Istri Pilihan Ayah

Istri Pilihan Ayah
Keputusan yang sudah bulat


__ADS_3

Dilihatnya pintu kamar yang masih terbuka, Tuan Hamas masuk ke kamar putranya.


"Mau sampai kapan, kamu akan terus-terusan seperti itu, Raga? cepat bangun, kita harus berangkat ke kantor."


Raga yang dikagetkan dengan suara sang ayah, langsung menoleh dan bangun dari posisi yang sedang berbaring.


"Aku sedang tidak bersemangat, Pa. Bagaimana kalau pertemuannya besok aja? hari ini aku ingin beristirahat."


"Tidak bisa, dikarenakan besok sudah ada pekerjaan lain untuk kamu." Kata sang ayah.


"Pa, cuma hari ini saja di undur pertemuannya." Pinta Raga memohon, berharap akan mendapatkan belas kasih dari ayahnya.


"Kenapa? apa karena istri kamu tidak ada di rumah? atau ... kamu memikirkan Leyza yang sedang menikmati liburannya bersama Mama dan juga Lindan."


"Aku tidak tahu, Pa. Yang jelas, hari ini aku ingin istirahat, itu saja." Jawabnya beralasan, meski sebenarnya yang dikatakan oleh ayahnya adalah benar.


"Bukankan kamu sendiri yang sudah menolaknya, bahwa istri kamu itu hanya akan membuatmu malu, ya 'kan? jujur saja sama Papa."


"Bukan begitu, Pa."


"Terus, apa?" tanya sang ayah yang ingin mengetahui kejujuran dari putranya.

__ADS_1


"Aku punya salah yang lebih besar dari kata hinaan itu, Pa." Jawab Raga yang akhirnya membuka suara atas kesalahan yang sudah ia perbuat.


"Salah yang lebih besar dari kata hina, maksud kamu?"


"Aku sudah lari dari tanggung jawabku, Pa."


"Tanggung jawab apa lagi, Raga? kamu sendiri baru saja menikah. Lalu, tanggung jawab yang bagaimana? oooh, istri kamu yang pergi tanpa ada suami di dekatnya? begitu ya."


"Bukan, bukan itu."


"Terus, apa?"


"Aku yang sudah membuat wajahnya terluka, Pa." Jawab Raga dengan segala kejujurannya.


"Kenapa kamu baru menyadarinya, Raga? kemana saja selama ini?"


"Papa kan, tahu sendiri. Dulu aku lelaki culun yang tidak bisa apa-apa, bahkan untuk jadi bahan ejekan, tentu saja aku lari dari kesalahanku dan memilih untuk pindah sekolah." Jawab Raga yang mulai bercerita tentang masa lalunya.


"Makanya, Papa sengaja menikahkan kamu dengan Leyza, putri dari sahabat Papa. Kamu pikir, Papa tidak menyelidiki kasus kamu yang tiba-tiba meminta untuk pindah sekolah."


Alangkah terkejutnya saat mendengar semua penjelasan dari ayahnya tentang masa lalunya.

__ADS_1


"Papa saja bertanggung jawab. Terus, kenapa kamu seakan lupa dengan masa lalu kamu? ha."


"Pa, maafin aku. Janji, aku akan melakukan apa saja, asal Papa tidak memisahkan aku dengan Leyza, Pa. Izinkan aku untuk menyusul Letza, aku akan menemaninya dan meminta maaf dengannya."


"Terlambat, kamu harus siap menanggung segala resikonya. Keputusan tetap keputusan, tidak bisa untuk dirubah."


"Pa, tolong jangan halangi aku untuk menyusul Leyza." Bujuk Raga memohon pada ayahnya. Berharap, permintaannya akan dipenuhi dan dapat menyusul istrinya yang hendak pergi ke luar negri.


"Sudahlah, lebih baik kamu bersiap-siap, Papa tunggu di depan rumah."


Raga yang sama sekali tidak diizinkan untuk menyusul istrinya, hanya bisa pasrah. Tetap saja, Raga tidak ada kata menyerah demi usahanya untuk mendapatkan kata maaf dari perempuan yang sudah dilukai, hati dan juga fisiknya.


Tuan Hamas yang tidak ingin putranya terus merengek bak anak kecil yang meminta mainan, memilih untuk meninggalkan putranya di dalam kamar.


Tidak memakan waktu lama, akhirnya sudah siap untuk berangkat ke kantor bersama sang ayah. Selama perjalanan, Raga hanya melamun sambil bersandar di jendela kaca mobil.


Karena banyaknya melamun selama dalam perjalanan menuju kantor, rupanya sudah sampai.


"Raga, kita sudah sampai, ayo turun." Panggil Tuan Hamas, serta mengajak putri untuk masuk ke kantor.


Sambil berjalan, semua karyawan maupun staf lainnya telah memberi hormat santun dengan Bosnya. Terlihat berbeda dengan Raga, lesu dan juga wajah yang terlihat tidak bersemangat karena tidak lagi memikirkan penampilannya.

__ADS_1


Semua karyawan telah dibuatnya kaget dengan sosok Raga yang biasanya terlihat fresh dan sangat menggoda. Tapi, justru saat ini benar-benar berbeda.


Setelah masuk ke ruangan kerjanya, tak lepas sebagai karyawan untuk membicarakan sosok Bosnya.


__ADS_2