Istri Pilihan Ayah

Istri Pilihan Ayah
Merasa sangat cemburu


__ADS_3

Ozan yang sudah membereskan bawaannya, ia keluar dari kamar untuk mencari udara baru. Dirinya teringat saat liburan bersama keluarga Leyza, begitu banyak kenangan antara dirinya dengan perempuan yang disukainya.


Ozan tersenyum ketika mengingat masa lalunya. Meski tahu, jika Leyza tak pernah mencintainya dan lebih memilih Aizan. Lelaki yang pernah mengisi hari-harinya meski itu semua hanya omong kosong.


"Andai saja kamu tak pernah jatuh cinta dengan Aizan, mungkin saja, akulah pemenangnya." Ucapnya lirih sambil memperhatikan ruang kamar disekelilingnya.


Sampainya di belakang rumah, ternyata Leyza sendirian dan tak ada suami yang menemaninya. Alih-alih mendekati dan menyapa dengan ramah.


"Hai, sendirian?" sapa Ozan yang tiba-tiba membuat Leyza kaget dibuatnya.


"Kak Ozan,"


"Tumben panggil sebutan kakak, kemarin-kemarin kemana?"


"Sudah lunas." Ucap Leyza.


"Apanya?" tanya Ozan mencoba untuk mengingatnya.


"Sesuai perjanjian kita dulu." Jawab Leyza.

__ADS_1


"Oh, itu."


"Terima kasih banyak ya, Kak. Maaf sebelumnya, jika aku banyak meminta tolong kepada Kakak."


"Tidak apa-apa, aku tidak keberatan. Oh ya, kok sendirian?"


"Ya nih, Lindan sedang membuat kopi dan teh. Kakak mau? biar aku buatin untuk Kakak."


"Tidak perlu, aku bisa membuatnya sendiri."


"Jangan, Kak. Aku akan membuatkannya untuk Kakak, jangan menolak." kata Leyza yang tetap ingin membuatkan kopi untuk Ozan.


Berbeda dengan Raga, sedari tadi hanya bolak-balik dari kamar mandi karena perutnya yang terasa mules.


Saat berada di dapur, Lindan di kagetkan dengan Leyza.


"Kak Ley, mau ngapain? aku sudah selesai membuat kopinya."


"Ooh, ya sudah. Sini, biar aku saja yang membawanya. Kamu, membawa kue nya."

__ADS_1


"I-i-ya, Kak." Jawab Lindan terbata-bata, lantaran seperti tidak percaya jika kakak iparnya sudah mulai memberi perhatian untuk kakaknya sendiri, pikir Lindan yang tidak sesuai apa yang dipikirkannya.


Tidak lama kemudian, Ley datang dengan membawa tiga cangkir minuman panas. Tanpa diketahuinya, jika sang suami juga datang bersamaan dengan Ozan.


"Kak, ini kopinya." Ucap Ley dengan meletakkan satu per satu minuman yang dibuat oleh Lindan.


"Terima kasih, kamu tidak pernah berubah dari dulu."


"Kak Ozan bisa aja. Oh ya, Rafa tidak ikut?" tanya Ley ketika tidak mendapati sosok Rafa.


"Tidak, soalnya masih ada pekerjaan yang cukup banyak, membuat Rafa tidak bisa ikut. Lagi pula, kedatangan kita ke sini hanya satu tujuan, yakni untuk mengurus apa yang sudah di wasiatkan oleh orang tua kita."


"Ya sih, tetap aja ada waktu untuk liburan, walau tidak lama." Kata Ley dan segera duduk sambil menunggu Lindan yang dimintanya untuk membawakan kue.


Tanpa disadari oleh keduanya yang tengah asyik mengobrol, rupanya sudah ada Raga yang sedari tadi memperhatikan istrinya yang terlihat lebih ceria meskipun dengan kondisi wajahnya yang terluka.


"Mereka berdua sangat akrab dan juga kelihatannya begitu asik. Bahkan, istriku sendiri terlihat begitu dekat, dan juga tidak ada rasa canggung apapun dengannya." Gumam Raga, Lindan dapat mendengarnya walau kedengaran samar-samar.


"Kakak cemburu ya? mereka berdua memang sangat dekat, ujian untuk Kak Raga. Ini, aku sudah membuatkan kopi untuk Kakak, setelah tahu kalau Kak Ozan rupanya datang bersamaan." Ucap Lindan mengagetkan, Raga menarik napasnya dalam dan membuangnya dengan kasar.

__ADS_1


__ADS_2