
Setelah tidak ada yang perlu ditakutkan, Leyza segera keluar dari kamar mandi. Dan didapati sang suami yang sudah tidur berselimut tebal usai meminum obatnya sendiri.
'Akhirnya tidur juga, syukurlah.' Batin Leyza dengan penuh kelegaan, ketika melihat suaminya yang sudah lebih dulu tidur.
Ley yang masih canggung untuk tidur satu ranjang dengan suaminya, memilih untuk tidur di sofa.
Pelan-pelan, Leyza meraih bantal yang ada di sebelah sang suami. Raga langsung menahan tangan istrinya, secara sedari tadi Raga sama sekali tidak tidur dan kedua matanya masih mampu untuk mengawasi istrinya.
Ley begitu kaget saat suaminya sudah membuka matanya dengan sempurna.
"Tidurlah bersamaku, kamu istriku dan berhak untuk tidur di tempat tidur ini. Jangan sakiti badanmu untuk tidur di sofa, sama saja kamu tidak menyayangi tubuhmu." Ucap Raga, Ley hanya mengangguk dengan satu anggukan dan segera tidur disebelah suaminya.
Tak ingin istrinya kedinginan, Raga membagi selimutnya. Kemudian, ia bangkit dari posisi tidurnya.
"Kamu mau kemana?" tanya Ley yang penasaran.
"Aku belum mencuci mukaku, dan juga belum menggosok gigi. Kamu tidur saja duluan, besok kita akan pulang, dan tentunya melakukan perjalanan jauh. Jadi, jangan bergadang." Jawab Raga, dan segera melakukan ritual sebelum tidur.
Ley yang tidak ingin waktu istirahatnya terbuang sia-sia, langsung tidur sesuai yang diperintahkan oleh suaminya.
Sedangkan di kamar lain, Ozan masih terjaga dan juga belum tidur. Entah mengapa, hatinya bertambah gelisah dan tidak tenang.
"Kak Ozan, ngapain lagi sih masih melek gitu. Tidur kek, udah larut malam ini loh."
__ADS_1
"Diam ah, Lu. Aku tidak bisa tidur. Kalau kamu mau tidur, ya tidur aja." Sahut Ozan sambil memainkan laptopnya duduk di sofa.
Rafa yang tahu apa yang sedang dipikirkan oleh sang kakak, akhirnya bangkit dari posisi tidurnya dan ikut duduk bersama sang kakak.
"Nah, ikutan duduk kamunya. Ini sudah larut malam, lebih baik tidur."
"Aku bukan anak kecil lagi, yang harus tidur tepat waktu dan tidak boleh telat. Kakak sendiri kenapa belum juga tidur? mikirin Leyza?"
"Sok tahu, kamu itu. Tidak, aku tidak sedang memikirkan dia, aku sedang memikirkan pekerjaanku yang jauh lebih penting dari apapun. Leyza bukan istriku, ada hal yang lebih penting darinya. Sudahlah, sana kamu tidur." Jawab Ozan sambil fokus ke layar laptopnya.
"Terus mikirin apaan, kalau bukan si Leyza."
"Hem, kamu tidak perlu tahu, nanti juga bakal tahu sendiri. Sudahlah, sana cepetan tidur."
Ozan yang masih belum juga bisa tidur, dirinya masih disibukkan dengan laptopnya. Berharap, dirinya tidak begitu larut dari kekecewaan karena tidak dapat memiliki perempuan yang dicintainya.
Begitu juga dengan Raga, dirinya yang sama seperti Ozan tidak bisa tidur. Raga memilih untuk memaksakan diri agar dapat tidur dengan nyenyak bersama istrinya.
Raga mengakui, begitu berat untuk melewati satu malam di negri orang. Terasa malas jika dirinya harus pulang, lantaran tidak akan satu rumah dengan istrinya.
Saat sudah membaringkan badannya di atas tempat tidur, Raga mengubah posisinya sendiri dengan posisi sedikit meringkuk. Jika dirinya ingin memeluk istrinya, tidak begitu kesulitan.
Malam yang semakin larut, dan juga semakin dingin. Akhirnya, pelan-pelan Raga memeluk istrinya dengan penuh kehangatan.
__ADS_1
Ley yang merasa begitu nyaman, dirinya mengganti posisi tidurnya menghadap sang suami. Tentu saja, membuat Raga tersenyum puas ketika dirinya tidak harus susah payah untuk memandangi wajah ayu milik istrinya dengan puas.
'Aku berharap, malam ini akan terus berlanjut seperti ini. Semoga kamu tidak akan mengatakan perpisahan untuk selamanya kepadaku, dan kamu bersedia menjadi teman hidupku.' Batin Raga sambil mengusap pelipisnya dan tak lupa menci*um keningnya dengan lembut.
Seketika, Leyza terbangun dari tidurnya saat merasakan ada sesuatu yang dilakukan oleh suaminya. Raga tersenyum ketika menatap istrinya, dan kembali menye*ntuh bibirnya.
Sedangkan Raga sendiri tidak begitu peduli jika istrinya akan marah, yang terpenting bagi dirinya masih mempunyai hak atas istrinya.
"Tidurlah, biar aku yang akan menjaga tidur lelap-mu. Masih panjang waktu untuk istirahat, ayo tidur." Pinta Raga pada istrinya untuk melanjutkan tidur panjangnya.
Ley mengangguk dan kembali memejamkan kedua matang hingga tertidur dengan lelapnya. Begitu juga dengan Raga sendiri yang tak mampu untuk menahan rasa kantuknya dan pada akhirnya sudah tidur dengan posisi memeluk istrinya hingga pagi hari menyambutnya.
Udara pagi hari yang begitu hangat telah masuk ke cela-cela kamar, rupanya dua insan yang menyandang suami-istri sudah bangun sejak tadi.
Raga yang baru selesai membersihkan diri, ia segera membereskan barang bawaannya sendiri untuk dibawa pulang. Sedangkan Leyza sudah membereskannya lebih dulu sebelum Suami bangun dari tidurnya.
Seperti biasa, Leyza selalu membantu asisten rumah untuk menyiapkan sarapan pagi. Tidak hanya Leyza saja, tetapi juga ibu mertuanya ikut membantunya jika tidak ada kesibukan yang lainnya.
Tidak lama kemudian, akhirnya Ley sudah menyiapkan sarapan pagi di atas meja makan. kemudian, ia kembali ke kamar untuk membersihkan diri karena gerah dan juga terasa lengket.
Saat membuka pintu kamar, rupanya sang suami juga membuka pintunya.
"Aw!" pekik Raga saat keningnya terbentur pintu oleh istrinya saat membuka pintunya lebih dulu dari pada suami sendiri.
__ADS_1