinkan aku untuk menebus semua kesalahanku yang sudah menyakitimu. Aku janji, aku tidak akan mengulangi kesalahan yang kedua kalinya. Aku rela melakukan apapun, asal kamu mau memaafkan aku."
"Aku sudah memaafkan kamu. Sudah mau mengakui saja, itu sudah cukup. Karena aku bukan pemilik hidupmu, dan aku tak punya hak apapun untuk menghukum kamu. Sudah bertanggung jawab saja, aku menganggapnya sudah selesai. Setidaknya kamu menyadari tentang kesalahan."
"Benarkah, kamu benar-benar memaafkan aku? aku janji, aku akan menebusnya."
"Apakah aku boleh bertanya sesuatu padamu?" tanya Raga yang akhirnya mulai membuka topik selanjutnya.
"Tanyakan saja, aku tidak keberatan." Jawab Leyza, tetapi tidak menatap wajah suaminya, melainkan ke sembarang arah.
"Apakah kamu akan tetap melanjutkan hubungan pernikahan kita?" tanya Raga dengan berani.
Apapun jawaban yang akan diterima, Raga berusaha lapang meski harus kecewa sekalipun.
__ADS_1
Leyza langsung menoleh pada Raga.
"Kenapa harus bertanya padaku?"
"Karena aku tidak ingin mempunyai hubungan hanya karena keterpaksaan, itu saja."
"Benarkah? bukankah kalimat yang kamu ucapkan itu yang seharusnya aku katakan padamu?"
"Karena aku merasa, kalau aku bukan lelaki baik."
"Apakah akan terus begitu?"
"Tidak, aku akan belajar bertahap untuk menjadi lebih baik lagi."
"Pikirkan lagi kalau kamu ingin menjadi suamiku, aku bukan perempuan cantik dan sempurna, aku memiliki banyak kekurangan."
"Tidak masalah, karena aku yang akan bertanggung jawab untuk membuatmu lebih cantik di mataku, bukan dimata orang lain."
"Jangan banyak angan, jalani saja bagai alir mengalir, ikuti kemana air itu akan terus mengalir."
"Jadi, kita masih suami istri, 'kan?" tanya Raga yang ingin mengetahui pengakuan dari istrinya.
__ADS_1
"Tanyakan saja pada diri kamu sendiri, masih suami istri atau bukan."
Entah ada angin apa, tiba-tiba Raga langsung memeluk erat istrinya dan membuat Leyza sulit untuk bernapas.