
Bunda Yuna masih penasaran dengan yang dikatakan oleh Leyza, menantunya.
"Kamu sedang tidak membohongi Mama, 'kan?" tanya ibu mertua seperti mengintrogasi.
Leyza menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Ma." Jawab Leyza yang tidak tahu harus berkata apa lagi pada ibu mertuanya, lantaran pikirannya sudah tidak karuan.
"Jadi, kamu mau kan, menerima ajakan Mama pergi ke luar negri untuk melakukan operasi wajah kamu? Mama mohon, jangan menolak ajakan Mama."
"Ya, Nak. Jangan menolak ajakan kami, karena ajakan kami ini benar-benar tulus untuk kamu. Tidak hanya itu saja, bahwa kamu adalah tanggung jawab Papa sepenuhnya. Papa berharap, kamu tidak memutuskan persahabatan Papa dengan kedua orang tua kamu." Sambung Tuan Hamas langsung ikut bicara.
Leyza sendiri merasa bingung, ditambah lagi orang tuanya dengan ayah mertuanya begitu mengenal baik satu sama lain, bak seperti keluarga sendiri, meski Leyza sendiri tidak begitu mengenal dan juga dekat dengan keluarga mertuanya.
"Mau ya, Nak. Mama mohon, penuhi permintaan kami ini." Ucap ibu mertua memohon.
"Leyza masih bingung, Ma, Pa." Jawab Leyza yang merasa sulit untuk menjawabnya.
"Mama bisa mengerti posisi kamu. Masih ada kesempatan untuk memberi keputusan besok pagi. Mama berharap, kamu mau menerima ajakan Mama." Ucap ibu mertua berusaha untuk bersabar, ketika menunggu keputusan dari menantunya.
__ADS_1
Leyza tersenyum, meski senyumnya terasa berat, tetapi tidak untuk menunjukkan kesulitannya untuk memberi keputusan kepada ibu mertuanya, meski sebenarnya sangatlah sulit.
"Sebelumnya Leyza meminta maaf, jika Ley belum bisa menjawabnya sekarang. Janji, besok pagi akan ada keputusan untuk Mama dan Papa." Jawab Leyza yang berusaha untuk tetap tenang.
"Ya, tidak apa-apa. Mama dan Papa bisa mengerti. Ya sudah kalau kamu mau kembali ke kamar, selamat beristirahat." Ucap ibu mertua, Ley mengangguk dan pergi dari hadapan ibu dan ayah mertuanya setelah berpamitan.
Saat sudah sampai di depan pintu kamar, pelan-pelan Ley membuka pintunya. Takut, jika dirinya mengagetkan sang suami.
Dan benar saja, rupanya Raga sudah berdiri di hadapannya saat membuka pintu kamar. Seketika, Ley langsung menunduk.
"Maaf, aku mau lewat." Ucap Leyza sambil menundukkan pandangannya.
Raga tidak bergeming, justru tangannya menyentuh dagu milik istrinya dan mengangkatnya ke atas, hingga keduanya saling menatap satu sama lain.
Tangan milik Leyzaa menyentuh tangan milik suaminya yang berusaha untuk menyingkirkan tangannya.
Dengan sigap, tangan kirinya menahannya. Kemudian, Raga menyentuh luka yang ada pada wajah milik istrinya.
"Lepaskan! jangan memancing emosiku." Bentak Ley yang sudah berani membentak suaminya, Raga tidak membalasnya dengan cara membentak.
__ADS_1
"Ma-maaf, atas semua kesalahanku dimasa lalu kamu." Ucap Raga begitu terasa berat untuk mengucapkan kata maaf, meski dirinya menyadari atas kesalahan dimasa lalunya.
"Maaf, kamu bilang. Setelah ingat dan menyadari semuanya. Terlambat, aku tidak akan pernah memaafkan kamu sampai kapan pun." Kata Leyza yang sudah dipenuhi dengan kekesalannya dan juga rasa benci yang sudah tumbuh dihatinya.
Berasa tertusuk pisau belati saat kata maafnya tidak diterima oleh istrinya, seakan pengakuannya hanya dianggap seperti angin belaka.
"Minggir, aku mau istirahat." Ucap Leyza yang malas untuk membahasnya, karena rasa bencinya sudah menguasai pikirannya sendiri.
Raga yang tidak ingin suara bentakan dari istrinya dapat ditangkap oleh yang lainnya, lebih memilih untuk mengalah dan mempersilakan istrinya untuk masuk kedalam kamar dan beristirahat.
Ketika istrinya sudah berada didalam kamar mandi, Raga tertunduk sedih dengan posisinya duduk di sofa.
Menyesal, itu sudah pasti. Tetapi penyesalannya sudah berubah seperti nasi telah menjadi bubur, menyesal yang tiada akhir, lantaran tidak didapatkannya kata maaf dari istrinya.
"Jadi, perempuan yang aku sangkakan itu rupanya istriku sendiri. Kenapa aku begitu bodoh dan sangat lemah, sampai-sampai aku lupa untuk berpikir mengenai luka pada wajah istriku sendiri. Ya! Aizan lah yang perlu aku selidiki, karena ulahnya, aku kemakan dengan omongannya itu." Ucapnya yang mulai kembali berpikir dan mengingat lagi masa lalunya, masa putih abu-abu.
Karena penasaran atas dasar apa motifnya, Raga segera menghubungi Doni yang menjadi andalannya untuk mencari jejak kebenarannya.
Berulang kali menghubungi teman dekat sekaligus orang kepercayaannya maupun kepercayaan keluar, tetap saja tidak mendapatkan respon dari Doni.
__ADS_1
Kesal, geram, dan emosi, kini telah menjadi satu di dalam pikirannya.
"Sialan! kemana lagi si Doni itu, kenapa tidak mengaktifkan ponselnya. Sudah aku bilang untuk selalu aktif, tetap saja mengingkarinya." Gerutunya tak lupa memberi umpatan atas kekesalannya, lantaran panggilan telponnya tidak mendapatkan respon dari anak buahnya.