Istri Pilihan Ayah

Istri Pilihan Ayah
Merasa malu


__ADS_3

Masih berada di kantor, semua aktif dengan jam kerjanya masing-masing. Tidak ada satupun yang meninggalkan jam kerjanya, termasuk sekretaris baru.


"Jadi penasaran, sebenarnya pemilik perusahaan yang ada di kantor ini, siapa? misterius sekali. Bahkan, yang tertulis namanya kelihatan nama untuk orang yang sudah Tua. Sukandar Dirjan, tua banget namanya." Ucapnya sambil membaca nama pemilik perusahaan yang dimana dirinya bekerja.


Cukup lama berkutat dengan tugasnya, dan akhirnya tiba waktunya untuk istirahat bagi semua karyawan dan sekretaris, maupun staf yang lainnya. Satu persatu tengah memasuki ruang kantin untuk mengambil jatah makan siang.


Sedangkan Leyza yang sedari pagi izin untuk berangkat ke kantor, rupanya ia mampir ke rumah utama dan baru sampai di kantor saat jam makan siang.


Entah kenapa, Leyza lebih memilih untuk masuk ke ruang kantin terlebih dahulu daripada masuk ke ruang kerjanya.


Dengan santai dan ikut duduk bersama karyawan lainnya, Leyza begitu menikmati makan siangnya.


"Maaf, Mbak, karyawan baru ya?" tanya seorang karyawan yang tempat duduknya tidak jauh dari Leyza.


Tentu saja, Leyza tersenyum mendengar pertanyaan dari salah satu karyawannya.


"Ya, saya karyawan baru di kantor ini. Maaf, kalau saya terlambat datang." Jawab Leyza yang berusaha untuk tetap tenang.


"Karyawan baru? kok, Pak Bubud tidak bilang sama karyawan lainnya, ya. kalau boleh tahu, Mbaknya namanya siapa?"


"Leyza," jawab Leyza yang langsung mengulurkan tangannya.


"Mbak Leyza daftar kerja di kantor ini, lewat siapa?" tanyanya lagi.


"Dari Pak Bubud, Mbak." Jawab Leyza dengan polos.


"Oh, pantes. Kalau lewat Pak Bubud, memang mudah diterima dan juga tidak banyak syarat. Contohnya sekretaris baru, tapi sayangnya sombongnya kebangetan." Ucapnya yang langsung membicarakan sekretaris baru.


"Sekretaris baru yang sombong? maksudnya gimana ya? maaf, aku belum maksud dan juga tidak mengerti."


Leyza yang kaget mendengar kata sekretaris yang sombong, seakan dirinya langsung tertarik ingin mendengar pengakuan dari karyawan yang lainnya.

__ADS_1


"Itu, orangnya suka menghina dan juga pamer dengan jabatannya sebagai sekretaris. Tidak itu aja, seakan dirinya pemilik nasib yang paling baik." Jawabnya berterus-terang.


"Ooh, begitu." Kata Leyza sesantai mungkin, meski sangat penasaran dengan sosok sekretaris barunya itu.


"Ya, Mbak. Pokoknya tuh, harus hati-hati jika mau berteman dengan sekretaris baru." Ucapnya, lagi-lagi Leyza tersenyum mendengarnya.


"Ya sudah, ayo kita lanjutkan makan siangnya. Nanti keburu masuk jam kerja loh, kena marah nanti sama pak Bubud." Kata Leyza.


Tidak lama kemudian, datanglah seorang perempuan yang menjadi sekretaris baru. Kemudian, celingukan ke sana ke mari sambil memperhatikan isi ruangan kantin.


"Bu, sini." Panggilnya dari kejauhan.


"Baru aja jadi sekretaris, sombongnya selangit." Celetuk karyawan yang mulai berani.


"Bukan urusan kamu, diam lah. Males banget akunya suruh jalan lewat di depan karyawan, hilang dong harga diriku." Ucapnya cukup keras dan dapat didengar oleh Leyza yang tengah menikmati makan siangnya di tengah-tengah karyawan maupun staf yang lainnya.


Saat itu juga, Leyza menoleh ke sumber suara. Alangkah terkejutnya saat melihat siapa orangnya yang sudah berani menyombongkan diri di kantor miliknya.


Dengan berani, Leyza langsung bangkit dari posisi duduknya dan segera berjalan mendekatinya.


Seketika, tak kalah terkejutnya saat bertemu dengan seseorang yang pernah bertemu. Bahkan, sudah pernah menghinanya. Bukannya berpikir siapa perempuan yang ada di hadapannya, justru tertawa lepas pada Leyza.


Semua karyawan dibuatnya bingung, dan juga kesal saat melihat Karina tengah tertawa.


"Ada yang lucu kah? sampai-sampai kamu tertawa seperti itu." Tanya Leyza sangat santai, bahkan tak terlihat penasaran sedikitpun pada Karina, mantan kekasih suaminya.


"Tentu saja sangat lucu, aku puas melihatmu yang sekarang ini. Rupanya kamu masih diabaikan oleh suami kamu, kasihan sekali nasib kamu." Jawabnya yang terus mengejek, tak lupa dengan tawanya.


"Ya dong, kamu harus puas melihat keadaan aku yang sekarang ini." Ucap Leyza dengan santai.


"Rupanya, kamu rela menjadi karyawan di kantor ini, cuma untuk mendapatkan cinta dari suami kamu. Aku yakin jika Raga tidak bisa jatuh cinta denganmu, perempuan miskin." Kata Karina dengan percaya dirinya.

__ADS_1


"Apa aku tidak salah mendengar? jika aku rela menjadi karyawan di kantor ini hanya demi suamiku? hati-hati kalau bicara. Bisa aja, kamu yang akan malu sendiri." Ucap Leyza, Karina masih tertawa.


"Sudahlah, ngaku aja. Aku yakin dengan perubahan wajahmu itu, kamu rela bekerja untuk membayar pelunasan atas pengobatan wajah kamu yang buruk rupa itu. Lihat dong aku, tetap bisa menjadi sekretaris. Lah kamu, hanya karyawan biasa, bajunya aja tidak ada modis-nya sama sekali."


"Sudah selesai mengejekku? ternyata benar, banyak karyawan yang mengatakan bahwa sekretaris baru di kantor ini sangat sombong, ternyata kamulah orangnya. Aku pastikan, hari ini juga, kamu akan di pecat untuk menjadi sekretaris di kantor ini." Ucap Leyza yang mulai berani memberi penegasan pada sekretarisnya.


Bukannya berpikir dan juga mencerna setiap ucapan dari Leyza, justru Karina masih menyombongkan diri.


"Yang ada tuh, kamu yang akan langsung dipecat di kantor ini." Kata Karina dengan percaya diri, bahwa dirinya tidak akan bisa dipecat, pikirnya.


Karena tidak ingin ada kegaduhan di kantor, salah satu karyawan telah memanggil Pak Bubud untuk melerai perdebatan antara Karina dengan Leyza.


"Ada apa ini?" tanya Pak Bubud yang tidak begitu memperhatikan keberadaan Bosnya.


"Ini Pak Bud, perempuan ini dengan entengnya berkata padaku, bahwa aku bisa di pecat hari ini juga. Satu lagi, perempuan ini bukan perempuan baik-baik, dan seharusnya tidak diterima untuk menjadi karyawan di kantor ini." Jawabnya dengan percaya dirinya untuk mengadu pada Pak Bubud.


Pak Bubud yang sudah mengetahui siapa yang ada di hadapannya itu, langsung memberi salam hormat pada Leyza.


"Maaf, Nona. Rupanya saya salah memilih sekretaris untuk Nona, saya yang akan memecatnya langsung." Ucap Pak Bubud sebelum mendapat komentar dari Bosnya.


Karina sangat terkejut dengan ucapannya Pak Bubud, yang mana tengah memanggil Leyza dengan sebutan Nona.


Sedangkan karyawan yang lainnya masih dibuatnya bingung.


"Perkenalkan, seseorang yang ada dihadapan kamu ini, adalah Bos kita. Pemilik perusahaan dan yang akan memimpin kantor ini, yakni putri semata wayang dari mendiang Sukandar Dirjan."


Kedua bola mata milik Karina langsung membulat dengan sempurna saat mendengar penuturan dari Pak Bubud, termasuk karyawan yang lainnya ikut kaget mendengarnya.


Perempuan yang disangka karyawan baru, dan diajaknya mengobrol bersama, justru Bosnya sendiri.


Malu, itu sudah pasti. Setidaknya tidak bersikap sombong, itu sudah menyelamatkan pekerjaan, pikir semua karyawan yang tengah menyaksikan pengakuan dari Pak Bubud.

__ADS_1


__ADS_2