Istri Pilihan Ayah

Istri Pilihan Ayah
Cemas


__ADS_3

Andika yang panik akan suara istri tercintanya yang melemah pun meninggalkan kediamannya untuk menyusul istrinya.


"Pencar! Cari fidza di manapun ia berada" Perintah Andika pada para bodyguardnya dengan rahang yang mengeras.


Berani-beraninya ada yang menyentuh istrinya. Ia tahu istrinya kenapa-kenapa.


'nona fidza berada di lantai tiga tuan' suara bodyguard dari airport yang Andika pakai.


Mendengar itu Andika berlari menuju lift dengan raut wajah khawatir membayangkan istrinya kenapa-kenapa.


Mata hazel milik Andika menatap tajam pada seorang wanita yang sudah di pegang tangannya dari sisi kanan dan kiri oleh salah satu bodyguard. Matanya mencari keberadaan istrinya dan yah. istrinya terbaring lemas di atas lantai yang dingin mall.


Bodyguard Andika ingin langsung membawa istri majikannya ke tempat yang lebih pantas daripada di atas lantai yang dingin itu.


Tapi apa hak mereka? mereka takut menyentuh atau hanya sekedar menatap wajah istri tuannya saja harus mikir-mikir dulu. apalagi menyentuh?


Mata Andika yang sebelumnya menyiratkan amarah yang memuncak menjadi sayu karena melihat istrinya yang terbaring lemah tak berdaya.


Andika menghampiri Hafidza lalu memeluknya erat. Seketika ia teringat akan gadis yang sudah melukai istri. Ia menatap tajam gadis itu lalu melirik bodyguardnya.


"Lepaskan gadis itu" Perintah Andika telak.


Semua orang tercengang, bagaimana bisa pria itu melepaskan orang yang sudah melukai istrinya sendiri? .


Andika tidak bilang kalau ia akan melepaskan gadis itu begitu saja. ia mempunyai cara sendiri untuk menghukum lawannya. ia akan mencari identitas gadis itu lalu memikirkan bagaimana cara gadis itu mendapatkan hukumannya yang setimpal.


'orang kaya mah bebes'😌


Andika membopong Hafidza untuk segera menuju rumah sakit terdekat. Andika menatap cemas pada Hafidza yang berada di pangkuan suaminya dengan mata terpejam serta pipi yang memerah karena mungkin tamparan yang di berikan gadis itu. Andika mengusap lembut pipi Hafidza.


"Maafin mas sayang." ujar Andika seraya mencium kening Hafidza sayang.


Andika merasa bersalah karena ia tadi tidak ikut untuk menemani mamanya serta istrinya berbelanja.


By the way dimana ibunya?


Di tempat lain.


Mama Stella yang ketar ketir mencari menantunya berada pun merasa bingung karena menunggu lama di tempat janjian mereka bertemu.

__ADS_1


Drrrtt.


Handphone mama Stella berdert menandakan adanya panggilan.


Andika.


"Assalamualaikum ma?" Ujar Andika di seberang telepon.


"Waalaikumsalam Ada apa dik?" Tanya mama Stella berusaha santai karena ia takut anaknya mencari istrinya yang tidak kunjung menampakkan batang hidungnya.


"Fidza udah sama Dika ma. kita di hospital X. Nanti Dika jelasin, kita udah mau nyampe" ujar Andika dengan jelas dan padat.


Mama Stella seketika panik mendengar anaknya dan menantunya pergi ke rumah sakit.


Mama Stella menuju rumah sakit yang di sebutkan Andika dengan raut wajah sama khawatirnya dengan Andika.


Setelah sampai tujuan mama Stella menuju meja resepsionis untuk menanyakan nama pasien atas nama Hafidza. dan benar saja Andika langsung memesankan kamar VVIP Hanya karena melihat istrinya memar.


Mama Stella tepat berada di depan ruangan yang di pakai oleh Stella dan membukanya dengan tidak sabar.


"Fidza?" panggil mama Stella dengan nada khawatir.


Mama Stella yang mengerti akan kode anaknya pun tersenyum dengan menampilkan Watados nya (Wajar tanpa dosa).


"oooh iya maafin mama" ujar mama Stella seraya berbisik pada anaknya.


"Hafidza kenapa?" tanya mama Stella mengubah raut wajahnya menjadi khawatir kembali.


"Tadi Hafidza di buat bahan pelampiasan sama seorang gadis" ujar Andika berjalan menuju sofa dan di ikuti mama Stella untuk mendengar jelas kejadian apa yang menimpa Hafidza.


Andika tahu Kenapa gadis itu menjadikan istrinya pelampiasan karena ia meminta sekertaris nya mencari latar belakang gadis itu.


Andika menjelaskan semua tanpa adanya yang di tambah atau kurangi olehnya.


Mama Stella merasa bersalah karena ia membiarkan menantunya pergi sendirian untuk memilih baju.


"Mama nggak perlu merasa bersalah. ini semua sudah takdir karena kita pun tidak tahu menahu akan adanya kejadian seperti hari ini" ujar Andika berusaha menenangkan mamanya.


Sebenarnya ia juga sama merasa bersalahnya seperti mamanya. tapi ia tidak ingin mamanya terlalu memikirkan apa yang sudah terjadi.

__ADS_1


Eeeeuuunghhh.


Terdengar lenguhan dari Hafidza lalu di hampiri Andika seorang. karena Andika menyuruh mama Stella untuk pulang duluan karena Hafidza harus istirahat dan Andika menjanjikan untuk mengabari ketika Hafidza siuman.


"Sayang? kamu nggak apa-apa? ada yang sakit? mana yang sakit? aku panggilkan dokter yha?" Pertanyaan Andika yang keluar dari mulutnya membuat Hafidza tersenyum tapi juga memusingkan, mana yang harus ia jawab dulu?.


"Aku nggak apa-apa kok mas" jawab Hafidza lemah masih dengan bibir yang tersenyum tipis.


Andika lega mendengar jawaban istrinya dan merasa tenang akan senyuman yang diberikan istrinya padanya.


Andika menekan tombol yang tersedia di atas nakas samping tempat tidur Hafidza untuk memanggil dokter.


"Mas ke kamar mandi dulu yha. bentar lagi dokter datang" ujar Andika seraya mengelus lembut surai Hafidza yang masih tertutup oleh kain hitamnya.


Tok tok tok.


Dan benar saja seorang dokter serta suster yang mendampinginya memasuki ruangan yang di tempati Hafidza.


Dokter itu menghampiri Hafidza berada lalu melakukan tugasnya dengan profesional.


"..................................................."


"Saya mohon sama dokter jangan sampai suami saya tahu" ujar Hafidza memohon.


Dokter itu terkejut namun mengiyakan keinginan pasiennya. karena penjelasan Hafidza Dokter itu setuju.


"Dokter hanya perlu menjelaskan kalau saya baik-baik saja dan hanya perlu istirahat" Ujar Hafidza kembali.


Cklek.


Pintu kamar mandi terbuka lebar menampakkan Andika yang tersenyum ketika melihat ada dokter yang menangani istrinya.


"Gimana keadaan istri saya dok?" tanya Andika setelah sampai di samping istrinya.


"............"


~Rabu. 4/5.22~


Tunggu part selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2