
Malam yang melelahkan, hingga sinar mentari tengah menyambutnya ketika sudah tidur yang kedua kalinya.
Leyza yang sadar jika dirinya harus berangkat ke kantor, buru-buru ia menyiapkan keperluannya.
Sedangkan suaminya, baru saja membuka kedua matanya yang masih terasa lengket dan juga rasa malas untuk bangun dari tidurnya.
"Sayang, kamu beneran mau ngantor?" tanya suami setelah menguap.
Leyza mengangguk sambil menyiapkan tas bawaannya untuk berangkat ke kantor.
"Karena sejak pemilihan sekretaris baru, aku sendiri belum pernah berangkat ke kantor. Pekerjaanku masih aku serahkan kepada Pak Bubud, tetap saja aku masih belum tenang sebelum melihat keseriusan sekretaris baruku." Jawab Leyza sambil bersiap-siap.
"Memangnya kamu belum pernah bertemu dengan sekretaris barumu?" tanya Raga sambil menyibakkan selimutnya.
"Belum, sama sekali belum memeriksa datanya. Kamu tahu sendiri, 'kan? bahwa aku sibuk di rumah sakit untuk merawat kamu. Jadi, tentu saja aku belum. bisa mencari tahu mengenai sekretaris baruku." Jawab Leyza yang kini mulai bersiap diri untuk berangkat.
Raga segera bangkit dari atas tempat tidur, lalu berjalan mendekati istrinya.
"Sempurna, istriku sangat cantik rupanya." Puji Raga dan langsung menc*ium pipi milik istrinya.
"Yang benar?"
"Aku serius, kamu istriku yang paling cantik, tidak untuk wanita lain. Oh ya, aku antar kamu, ya. Kebetulan, hari ini aku sedang libur."
"Hem. Kenapa libur? namanya jadi Bos itu, tidak mengenal kata libur. Bilang aja kalau kamu itu malas untuk berangkat kerja." Kata Leyza sambil menatap suaminya.
"Apa kamu lupa? mulai hari ini sampai satu minggu ini, kita diberi hari libur untuk berbulan madu. Jadi, aku diliburkan kerjanya oleh Papa."
"Berbulan madu? jangan bilang, kalau semalam Papa dan Mama keluar rumah itu, ulah kamu ya?"
"Bukanlah, sayang. Semalam itu, memang ada acara di rumah rekan kerja Papa. Soal bulan madu itu, memang baru pagi ini."
"Hem. Terus kapan ngomongnya? banyak alasan saja, kamu itu."
"Serius, sayang. Kapan aku membuat alasan, ngomongnya sih udah dari kemarin itu. Sebelum pulang ke rumah, Papa sudah mengatakannya padaku." Jawab Raga berterus terang pada istrinya.
__ADS_1
"Awas ya, kalau sampai kamu itu bohongi aku. Bakal ku jadikan rujak, baru tau rasa kamu." Kata Leyza dengan berbagai macam ancaman untuk suaminya.
Raga tertawa kecil mendengarnya.
"Jangan ketawa, tidak ada yang lucu. Sudah sana kamu mandi, aku sudah siap untuk berangkat." Ucap Leyza yang sudah siap untuk berangkat ke kantor.
"Baiklah, nanti aku yang akan jemput kamu. Ingat, jangan pulang dulu sebelum aku datang." Kata Raga memberi pesan pada istrinya.
"Kalau kelamaan menunggu, aku langsung pulang. Ya sudah, aku berangkat dulu." Ucap Leyza berpamitan untuk pergi ke kantor.
"Maaf, jika aku tidak bisa mengantarkan kamu ke kantor." Jawab Raga.
"Tidak apa-apa, aku berangkat." Ucap Leyza dan segera berangkat, karena tidak ingin datang terlambat dan tidak memberi contoh yang baik kepada karyawan maupun staf lainnya.
Pelan-pelan, Leyza menuruni anak tangga dan tidak terburu-buru.
Sampainya di bawah anak tangga paling akhir, ibu mertua rupanya baru saja keluar dari kamarnya.
"Nak Leyza, kamu beneran mau berangkat ke kantor?" tanya ibu mertua ketika mendapati menantunya yang baru saja turun dari tangga.
"Yang kamu katakan tadi itu memang benar. Sebaiknya kamu mengetahui terlebih dahulu. Meski kamu mempunyai orang kepercayaan, tetap harus waspada." Ucap Bunda Yuna mengingatkan putranya.
"Ya, Ma. Maafin Leyza yang tidak bisa ikut sarapan pagi, nanti sarapannya di kantor aja. Tidak apa-apa kan, Ma?"
"Ya, tidak apa-apa. Oh ya, Raga mana? belum bangun?"
"Sudah kok, Ma. Mungkin sebentar lagi turun, Leyza pamit dulu." Jawab Leyza dan segera berpamitan.
"Ya, Nak, hati-hati di perjalanan." Ucap Bunda Yuna, Leyza segera berangkat setelah berpamitan.
Sedangkan Raga yang baru saja melakukan ritual setelah bangun dari tidurnya, ia segera keluar dari kamar.
"Katanya mau mengajak istrimu liburan, kok diberi izin pergi ke kantor?" tanya Bunda Yuna saat mendapati putranya yang baru saja keluar dari kamar.
"Karena sesuatu hal, memangnya Leyza tidak ngomong sama Mama, kalau ada urusan penting di kantor?"
__ADS_1
"Ya, baru aja istri kamu cerita. Ya sudah, ayo kita sarapan."
"Apa lihat-lihat, mau cie cie lagi. Sudah berangkat kakak ipar kamu, ayo kita sarapan." Ucap Raga sebelum sang adik meledek, Lindan pun tertawa mendengarnya.
"Kak Raga lucu, siapa juga yang mau cie cie." Jawab Lindan sambil berjalan menuju ruang makan.
"Hem. Bilang aja kalau udah kepergok."
"Lindan, Raga, diam! kalian. Nggak siang, nggak malam, sama aja. Hentikan gurauan kalian, sudah waktunya untuk sarapan pagi." Ucap sang ibu yang mencoba untuk menengahi kedua putranya.
"Ya, Ma, ya." Jawab Raga dan Lindan dengan serempak, kemudian menikmati sarapan paginya.
Meski tidak ditemani sang istri, Raga tidak mengapa, yang terpenting sudah dapatkan cinta dari istrinya. Asalkan tidak keseringan, Raga masih bisa untuk mengerti dan memaklumi atas kesibukan istrinya.
"Tumben ya, makannya lahap banget. Sepertinya sudah mendapatkan asupan gizi nih, makannya bisa ngebut soalnya. Aku rasa pembalap di luaran sana bakalan kalah, ya nggak sih."
"Lindan! habiskan dulu makanan kamu itu, baru boleh bicara." Ucap sang ayah dengan suara yang cukup keras untuk di dengar.
"Tuh, didengerin kalau orang tua bicara." Ucap Raga ikut menimpali.
"Ya, Pa." Jawabnya sambil mengunyah makanannya, Raga sendiri menahan tawa saat sang adik dimarahi oleh sang ayah.
Berbeda lagi dengan kantor, semua karyawan tengah disibukkan dengan pekerjaannya masing-masing. Bahkan, semua karyawan sama sekali tidak mendapatkan kabar satupun, jika Bosnya akan datang, termasuk sekretaris baru.
"Cie ... yang udah diterima menjadi sekretaris baru, sepertinya gajinya berlipat-lipat dari gaji kita nih. Bisalah kalau hanya mentraktir karyawan yang lainnya, termasuk kita-kita ini." Ucap salah satu karyawan yang tengah bergurau saat sekretaris baru lewat didepan mereka para karyawan.
"Makanya, kerja keras. Pingin gaji besar, kerja yang pintar. Sekolah itu jangan nanggung, langsung yang tinggi. Kalau pendidikan kamu aja rendah, sangat sulit untuk menempati jabatan sepertiku." Ucapnya dengan berbangga sendiri tanpa melihat status sosial bagi keluarga yang lain.
"Jangankan untuk sekolah tinggi, bisa makan aja harus ngirit." Jawabnya.
"Ya nih, mentang-mentang sekolah tinggi, jadi wajar aja kalau mudah naik jabatan menjadi sekretarisnya si Bos." Timpal karyawan yang satunya ikut berkomentar.
Untuk Giveaway nya, ditutup sampai jam 11 malam ya... pengumuman besok hari Rabu, semangat membaca..
Empat orang yang terpilih
__ADS_1
Masing-masing mendapatkan pulsa 25 ribu, biar adil ya...