
Suara ketukan pintu telah membuyarkan lamunan Raga saat memperhatikan istrinya yang sedang mengemasi barang bawaannya, yakni pakaian lengkapnya.
Melihat istrinya tengah sibuk, Raga yang memilih untuk membukakan pintunya.
"Permisi, Tuan. Maaf, jika saya sudah mengganggu Tuan dan Nona. Sekarang sudah waktunya untuk sarapan pagi, takutnya jam penerbangan telat." Ucap Mbak Yana dengan menunduk.
"Ya, Mbak. Katakan saja, sebentar lagi kita akan turun." Jawab Raga disertai anggukan.
"Baik, Tuan. Kalau begitu, saya permisi." Ucapnya dan kembali ke pekerjaannya, Raga sendiri menutup pintunya dan berjalan mendekati istrinya.
"Kita sudah ditunggu di ruang makan, selesaikan barang-barang kamu. Kalau tidak keberatan, aku akan membantumu." Ucap Raga menawarkan bantuan kepada istrinya, Leyza menoleh ke samping dan mendongak.
"Terima kasih sebelumnya. Tapi maaf, aku masih bisa untuk melakukannya sendiri. Kalau kamu ingin turun, duluan aja. Nanti aku akan menyusul, tidak lama kok." Jawab Leyza menolaknya lagi, Raga hanya menelan ludahnya susah payah, lantaran istrinya selalu menolak pemberian dan bantuan darinya.
__ADS_1
"Baiklah kalau tidak ingin aku membantumu, aku akan menunggu kamu sampai selesai berkemas." Ucap Raga, Leyza tidak menanggapinya dan terus menyelesaikan yang perlu untuk di bawa ke luar negri.
Cukup lama menunggu, akhirnya selesai juga dan lega. Dan dilihatnya sang suami yang masih duduk di sofa, terlihat jelas sedang menunggu dirinya.
"Sudah selesai? ayo kita turun." Tanya Raga sekaligus mengajak istrinya untuk keluar, Ley tidak berucap, melainkan menganggukkan kepalanya pelan.
Tidak peduli jika hanya sebuah anggukan saja, Raga keluar dari kamar lebih dulu dan diikuti oleh Leyza dari belakang.
Dengan hati-hati dan pelan jalannya, Leyza menuruni anak tangga.
Dengan reflek dan juga sigap, Raga langsung
menangkap tubuh istrinya yang hampir saja terjatuh dengan memutarkan badannya dan menghimpit tubuhnya. Keduanya saling menatap satu sama lain dengan jarak yang cukup dekat, bahkan hanya beberapa inci saja.
__ADS_1
Detak jantung Leyza berdegup kencang saat tatapan dari suaminya seakan menghipnotis dirinya. Begitu juga dengan Raga, dari merasa bersalah, sampai lupa dengan luka wajah istrinya.
Dilihatnya bibir ranum nan manis milik istrinya, membuat Raga ingin menc*iumnya.
Dan benar saja, Raga nekat melakukannya, yakni menc*ium bibir milik istrinya. Naas, belum sempat mencium, Leyza mendorong tubuh suaminya. Tanpa disadari oleh keduanya, ada Lindan yang baru turun dari tangga sebelah.
Lindan yang tidak ingin memergoki, lebih memilih untuk pergi. Lagi pula, mereka suami istri dan tidak ada hak baginya mengganggu sepasang suami-istri.
"Lepaskan, aku tidak bisa bernapas." Ucap Leyza yang tidak ingin suaminya akan mengambil kesempatan, seolah dirinya mudah di rayu maupun di goda walau hanya lewat tatapannya saja.
Raga sendiri langsung melepaskan istrinya daripada harus menerima perdebatan. Tidak ingin ada yang memergoki, Raga dan Leyza segera menuju ke ruang makan.
Entah ada angin apa, sejak penyesalannya atas perbuatan buruknya kepada sang istri, susah payah Raga mencoba untuk mengambil hati istrinya dan mendapatkan maaf darinya.
__ADS_1
Bahkan, biasanya yang tidak pernah peduli, kini Raga memperlakukan istrinya bak istri kesayangan. Menarik kursi saja, pun dilakukan oleh Raga sendiri.
Leyza sendiri merasa risih dan tidak nyaman ketika suaminya yang sedari tadi mencoba memberi perhatian untuknya. Mau tidak mau, akhirnya menerimanya, lantaran di hadapan mertua dan adik dari suaminya.