Istri Pilihan Ayah

Istri Pilihan Ayah
Rasa ingin tahu


__ADS_3

Raga yang mendengar Ozan berpesan untuk tidak menyianyiakan istrinya, sedikit ada kesal, sok tahu dan sok menjadi penasehat, pikir Raga.


Tidak ingin menjadi salah sangkaan, Ozan menyudahi obrolannya dan mengalihkan ke cerita yang lain.


Tidak lama kemudian, seorang pelayan menghampirinya dan keduanya memesan makanan kesukaannya masing-masing.


"Kita makan dulu, obrolannya dilanjutkan nanti." Ucap Ozan sebelum menikmati makan siangnya bersama Raga.


"Yang kamu katakan benar, setidaknya makan siang kita dapat dinikmati terlebih dahulu." Jawab Raga dan membicarakan obrolan mengenai perkembangan kinerjanya masing-masing.


Tidak berselang lama, beberapa pelayan telah datang dengan membawa menu makanan sesuai pesanannya dan disajikan di atas meja. Raga dan Ozan menikmatinya tanpa ada obrolan yang mengganggu makan siangnya hingga habis dan tak tersisa.


Setelah itu, keduanya kembali melanjutkan obrolannya yang sempat putus, lantaran harus menikmati makan siangnya terlebih dahulu.


"Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Raga yang akhirnya memberanikan diri untuk bertanya karena rasa penasarannya.

__ADS_1


"Boleh, silakan jika ingin bertanya." Jawab Ozan disertai anggukan sambil mengelap mulutnya dengan tissue.


"Seberapa dekat, antara kamu dengan istriku?" tanya Raga tanpa canggung dan malu.


Tidak peduli baginya, jika harus dikatai lelaki penuh selidik, setidaknya tidak menjadi bahan pikirannya.


Ozan tersenyum saat mendapati sebuah pertanyaan dari Raga.


"Kenapa kamu tersenyum? oh, pasti ada hubungan yang sangat spesial dalam hidupmu, ya 'kan? jujur saja dan tidak usah berbohong denganku."


Bukannya menjawab, justru Ozan tertawa kecil ketika Raga seperti seorang detektif dadakan.


"Kamu cemburu?" tanya Ozan yang akhirnya menjawab pertanyaan Raga dengan pertanyaan.


"Tentu saja, aku ini suaminya." Jawab Raga dengan percaya dirinya, lagi-lagi Ozan kembali tersenyum dan menahan tawanya saat Raga mengakui jika telah cemburu dengan dirinya.

__ADS_1


'Leyza, lihatlah suami kamu, berani berkata cemburu denganku. Kamu tidak hanya membuatku jatuh cinta, tetapi kamu juga mampu mencairkan hati suami kamu sendiri yang angkuhnya tak tertandingi.' Batin Ozan ketika mendengar Raga berucap dengan kata cemburu.


"Kenapa kamu diam? apakah kamu akan merebutnya dariku?" tanya Raga dengan pertanyaannya yang kedengaran sangat konyol, dan tentunya sangat memalukan.


'Raga, Raga, kamu sangat lucu. Baru saja ditinggal beberapa jam oleh istrimu, hidupmu seakan menjadi seperti orang bucin akut.' Batin Ozan saat mendapati Raga yang benar-benar beda dengan awal bertemu.


"Baiklah jika kamu tidak mau bercerita denganku, aku pamit pulang saja kalau begitu." Ucap Raga yang akhirnya memilih untuk pamit pulang dan bangkit dari posisi duduknya.


"Duduklah, aku akan bercerita denganmu." Kata Ozan menahan Raga agar tidak jadi pulang.


"Kamu pasti berpikir, jika aku akan mengambilnya darimu, bukan?"


"Ya, bisa aja gitu. Secara, kamu dan istriku berteman dekat. Siapa sangka, jika kamu akan merebutnya dariku." Jawab Raga dengan terang-terangan, tidak peduli seberapa malunya.


"Jangan berprasangka buruk terhadapku, aku bukan lelaki seperti itu. Aku tidak akan pernah memaksa seorang perempuan untuk mencintaiku atau untuk menjadi milikku. Kalaupun aku berani melakukannya, Leyza sudah menjadi istriku dari dulu." Ucap Ozan mencoba untuk meyakinkan Raga.

__ADS_1


"Aku tidak bisa yakin seratus persen terhadap kamu, karena ucapan bisa saja berubah." Kata Raga yang masih meragukan pengakuan dari Ozan.


"Terserah kamu saja, yang terpenting aku sudah mengatakannya dengan jujur. Soal tidak percayanya, itu hak kamu." Ucap Ozan.


__ADS_2