
Pagi harinya, Raga tengah disibukkan dengan persiapan untuk berangkat menyusul istrinya ke luar negri. Dengan semangat yang membara, Raga bertekad untuk bisa mengambil hati istrinya.
Ketukan pintu telah mengagetkan Raga yang sedang menyisir rambutnya.
"Papa, ada apa?"
"Apakah kamu sudah siap untuk berangkat?" tanya Tuan Hamas.
"Sudah, Pa. Aku sudah siap untuk berangkat." Jawab Raga.
"Ya sudah, hati-hati di perjalanan. Ingat, di sana kamu tidak hanya fokus kepada istri kamu, tetapi dengan tujuan yang sudah Papa berikan kepadamu semalam."
"Ya, Pa. Aku janji, aku akan bertanggung jawab semuanya." Jawab Raga dibarengi dengan anggukan.
"Papa percayakan semuanya sama kamu, Raga. Ya sudah kalau kamu mau berangkat, kamu sudah di tunggu supir Papa di depan rumah." Ucap sang ayah, Raga mengangguk dan bergegas keluar dari kamar.
Selama perjalanan ke Bandara, tak hentinya Raga membayangkan setelah bertemu dengan istrinya.
"Aw! hati-hati dong Pak, kalau menyetir." Pekik Raga ketika keningnya terbentur jendela kaca pintu mobil.
"Maaf, Tuan. Tadi saya mengeremnya mendadak, kita sudah sampai di Bandara." Jawab Pak Supir.
"Perasaan kita baru saja berangkat deh, Pak. Apa karena saya tidur ya, Pak?"
__ADS_1
"Tuan sedang tidak tidur, tapi melamun."
"Hem. Bilang aja, ya, gitu." Kata Raga sedikit ketus dan melepas sabuk pengamanannya dan segera turun dari mobil. Sedangkan Pak Supir membantunya untuk membawakan koper.
Ketika sudah tidak membutuhkan bantuan, Raga menyuruh supirnya untuk pulang.
"Tuan serius, kalau saya pulang?"
"Ya, Pak. Tidak apa-apa, Bapak boleh pulang." Jawab Raga.
"Tapi, Tuan."
"Tidak ada tapi tapian, Pak. Sebentar lagi jadwal penerbangan, cuma tinggal beberapa menit lagi." Kata Raga yang tetap bersikukuh.
"Tidak apa-apa kok, Tuan. Lagi pula sudah menjadi tugas saya, tidak baik jika saya meninggalkan Tuan di Bandara sendirian." Jawab Pak Supir.
"Silakan, Tuan." Jawabnya.
Meski menunggunya dengan tempat yang berbeda, tetap saja Pak Supir tetap menunggu dan bertanggung jawab sesuai tugas yang di embannya sebagai supir pribadi keluarga Dirwagana.
Sambil menunggu jadwal penerbangan, Raga duduk sambil menyibukkan diri dengan ponselnya. Alih-alih mencoba mengirimkan pesan untuk ibunya.
Karena tidak mendapatkan jawaban, Raga langsung menghubungi nomor kontak ibunya.
__ADS_1
Sampai-sampai bosan sendiri karena tidak mendapatkan tanggapan sama sekali. Berulang kali mencoba untuk menghubungi, tetap saja sama.
Frustrasi, Raga memasukkan benda pipih-nya kedalam tas kecil bawaannya. Sama-sama tidak saling memperhatikan, disebelah Raga ada seseorang yang baru saja duduk.
"Kamu." Tunjuk keduanya satu sama lain dengan serempak.
Raga langsung mengarahkan pandangannya ke lain arah, tidak sudi baginya jika harus bersaing ketat dengan seorang Ozan.
"Kamu mau menyusul istrimu juga?" tanya Ozan dengan santai.
"Ya, kenapa?"
"Tidak apa-apa, aku kira tidak akan menyusul. Maaf, bukan maksudku untuk apa-apa." Jawab Ozan, Raga langsung menoleh padanya dan menatapnya dengan sinis ketika mendengar kalimat terakhir dari Ozan.
"Jangan salah paham dulu, aku tidak ada niatan apapun. Aku pergi juga karena sesuatu hal, pastinya kamu juga tahu sendiri."
Ucap Ozan berusaha untuk menjelaskan, takutnya akan berujung kesalahpahaman antara dirinya dengan tujuannya pergi ke luar negri karena sesuatu hal yang sudah disepakati bersama dengan Tuan Hamas.
"Bilang aja, kalau kamu mau mencari kesempatan untuk mendekati istriku. Cih! tidak punya malu, Leyza istriku sekarang dan untuk selamanya."
"Atas dasar apa kamu ingin mempertahankan dia, bukankah kamu jijik dengan wajahnya. Apakah karena kamu sudah mengetahui kebenarannya, siapa Leyza itu? perempuan yang lebih kaya darimu dan juga karena wajahnya yang kamu lukai itu? lantas, kamu mulai mendekatinya."
Dengan terang-terangan, Ozan mengatakannya langsung tanpa takut ataupun yang lainnya.
__ADS_1
Seketika, emosi Raga semakin memuncak saat mendengar penghinaan dari seseorang yang ada di hadapannya secara langsung, membuatnya ingin melayangkan sebuah tinjuan pada Ozan.
Tatapannya berubah menjadi sengit, otaknya seakan terasa mendidih dan ingin rasanya menghabisinya.