Istri Pilihan Ayah

Istri Pilihan Ayah
Kedatangan tamu


__ADS_3

Siang berganti dengan malam. Acara resepsi Dimulai dengan meriah serta megah di hotel X. Andika dengan Tuxedo Hitamnya menambah kesan gagah dan Hafidza disampingnya menggunakan gaun pilihan mertuanya yang membuat siapa saja yang melihatnya akan kagum dengan kedua pasangan pengantin baru itu.


Semua keluarga dan kerabat dekat sampai jauh diundang di acara resepsi pernikahan Andika dan Hafidza, serta semua Karyawan dan teman-teman Andika dari masa kuliah dan teman-teman Hafidza yang dari pondok semua ikut merayakan hari kebahagiaan kedua mempelai itu.


Berbeda dengan ke dua mempelai yang berbahagia, ada seorang wanita di pojok menatap mereka dengan tatapan sendu, dan tidak rela pujaan hatinya menikah dengan orang lain tanpa memikirkan perasaannya.


'Jika aku tidak bisa memilikimu. maka kamu tidak untuk siapapun' batin wanita itu pergi tanpa menemui pihak pengantin terlebih dahulu. ia tidak akan kuat melihat pujaan hatinya bahagia bersama orang lain.


Acara resepsi berlangsung dengan lancar tanpa hambatan. Semua tamu undangan sudah pulang dengan sendirinya karena waktu yang hampir menunjukkan tengah malam. Hanya tersisa keluarga dan kerabat dekat saja, karena lebih memilih menginap terlebih dahulu di hotel X. siapa yang ingin melewatkan kesempatan langka itu? tinggal di hotel X dengan fasilitas terbaik serta mahal dengan gratis?.


Ya, Hotel itu sudah di sewa oleh keluarga Wijaya selama dua hari penuh. Hanya untuk resepsi pernikahan dan tinggal satu hari.


"Capek?" tanya Andika yang sudah berada di kamar bersama istrinya.


"Sedikit" jawab singkat Hafidza yang masih memijat kakinya yang terasa sakit.


Andika yang melihat itu tidak tega, Karena ia tahu bagaimana rasanya tidak terbiasa menggunakan sepatu hak tinggi dan memakainya dengan waktu yang cukup lama.


Andika menuntun Hafidza dari sofa ke arah ranjang dan mengangkat kedua kaki Hafidza untuk meluruskan kakinya.


Hafidza hanya menurut tanpa membantah. Selanjutnya, Andika berdiri mengambil minyak urut di dalam laci. Ia mengoleskan sedikit minyak di kaki Hafidza sambil memijatnya pelan. Lama kelamaan Hafidza merasa tidak enak, karena ia berfikir seharusnya ia yang melayani suaminya.


"Sudah mas, fidza bisa sendiri kok" Ujar Hafidza menarik tangan Andika dari kakinya.


"yha udah. mas mandi dulu, habis itu jamaah sholat Isya yh" ujar Andika seraya beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju kamar mandi.


Hafidza dilanda kegelisahan, bagaimana ia akan mengatakan pada suaminya kalau Sekarang ia datang bulan? ia takut mengecewakan suaminya. tapi tidak ada pilihan lain ia harus berkata jujur pada suaminya.


Setelah beberapa menit menunggu suaminya selesai dengan ritualnya Hafidza kembali gugup. Hafidza yang tidak bisa menyembunyikan raut wajahnya sudah pasti Andika mengetahui ada yang ingin dikatakan oleh istrinya.


"Ada apa?" tanya Andika lembut.


"Emm i-itu mas...... fidza datang bulan" Ujar Hafidza.


"APA?" Kaget Andika sedikit berteriak, Seketika Andika lemas kakinya seperti agar-agar.


Hafidza yang mendengar itu merasa dibentak dan ia tidak terbiasa dengan itu. Matanya mulai berkaca-kaca dan menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.


"Ma-maaf mas" Ujar Hafidza terisak kecil.


"Jangan nangis, maafin mas yha. Mas nggak bermaksud buat bentak kamu, tapiiiii ......" Andika tidak meneruskan ucapannya karena sedikit kecewa. Udah nahaaaaan tapi harus libur dulu, Nggak ada jatah malam pertama.

__ADS_1


Malam pertamanya di tunda dulu yha.


"Maafin fidza mas" ujar Hafidza kembali.


"kamu nggak salah sayang" ujar Andika mengelus kepala Hafidza yang masih tertutup hijabnya.


Hafidza yang mendengar dipanggil "sayang" oleh pak suami sedikit merasa tenang.


"Maafin mas yha" lanjut Andika.


"Maaf yah mas. Fidza belum bisa bisa ngejalanin kewajiban fidza buat jadi istri" ucap Hafidza menyesal.


Andika kira Hafidza tidak peka. tapi di luar dugaannya, ternyata Hafidza sangat mengerti apa yang dipikirkannya.


Andika yang mendengar itu tersenyum lega. Sebegitu menggemaskannya istrinya itu.


"Nggak apa-apa. insyaallah mas masih bisa puasa kok hehe" ujar Andika terkekeh.


'puasa dulu yha. sabar, cuma sebentar kok' batin Andika menenangkan dirinya sendiri sambil mengelus dadanya.


"Ya udah kamu mandi dulu terus istirahat. mas mau sholat dulu kalo gitu" lanjut Andika menyuruh istrinya.


Hafidza pun mengangguk dan beranjak dari ranjang menuju Kamar mandi, Andika menunaikan kewajibannya dengan khusyuk. Meminta yang maha kuasa untuk memberikan keluarga yang sakinah mawadah warahmah, agar di beri perlindungan di dunia dan akhirat.


Makanan tiba bersamaan dengan Hafidza yang menyelesaikan rutinitasnya.


"Mas Dika?" panggil Hafidza.


Andika menoleh tanpa menjawab dan menaikkan sebelah alisnya seperti bertanya 'apa?'


"Fidza mau minta tolong" ujar Hafidza tidak enak hati.


"Bilang aja, selagi mas bisa pasti Mas Dika turutin" ucap Andika.


Hafidza yang masih merasa tidak enak hati dengan suaminya hanya bisa meremas tangannya sendiri, takut merepotkan suaminya.


"Fidza lupa bawa pembalut. Kalo misal fidza beli sendiri yang ada nanti bocor, mau nggak mas Dika beliin fidza?" ujar Hafidza akhirnya.


"Emm kalo mas Dika nggak mau nggak apa-apa kok. Fidza bisa minta tolong bunda aja" lanjut Hafidza berjalan ke nakas untuk mengambil handphone genggamannya.


Sebelum itu. "nggak usah, udah malem. biar mas aja yang beliin." ujar Andika.

__ADS_1


"Tunggu bentar yha." ujar Andika keluar kamar tanpa mendengar dulu penjelasan istrinya.


Andika berjalan keluar kamar tanpa menyadari kehadiran papanya dan mamanya yang memperhatikannya.


"Andika?" panggil papanya.


"Ayah belum tidur?" tanya Andika


"Seharusnya papa yang nanya gitu. malam pertama juga" ujar papa irham.


Andika hanya menghela nafas panjang. bagaimana ia bisa malam pertama sedangkan istrinya kedatangan tamu yang tak diundang.


"Mau beliin Fidza pembalut pa. Finza lagi datang bulan" jawab Andika lemas.


"Kok persis mama dulu yha pa" ujar mama Stella.


"Sabar yha kamu. dulu papa juga gitu, niatnya pengen ***-*** tapi puasa dulu" Timpal papa irham seraya menepuk pundak putranya.


"Ya udah, Dika mau keluar bentar'' pamit Andika sambil menjauh dari papa mamanya.


Andika melajukan mobilnya mencari supermarket terdekat, Sampai akhirnya ia menemukannya dan masuk mencari benda yang ia cari. Sesampainya di sana ia bingung ingin mengambil yang mana.


Kenapa ia tidak tanya dulu pada istrinya. dan sialnya ia tidak membawa handphonenya karena ia pikir hanya sebentar dan Hanya membawa dompetnya saja.


Pegawai supermarket itu mendekat ke arah Andika yang terlihat bingung sedari tadi berdiri kebingungan di depan rak pempers dan pembalut.


"Ada yang bisa saya bantu mas?" tanya mbak-mbak supermarket itu.


"Emm saya cari pembalut mbak. yang paling bagus yang mana?" tanya Andika.


"Yang siang atau yang malam mas?" tanya maknya lagi.


"Terserah mbak. yang penting dapet" jawab Andika tidak sabaran.


"Buat pacarnya yha mas?" tanya kasir sedikit menggoda.


"Istri saya mbak" jawab Andika datar.


Mendengar itu, mbak kasir merasa malu karena berusaha menggoda suami orang, ia pikir untuk pacarnya karena ia mempunyai prinsip 'sebelum janur kening melengkung, jomblo boleh nikung'.


Akhirnya Andika membeli pembalut berwarna oranye dan biru Dongker untuk siang dan malam katanya, tapi ia tidak mengerti. kenapa harus ada siang malam. apa darah yang keluar pada siang hari akan berbeda dengan malam hari? begitulah pikirnya.

__ADS_1


Andika kembali dengan perasaan senang karena ia berhasil menjalankan sedikit kewajiban seorang suami untuk istrinya.


__ADS_2