Istri Pilihan Ayah

Istri Pilihan Ayah
Kegagalan


__ADS_3

Sampainya di dalam kamar, Raga langsung tiduran berselimut tebal dengan tubuhnya yang mulai gemetaran karena rasa dingin yang menguasai sekujur badannya hingga ke tulang-tulangnya.


Tidak lama kemudian, seorang dokter telah datang ke rumah dan segera memeriksakan kondisi Raga.


Setelah dilakukan pemeriksaan, dokter mengatakan, baik-baik saja dan tidak menimbulkan sakit yang lebih serius. Bunda Yuna maupun yang lainnya merasa lega, lantaran hanya demam saja, kata seorang dokter.


"Leyza, ini makan malam untukmu dan juga Raga. Kalau ada apa-apa, panggil Mama atau yang lainnya." Ucap Bunda Yuna.


"Ya, Ma." Jawab Leyza dibarengi dengan anggukan.


"Ya sudah, Mama tinggal dulu, ya." Ucap Bunda Yuna dan keluar dari kamar.


Kini, tinggallah Raga dan Ley didalam kamar. Ley yang khawatir, berulang kali mengecek suhu badan suaminya.


"Sedikit berkurang panasnya, syukurlah." Gumamnya dan memilih duduk disebelah suaminya.


Bahkan, menu makan malamnya, pun terabaikan.


"Minum, aku haus." Pinta Raga yang merasa tenggorokannya kering.


Ley langsung meraih satu gelas air minum dari atas meja, lalu membantu suaminya untuk duduk dan bersandar.


"Ini, minumlah." Ucap Leyza sambil membantu suaminya untuk minum air putih.


Beberapa tegukan, sudah cukup untuk menghilangkan rasa dahaganya. Kemudian, Ley meletakkan kembali gelasnya.


"Kamu belum makan, aku suapin ya. Setelah itu, kamu boleh istirahat lagi." Ucap Leyza sambil mengambil menu makan malamnya yang sudah tersaji diatas meja.


Raga yang sedari tadi memperhatikan sang istri, serasa berat untuk menerima suapan terakhir dari istrinya.


"Buka mulutnya, aaaa." Kata Leyza sambil memberi arahan pada suaminya untuk menerima suapan darinya.


Raga tak menjawab sepatah katapun dari istrinya, ia terus menatap wajah ayunya. Wajah yang pernah ia hina dan juga ia caci-maki.


Entah dari mana datangnya air mata, saat itu Raga meneteskan air matanya. Begitu besar rasa bersalahnya, dan harus dibayar oleh sebuah perpisahan.


Ley yang melihat suaminya tengah meneteskan air mata, ia langsung menghapusnya dengan ibu jarinya.


"Kenapa kamu menangis? katakan padaku, ada apa denganmu?" tanya Leyza disela-sela menghapus air mata suaminya.


Raga mendapat sebuah pertanyaan dari sang istri, ia langsung meraih tangannya.

__ADS_1


"Kamu tidak akan pernah meninggalkan aku, 'kan?" tanya Raga sambil menggenggam tangan milik istrinya.


"Kenapa kamu terus bertanya seperti itu, lebih baik habiskan dulu makanannya. Setelah itu, istirahatlah. Kalau kamu terus membahasnya, kesehatan kamu akan menurun."


"Justru itu, semakin kamu membuatku penasaran, semakin banyak pikiran untuk diriku."


"Makan dulu, nanti kita bicarakan lagi."


"Kamu selalu begitu, dan jawabannya tetap sama."


"Lalu, aku harus menjawabnya apa? bukankah kamu sudah mengatakannya padaku, bahwa kamu akan bersabar menunggu keputusan dariku. Terus, kenapa kamu terus mendesak-ku? biarkan aku menenangkan pikiranku dulu." Kata Leyza.


"Apakah kamu masih menganggap bahwa aku ini suami kamu?" tanya Raga yang ingin tahu seberapa besar ia mengakui bahwa dirinya adalah suaminya.


"Tentu saja, kita menikah juga bukan sembarangan menikah. Kenapa kamu bertanya seperti itu? ah sudahlah, lebih baik habiskan dulu makanannya."


Karena tidak ingin terus di perintah untuk membuka mulutnya, Raga menerima suapan demi suapan dari istrinya, dan tak terasa habis dalam satu piring.


"Kamu belum makan, 'kan? berikan padaku, sekarang giliran aku yang akan menyuapi kamu." Ucap Raga saat melihat ada satu piring yang belum tersentuh.


"Aku bisa makan sendiri, dan kamu tidak perlu menyuapiku." Jawab Ley yang tidak ingin merepotkan suaminya yang sedang sakit.


"Baiklah, terserah kamu saja. Menolak juga percuma, jika kamu sudah mendesak-ku." Jawab Leyza, lalu mengambil satu porsi makan malam dalam satu piring.


"Sini, biar aku yang akan menyuapi kamu. Setidaknya, aku sudah menggantinya." Ucap Raga sambil meraih piring yang ada ditangan istrinya, dan lanjut menyendoki makanan yang ada di piring.


"Buka mulutnya, aaaa." Ucap Raga sambil memperagakan sesuai ucapannya, dan menyodorkan satu suapan pada istrinya.


Ley yang tidak dapat menolak, akhirnya menerima suapan dari sang suami. Satu suapan dan lanjut ke suapan berikutnya, hingga tidak terasa dapat menghabiskan satu piring.


"Lapar juga ya, kamu. Aku kira perempuan secantik kamu akan mengurangi porsi makan, baguslah kalau kamu bisa makan banyak. Berati badan kamu ini berisi, kecil tapi padat." Ucap Raga yang mulai berani untuk bersenda gurau dengan istrinya.


Ley membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna.


"Ya dong, harus berisi. Nanti kalau kurus kering, disangkanya suaminya kejam, lagi."


"Hem, nyindir nih ceritanya."


"Aku kan, bicaranya sesuai fakta emak-emak bergosip." Kata Ley dengan senyum lebar.


"Hem, ya deh, ya in aja."

__ADS_1


Seketika, Ley tercengang saat ada sent*uhan lembut mendarat pada bibirnya. Terasa hangat ciuman dari suaminya, membuat Ley terbuai oleh perlakuan suaminya. Ditambah lagi dengan aksi nakal dari Raga sendiri yang telah mematikan lampunya, dan yang tersisa hanya pencahayaan lampu yang redup.


Ley semakin bingung dibuatnya, lantaran sang suami yang mulai aktif pada kedua tangannya. Bahkan, Raga menjatuhkan tubuh istrinya diatas tempat tidur dengan posisi siap untuk melanjutkan aksinya.


Ley yang kebingungan antara belum siap dan juga takut. Ingin menolak, emosi akan semakin meluap. Tidak menolak, hatinya belum siap.


Raga yang sudah terbuai oleh naf*sunya, ia terus menc"umbui istrinya dengan lahapnya.


Ley semakin gugup dan juga takut, tentunya.


"A-a-aku sedang ada tamu bulanan." Ucap Ley dengan tergagap, lantaran ada rasa takut dan juga gugup.


Raga yang mendengarnya, ia langsung menghentikan aktivitasnya.


"Bohong." Jawab Raga tidak percaya, Raga kembali mencium bibir milik istrinya.


"Aku tidak bohong." Ucap Leyza berusaha bersikap tenang setelah Raga berpindah menc*ium area yang lainnya.


Raga langsung menghentikannya lagi, dan lanjut menatap wajah istrinya penuh selidik.


"Awas saja kalau kamu bohong, aku bisa lebih murka dari ini." Ucap Raga sambil memberi ancaman kepada istrinya, Ley menganggukkan kepalanya demi meyakinkan sang suami.


"Aku harus ke kamar mandi dulu, takutnya terjadi kebocoran lebih banyak." Ucap Leyza dengan rasa penasaran, lantaran dirinya merasa yang dikatakan sendiri adalah benar.


"Ya, sana ke kamar mandi." Jawab Raga penuh kesal, lantaran niatnya telah gagal untuk memiliki Leyza sepenuhnya.


Ley yang juga penasaran, secepatnya untuk memeriksanya. Takut, benar adanya apa yang sedang dirasakannya.


Raga yang gagal untuk malam perta*manya, hanya bisa membuang napasnya dengan kasar.


"Belum juga dimulai, sudah gagal duluan." Gumamnya, dan tak lupa untuk mengacak rambutnya yang tidak berantakan.


Ley yang sudah mengecek benar atau tidaknya, akhirnya dapat bernapas lega.


"Akhirnya, aku beneran datang bulan." Gumamnya merasa lega.


Hai Readers setia... apa kabarnya nih... waktu penentu untuk pemenang giveaway tinggal lima hari lagi ya.. sesuai janji author di novel Penutup Noda.


Yuk masih ada kesempatan untuk like, komen dan juga vote. Jangan malu malu ya untuk komen, ayuk yang belum, serbu...


Salam penuh cinta dari saya untuk readers setia.. love love sekebon.

__ADS_1


__ADS_2