Istri Pilihan Ayah

Istri Pilihan Ayah
Takut sesuatu


__ADS_3

"Jangan, jangan sentuh aku." Ucap Leyza yang kini sudah mentok pada tempat tidur, tinggal jatuhnya saja, Raga tinggal melakukan aksinya.


Tetapi bukan itu tujuan Raga, dirinya hanya ingin menakuti istrinya saja.


"Untuk apa aku menyentuhmu, jika kamu sendiri menolaknya." Jawab Raga dan memilih duduk di tepi renjang.


Sedangkan Ley, masih berdiri didekat suaminya.


"Lalu, apa maksud kamu mengunci pintu dan membuang kuncinya dengan asal? apa itu tidak mengarah ke hal yang ..."


"Yang apa?" tanya Raga sambil mendongak ke arah istrinya.


"Tidak ada. Badanku terasa gerah, aku mau mandi. Jika kamu mau mandi duluan, juga silakan." Jawab Leyza.


"Kamu duluan aja mandinya." Kata Raga, Ley tidak peduli dan memilih bergegas untuk masuk ke kamar mandi.


Raga yang tidak tahu harus berbuat apa, memilih tiduran sambil menunggu istrinya keluar.

__ADS_1


Disertai angin kencang dan juga hujan yang mulai turun dengan derasnya, membuat Raga langsung terbangun dari posisinya lantaran suara petir mulai terdengar samar.


Begitu juga dengan Leyza yang takut dengan petir dan hujan disertai angin kencang, membuatnya buru-buru untuk keluar dari kamar mandi.


Dengan kondisi yang hanya mengenakan handuk kimono, Ley tidak peduli karena traumanya di masa kecil.


"Aaaaa!" teriak Leyza sangat kencang saat mendengar suara guntur yang menggelegar dengan suara yang cukup nyaring.


Dengan sigap, Raga langsung memeluk tubuh istrinya saat Leyza berteriak karena ketakutan.


Leyza yang benar-benar takut dengan hujan deras dibarengi petir dan juga angin kencang, tak peduli baginya jika dirinya tengah berada dalam pelukan suaminya.


Ley semakin mengeratkan pelukannya, ketakutan yang terus menghantui pikirannya.


"Kamu kenapa?" tanya Raga saat mendapati tubuh istrinya seperti gemetaran.


"Aku takut, takut." Jawab Ley seperti orang ketakutan.

__ADS_1


"Duduklah, supaya badanmu lebih rileks dan tidak tegang, jangan takut."


"Aaaaa!" teriak Leyza semakin kencang suaranya saat lampunya mati, membuat Ley semakin mengeratkan pelukannya lagi, karena ruangan yang semakin gelap.


"Tunggu sebentar dan jangan takut, aku nyalakan senter ponselku dulu." Ucap Raga sambil memegangi istrinya dan meraba area disekitarnya.


Setelah menemukan ponselnya, Raga menyalakan senternya dan dilapisi lembaran kertas seadanya yang didapatkan di atas meja.


Suasana menjadi sunyi, hanya suara hujan dicampur angin dan diselingi suara petir yang saling bersahutan.


Dingin, itu sudah pasti. Suasana yang tiba-tiba menjadi tenang dengan pencahayaan yang redup, membuat keduanya ingin berlabuh dalam selimut dan memejamkan kedua matanya untuk beristirahat.


Naas, Leyza baru menyadarinya jika belum mengenakan pakaian karena terburu-buru takut dengan hujan dan angin kencang, juga petir.


'Bagaimana ini? aku belum mengganti pakaianku, mana gelap dan juga hujan. Tidak mungkin juga jika aku harus mengganti pakaianku dengan pencahayaan yang seperti ini, pasti akan membuatnya berpikiran kotor.' Batin Ley yang mulai gelisah, dirinya baru menyadari dengan kondisi badannya yang tanpa sehelai benangpun dibalik handuk kimono nya.


Bayangkan saja, sekali lepas, semua terlihat dengan sempurna tanpa ada yang ditutupi. Tentu saja, akan membuat Raga semakin menjadi.

__ADS_1


Meski suami istri yang sah, tetap saja harus waspada, pikir Leyza yang takut jika dirinya sulit untuk dikendalikan. Meski tak ada cinta diantara keduanya, keduanya dalam garis normal dan juga akan terbuai walau bukan rayuan.


__ADS_2