Istri Pilihan Ayah

Istri Pilihan Ayah
Kesengajaan


__ADS_3

"Maaf, aku tidak tahu." Ucap Leyza merasa bersalah, dan langsung memeriksa kening milik suaminya. Takutnya ada yang memar atau yang lainnya.


"Lebay ah, udah lepasin tangan kamu, aku tidak apa-apa."


Jawab Raga sambil menyingkirkan tangan istrinya dan berjalan mundur beberapa langkah, Ley segera masuk kedalam kamar dan menutup pintunya. Takut, jika obrolan antara dirinya dan sang suami dapat didengar oleh yang lainnya.


"Ya ... takutnya kenapa-kenapa dengan kening kamu itu, entar aku lagi yang disalahin kalau terjadi sesuatu denganmu." Kata Ley sambil menatap suaminya, justru Raga tersenyum melihat ekspresi istrinya yang menggemaskan itu.


"Segitunya kah kamu mengkhawatirkan aku?"


"Aku tidak mengkhawatirkan kamu, aku hanya tidak ingin aku yang disalahin, itu aja sih. Kalau khawatir, sepertinya nggak deh. Lagi pula udah besar ini, hanya terbentur pintu aja sih tidak apa-apa, ya 'kan?"


"Hem. Ya in aja kalau gitu. Sudah sana mandi, badan kamu bau asem."


"Ya, ya." Jawab Ley dibuat cemberut, Raga langsung menyambar pipi istrinya dengan ciu*mannya saat hendak keluar dari kamar.


Ley hanya menggeleng saat suaminya telah mencuri kesempatan pada dirinya. Karena tidak ingin semua menunggunya, Ley buru-buru untuk segera mandi.


Raga yang baru aja menuruni anak tangga, wajah sumringahnya dapat ditangkap oleh ibunya.


"Cie ... anak Mama sepertinya sedang bahagia, ada bau-bau apa ini? kelihatan seger, soalnya."


"Mama, apa-apaan sih. Tidak ada apa-apa, hanya lagi senang aja."


"Cie ... dapet yang spesial kek-nya nih... bagi-bagi dong ceritanya." Timpal Rafa ikut meledek teman akrabnya.


"Cih, bagi-bagi. Kamu kira itu, sembako? enak aja main bagi-bagi. Tidak boleh, entar kamu ngiler, bahaya." Jawab Raga, lalu menarik kursi dan ikutan duduk di ruang makan sambil menunggu yang lainnya.


"Justru itu, kalau nggak diceritain, kita bisa ngiler berjamaah." Ucap Rafa yang terus meledek.


"Ada apaan sih, rame banget kedengarannya."

__ADS_1


Timpal Lindan sambil berjalan menuju meja makan.


"Apa kamu tida merasa, ada keanehan dengan Kakak kamu, Lin? lihatlah aura wajahnya, terlihat jelas jika sedang berbahagia." Sahut Rafa sambil menunjuk ke arah Raga.


Lindan langsung menoleh pada sang kakak, dah benar yang dikatakan oleh Rafa tentang aura wajah kakaknya yang terlihat sumringah dan jauh dari kata lesu, apalagi pucat.


"Sudah, sudah, kita sarapan dulu. Waktu kita tidak banyak, karena hari ini kita akan melakukan perjalanan jauh, yang jelas hari ini kita akan pulang." Ucap Bunda Yuna menyudahi obrolannya.


Ozan yang mendengar serta melihat Raga yang terlihat berbeda dan lebih kelihatan bahagia, hatinya kembali terasa sakit.


'Apakah mereka berdua sudah melakukan hubungan layaknya suami istri? ah! kotor sekali pikiranku ini. Apa yang salah pada mereka berdua? jelas-jelas mereka tidak ada larangan apapun untuk melakukannya. Tapi, secepat itukah Leyza luluh oleh Raga? sepertinya tidak mungkin, aku sangat kenal siapa Leyza.' Batin Ozan dengan segala rasa penasarannya.


"Ngomong-ngomong, Kakak Ipar mana? kok tidak kelihatan." Tanya Lindan saat dirinya tidak mendapati kakak iparnya.


"Tadi sedang mandi, mungkin sebentar lagi turun." Sahut Raga selaku suaminya.


"Oh, kirain kemana." Kata Lindan sambil menarik kursinya.


Raga yang melihat istrinya tengah berjalan mendekati, dengan sigap langsung menarik kursi untuk sang istri.


"Terima kasih. Maaf, jika menunggu lama." Ucap Leyza.


"Tidak apa-apa, Nak Leyza. Kita sedang tidak terburu-buru kok, silakan duduk. Kita sarapan pagi terlebih dahulu, baru kita berangkat ke bandara." Jawab Bunda Yuna.


"Ya, Ma."


Setelah itu, satu persatu diantaranya tengah mengambil porsinya masing-masing. Tetapi tidak untuk Raga, sang istri lah yang melayaninya. Sedangkan Ozan hanya bisa memperhatikan dengan menyimpan rasa cemburunya.


"Jadi, kita beneran mau pulang nih?" tanya Lindan disela-sela yang lain tengah sibuk dengan sarapan paginya.


"Harus ngomong berapa kali sama kamu sih, Lin. Perasaan dari kemarin sudah Mama beri tahu, kalau kita pulangnya tuh hari ini." Sahut Bunda Yuna memberi jawaban.

__ADS_1


"Kirain aja mau tambah jangka panjangnya, gitu. Ya ... siapa tahu aja, Kakak ipar mau berbulan madu sekalian. Mana tahu, entar anaknya kek bule gitu." Ucap Lindan sambil meledek sepasang suami-istri yang terlihat memancarkan aura yang berbeda dengan waktu sebelumnya.


Raga dan Leyza saling menatap satu sama lain.


"Yes! aku berhasil." Teriak Lindan, dan tak lupa melirik ke arah kakak iparnya maupun kakaknya sendiri secara bergantian sambil mengedipkan matanya dengan genit.


"Lindan, diam, kamu. Habiskan dulu makananmu, baru bicara." Ucap ibunya sambil memberi kode pada putranya untuk tidak membuat gaduh.


"Ya, Ma, ya." Jawab Lindan dan melanjutkan sarapannya.


Tidak ingin terlambat menuju bandara, dengan gesit, semua fokus untuk menikmati sarapan paginya masing-masing. Bahkan, diantara semuanya tidak ada yang membuka suara, termasuk Lindan maupun Rafa yang suka membuat suasana menjadi rame.


Berbeda dengan Ozan dan Raga, keduanya sama halnya mempunyai sikap dingin.


Beberapa menit kemudian, satu persatu telah menghabiskan sarapannya dan tidak tersisa. Sesudah itu, dilanjut untuk bersiap-siap bagi yang sudah selesai sarapan.


Kini, tinggal Raga Ley yang masih berada di ruang makan. Lagi-lagi dengan kelalaian Leyza, ia sampai lupa ada yang tersisa di sudut bibirnya.


"Diam sebentar, ada yang tertinggal di sudut bibirmu." Ucap Raga, dan mengambil sesuatu yang yang tertinggal di sudut bibirnya.


Kemudian, Raga menunjukkannya pada istrinya. Saat itu juga, Raga langsung menc*ium bibir milik istrinya dengan sangat lembut, Ley tercengang dan hanya bisa menerimanya. Raga melakukannya saat mengetahui Ozan selintas telah lewat dengan jarak yang tidak begitu jauh dari pandangannya.


Tentu saja, Ozan dapat menangkap apa yang dilihatnya. Begitu sangat jelas ketika menc*ium bibir milik istrinya dengan penuh naf*su.


Cemburu, itu sudah pasti. Tapi, apalah daya seorang Ozan yang hanya bisa menahan rasa cemburunya.


Takut ada yang melihat dan membuat malu sendiri, Ley berusaha untuk melepaskan apa yang sudah dilakukan oleh suaminya di ruang makan.


"Lepaskan, nanti ada yang melihat, bagaimana? ada Mama, Kak Ozan, Lindan, dan juga Rafa." Ucap Ley akhirnya berhasil melepaskan aksi dari suaminya.


"Kenapa mesti malu? kita ini suami istri yang sah, ketahuan dikit juga tidak apa-apa. Lagi pula bukan perselingkuhan, tidak ada yang perlu kamu takutkan."

__ADS_1


"Bukan itu masalahnya, kita harus menjaga jarak selama aku belum memberi keputusan." Jawab Ley yang tidak ingin dirinya semakin tergoda karena ulah suaminya, pikir Leyza yang berusaha untuk berjaga-jaga.


__ADS_2