Istri Pilihan Ayah

Istri Pilihan Ayah
Ingin mengetahui kebenaran


__ADS_3

Raga yang mendengarnya hanya mengangguk, menahan emosinya agar tidak mudah terpancing dengan setiap ucapan dari Ozan. Mengatakan jujur dihadapannya, tetap membuat seorang Raga tidak mudah untuk percaya begitu saja.


Demi menutupi kecurigaannya, Raga membuang napasnya dengan kasar ke sembarang arah. Kemudian, menatap kembali pada Ozan.


"Terima kasih atas penjelasan darimu, semoga benar dengan apa yang kamu katakan padaku. Karena sudah tidak ada lagi yang perlu kita obrolkan, bagaimana kalau aku pamit pulang. Kamu tidak perlu mengantarkan aku, karena aku sudah memerintahkan supirku untuk menjemputku sejak dalam perjalanan tadi." Ucap Raga sekaligus berpamitan untuk pulang.


"Ya, tidak apa-apa. Terimakasih sudah mau mengajakku makan siang, dan mentraktirku juga. Lain waktu, aku yang akan mentraktir kamu." Jawab Ozan.


"Baik, aku tidak bisa janji." Kata Raga, Ozan mengangguk dan tersenyum.


"Tidak masalah, hati-hati dalam perjalanan. Salam buat Tuan Hamas, terima kasih sudah mau bekerja sama denganku." Ucap Ozan dan memberi pesan kecil untuk Raga.


Setelah berpamitan, Raga dan Ozan telah pulang ke rumahnya masing-masing. Tetapi tidak untuk Ozan, dirinya memilih pergi ke tempat lain dari pada harus pulang ke rumah lebih awal.

__ADS_1


Berbeda dengan Raga, dirinya memilih untuk pulang dari pada harus banyak mengobrol yang tiada guna dan hanya akan menambah emosinya. Lantaran, otak dan hatinya sedang tidak sinkron.


Pikirannya kembali tertuju pada istrinya yang sedang melakukan perjalanan ke luar negri, ada sedikit rasa kesal, mengapa tidak dirinya saja yang menemani istrinya?


Sampainya di rumah, Raga tidak mendapati siapapun di dalam rumah, terkecuali asisten rumah dan pekerja lainnya.


Badan yang terasa capek dan juga pikiran yang sudah terkuras habis, memilih untuk beristirahat.


Dengan kasar, Raga menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Pandangnya tertuju pada langit-langit kamarnya dengan segudang bayangan istrinya yang telah melakukan perjalanan jauh ke luar negri untuk berlibur.


Seketika, Raga tiba-tiba penasaran dengan arti persahabatan diantara orang tuanya dan juga orang tua Ozan maupun orang tua istrinya sendiri.


Rasa penasaran kembali berputar di otaknya, segera Raga menemui ayahnya yang mungkin saja sudah pulang dari kantor.

__ADS_1


Dengan terburu-buru, Raga menuruni anak tangga dan mencari sosok sang ayah di sekitaran dalam rumah. Tidak lupa untuk mencarinya di ruang kerja, belakang rumah, maupun di tempat privasi maupun ruangan khusus bersantai bersama keluarga.


"Tuan, sedang mencari siapa?"


"Eh Mbak Yana, lihat Papa, tidak?"


"Oh, Tuan Hamas? baru saja pulang, Tuan. Sepertinya masih berada di kamar, soalnya baru aja masuk beberapa menit tadi." Jawab Mbak Yana.


"oh, ya sudah kalau begitu. Terima kasih ya, Mbak."


"Ya, Tuan."


Karena tidak harus mencari keberadaan sang ayah, Raga memilih untuk menunggu ayahnya keluar dari kamar. Meski dengan ayahnya sendiri, Raga sama sekali tidak pernah untuk mengganggu orang tuanya jika sudah berada di dalam kamar, terkecuali di ruangan lain dengan keadaan sangat genting dan juga penting.

__ADS_1


Sambil menonton televisi, Raga mengemil sambil menunggu ayahnya keluar dari kamar. Berharap, semua yang dikhawatirkan tidak seperti yang dikatakan oleh ayahnya, pikir Raga dengan rasa kecemasan dan juga penasaran, tentunya.


__ADS_2