Istri Pilihan Ayah

Istri Pilihan Ayah
Mengajak jalan-jalan


__ADS_3

Usai makan malam di rumah yang tidak begitu besar dan hanya cukup untuk dijadikan tempat istirahat, Bunda Yuna dan yang lainnya sibuk dengan pilihannya masing-masing.


Diantaranya ada yang memilih untuk beristirahat di dalam kamar, ada juga yang keluar dari rumah. Sedangkan Raga dan Ley masih berada di dalam kamar, keduanya tidak tahu harus berbuat apa, selain duduk di atas kasur dan sofa.


Raga yang dari awal mencari kesempatan untuk mendekati istrinya, ia ikutan duduk disebelah sang istri.


"Kamu sedang tidak sibuk, 'kan?" tanya Raga yang pada akhirnya membuka suara.


"Tidak, kenapa dan ada apa?" jawab Ley dan balik bertanya.


"Aku mau mengajakmu jalan-jalan di dekat sini saja, bagaimana?"


"Bukankah barusan hujan?"


"Ya, tapi sudah reda. Kamu mau atau tidak? sekedar jalan-jalan saja, biar tidak suntuk di dalam rumah."


"Em, bagaimana ya? baiklah, aku mau. Tapi ..."


"Tapi kenapa?"


"Kita berdua saja, atau ada yang lainnya?"


"Hanya kita berdua saja, Lindan sibuk, sedangkan Ozan sudah keluar duluan."


"Oh,"


"Kok, oh."


"Kalau Mama?"


"Mama pingin istirahat, badannya capek, katanya."


"Ya sudah, aku ganti baju dulu."

__ADS_1


"Aku tunggu di bawah."


"Ya, tidak lama kok." Kata Leyza, Raga mengangguk dan segera keluar dari kamar.


Ley yang awalnya ingin menolak ajakan suaminya, hati kecilnya tak dapat untuk mengecewakannya. Meski masih ada rasa kekesalannya dengan masa lalu, suami tetaplah suami, walau tak ada perasaan cinta sekalipun. Setidaknya, berusaha menempatkan statusnya sebagai sang istri.


Dirasa sudah rapi dan tidak terlihat berantakan dengan penampilannya, Ley segera keluar dari kamar.


"Aku sudah siap." Ucap Ley sambil berjalan mendekati suaminya.


Raga langsung menoleh kebelakang, dan dilihatnya sang istri yang terlihat cantik, meski sedikit kelihatan lukanya. Lagi-lagi, dirinya kembali teringat dengan kesalahan sendiri.


"Ayo kita berangkat, tapi jalan kaki, tidak apa-apa 'kan?"


"Tidak apa-apa, disini sudah umum untuk memilih jalan kaki dari pada harus menggunakan kendaraan." Jawab Leyza, Raga tersenyum tipis.


"Kalian berdua mau pergi kemana?" tanya Bunda Yuna.


"Kita berdua mau jalan-jalan di sekitar sini saja kok, Ma. Aku yang mengajaknya keluar, biar tidak suntuk di dalam rumah." Jawab Raga.


"Ya, Ma. Kalau gitu, aku dan Ley pamit dulu." Jawab Raga, Bunda Yuna mengangguk dan tersenyum.


Tanpa canggung, Raga meraih tangan istrinya dan menggenggamnya. Kemudian, ia mengajak istrinya keluar dari rumah. Ley sendiri tak dapat menolaknya, dan tidak ingin membuat ibu mertuanya berpikiran yang tidak tidak, pikirnya.


"Semoga saja Ley mau menerima Raga dengan tulus untuk menjadi suaminya, meski penuh dengan kekurangannya. Andai saja Raga mau mengakui dan bertanggung jawab dari dulu, mungkin tak akan serumit ini perasaan diantara mereka berdua." Gumam Bunda Yuna yang penuh harap atas hubungan keduanya, Raga dan Leyza.


Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dan ditakutkan lagi, Bunda Yuna kembali ke kamarnya untuk istirahat.


Berbeda dengan Lindan, merasa jenuh dengan tugasnya sendiri yang diminta untuk mengecek ulang berkasnya.


"Tidak apa-apa malam ini bergadang, besok giliran aku yang akan menikmati jalan-jalan seharian penuh." Ucapnya dibarengi menguap karena kedua matanya merasa jenuh, lantaran harus bolak-balik memeriksa.


Lain lagi dengan sang kakak, yang tengah menikmati malamnya dengan istrinya. Tentu saja, sesuatu hal istimewa untuk Raga, dikarenakan dapat mengajak istrinya jalan-jalan.

__ADS_1


"Kalau boleh tahu, sedekat apa sih, antara kamu dengan Ozan?" tanya Raga yang akhirnya memberanikan diri, karena rasa penasarannya.


"Tidak ada sedekat apa-apa antara aku dengannya. Aku hanya menganggapnya layaknya kakak aku sendiri, tidak lebih dari itu. Memang sih, dari dulu selalu mengatakan cinta padaku, tapi aku menolaknya terus, dengan alasan, karena aku sudah mempunyai lelaki lain."


"Aizan kah orangnya?"


"Ya, Aizan."


"Kenapa kamu putus dengannya? lalu, kenapa kamu tidak mencoba untuk menerima cintanya Ozan?" tanya Raga layaknya wartawan yang ingin mengetahui sampai ke akar-akarnya.


"Karena kamu." Jawab Ley dengan padat dan juga sangat jelas, Raga langsung menghentikan langkah kakinya, tepat menginjakkan ke taman.


"Karena aku? apakah luka ini yang kamu maksud?" tanya Raga sambil memegangi luka yang ada pada pipi kanan milik istrinya.


Ley langsung meraih tangan suaminya yang tengah memegangi luka pada wajahnya.


"Ya, karena luka ini. Aku tidak akan menerima lelaki manapun dan menentukan pilihanku, sebelum adanya pengakuan dari orang yang sudah melukaiku. Mungkin saja kalau aku tidak mengetahui siapa pelakunya, tentu saja aku sudah menikah dengan lelaki siapa yang lebih dulu melamar-ku. Tapi, karena aku mengetahui siapa pelakunya, akan terus ku tunggu."


Jawab Ley dengan panjang lebar tanpa malu maupun canggung, tetap menjawabnya sesuai dengan kenyataan yang dijalaninya.


Raga yang mendengar penjelasan dari istrinya, hatinya seperti tergores begitu perihnya.


Diam, hanya itu yang dilakukan Raga. Penyesalan, itu sudah pasti. Ditambah lagi ada lelaki yang juga masih mengharapkan istrinya, tentu saja semakin sulit untuk memperjuangkan pernikahannya.


Lebih lagi jika istrinya telah memilih lelaki lain ketimbang dirinya, yang pasti akan terasa sakit ketika dirinya berjuang dan gagal untuk memiliki.


"Aku minta maaf, kalau aku sudah menghancurkan kebahagiaan kamu. Bahkan, sampai-sampai kamu harus menikah denganku, lelaki yang tidak pantas untuk dijadikan suami kamu." Ucap Raga sambil menunduk malu di hadapan istrinya.


"Mungkin ini sudah takdir, memang beginilah perjalanan hidup kita. Sudahlah, tak perlu kamu mempertanyakan lagi soal lelaki lain." Kata Leyza dan berjalan memasuki area taman.


"Kak Ozan, ada di sini juga?"


Ley terkejut saat dirinya hampir saja menabrak Ozan yang tengah berjalan. Sedangkan Raga yang melihatnya lewat mata kepalanya sendiri, hatinya terasa panas karena terbakar oleh api cemburu.

__ADS_1


"Ya, karena aku bosan berada di dalam rumah. Jadi, aku sempatkan untuk jalan-jalan mencari udara malam. Oh ya, aku duluan. Takut, suami kamu akan cemburu." Ucap Ozan dan langsung bergegas pergi, lantaran dirinya melihat Raga yang sudah memperhatikannya sedari tadi.


__ADS_2